Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Titik Balik Bara

Malam di desa pesisir nelayan itu terasa jauh lebih pekat dan sunyi dibandingkan dengan hiruk-pikuk Kota Senja. Di sebuah beranda rumah panggung kayu sederhana yang menghadap langsung ke arah laut lepas, angin malam menderu kencang, membawa serta aroma garam, deburan ombak yang menghantam karang, dan dingin yang menusuk tulang. Bara duduk bersila di atas kursi bambu tua, menatap cangkir kopi hitam di tangannya yang sudah mendingin tanpa tersentuh sejak satu jam lalu.

Pria berambut agak berantakan itu mengenakan jaket tebal usang. Di bawah temaram cahaya lampu bohlam kuning gantung yang berayun pelan ditiup angin, wajah Bara tampak kuyu, menyisakan garis-garis kelelahan yang teramat sangat. Tiga hari sudah ia meninggalkan bengkel lamanya di kota, menjauh dari ingar-bingar, ancaman korporasi, dan—yang paling utama—menjauh dari Samaira.

Bara mengira keputusannya untuk pergi tanpa pamit adalah cara terbaik melindungi wanita itu. Setelah Samaira melepaskan jabatannya sebagai CEO demi menegakkan kebenaran dan berdiri di sisinya, Bara justru dilanda rasa takut yang melumpuhkan: ketakutan bahwa keberadaannya hanya akan terus menyeret Samaira ke dalam lingkaran bahaya maut yang tidak berkesudahan. Ia berpikir, dengan memutus kontak dan menghilang secara tiba-tiba, Samaira akan kembali ke dunianya yang aman, terhormat, dan jauh dari ancaman pembunuh bayaran PT Cakrawala Samudera.

Namun, sunyinya malam pesisir ini tidak memberikan ketenangan yang ia cari. Sebaliknya, setiap detik yang berlalu justru memperjelas gema suara tangis Samaira di malam-malam sebelumnya, serta senyuman tulus wanita itu saat melepaskan segalanya demi dirinya.

"Kau melamun lagi, Anak Muda," suara serak seorang lelaki paruh baya membuyarkan lamunan Bara.

Pak Marto, seorang nelayan tua pemilik rumah panggung tempat Bara menumpang tinggal sementara, melangkah keluar dari pintu dapur sambil membawa sebuah ceret alumunium berisi air hangat. Ia menuangkan sedikit ke dalam cangkir kosong di dekat Bara, lalu ikut duduk di kursi bambu seberangnya.

"Laut malam ini sedang tidak bersahabat, Pak Tua," ucap Bara lirih, matanya tetap terpaku menatap kegelapan horison laut di kejauhan. "Sama seperti isi kepalaku."

"Laut tidak pernah bermaksud jahat pada nelayan, Bara," balas Pak Marto bijak sambil menyulut sebatang rokok kretek. Asap tipis mengepul di udara malam. "Laut hanya menguji siapa yang benar-benar siap menghadapi ombaknya, dan siapa yang hanya ingin berlayar saat cuaca sedang cerah. Kalau kau terus berlari dari apa yang harus kau hadapi, badai itu tidak akan pernah hilang—ia hanya akan berpindah tempat ke dalam hatimu."

Kata-kata tua itu menghantam telak kesadaran Bara. Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang kasar dan penuh bekas oli. Selama ini ia mengira tindakannya pergi meninggalkan Samaira adalah bentuk pengorbanan yang mulia. Ia merasa dirinya adalah pahlawan yang melindungi sang kekasih dengan cara menyingkir dari jalurnya.

Tetapi, seiring angin malam berhembus semakin dingin, sebuah kesadaran pahit mulai merayap naik dan menghancurkan seluruh logika egois yang ia bangun.

Apakah kepergianku benar-benar melindunginya? Atau aku justru melarikan diri karena takut tidak pantas bersanding dengannya?

Bara teringat tatapan terakhir Samaira di ambang pintu bengkel, binar kebahagiaan murni saat wanita itu melepaskan jabatan tertingginya demi memilih dirinya. Dan di detik itu juga, dada Bara terasa sesak oleh penyesalan yang teramat besar. Ia menyadari sebuah kebenaran yang telak: kepergiannya tanpa sepatah kata pun tidak menyelamatkan Samaira dari rasa sakit; tindakan pengecutnya justru menyayat hati wanita itu jauh lebih dalam daripada ancaman musuh mana pun.

❖ ❖ ❖

Pagi datang tanpa sambutan hangat matahari. Langit di atas desa pesisir tertutup awan mendung berwarna kelabu tebal, memantulkan warna air laut yang tampak kelam dan bergemuruh. Bara berdiri di bibir pantai berpasir hitam, memandang sisa-sisa buih ombak yang menyapu ujung sepatunya. Di dalam saku jaketnya, ponsel miliknya sengaja dimatikan sejak hari pertama ia menyeberang ke pulau kecil ini.

Ia mengeluarkan ponsel itu, menekan tombol daya hingga layar kecilnya menyala terang. Deretan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab langsung membanjiri layar—puluhan panggilan dari nomor Samaira, pesan teks yang bernada cemas, memohon agar ia memberikan kabar walau hanya sepatah kata.

Bara, di mana kau? Jangan tinggalkan aku sendiri setelah semua yang kita lewati... Tolong angkat teleponku.

Pesan teks terakhir tertanggal dua hari lalu, dikirimkan pukul dua dini hari dengan sisa kefrustrasian yang teramat nyata di setiap kata-katanya.

Bara merasakan hantaman keras di dadanya. Tenggorokannya mendadak tercekat. Selama ini, ia terlalu tenggelam dalam rasa rendah diri dan ketakutan bahwa dirinya adalah beban bagi Samaira. Ia lupa bahwa bagi Samaira, keberadaan Bara di sisinya bukan lagi soal status sosial atau keamanan fisik, melainkan rumah tempat jiwa wanita itu berlabuh setelah memberontak melawan dunia korporat yang kejam.

"Kau baru saja menyadari kebodohanmu, Kawan?"

Sebuah suara nyaring terdengar dari arah jalan setapak di tepi pantai. Seorang pria berbadan tegap dengan jaket kulit basah kuyup karena embun pagi melangkah mendekat. Itu adalah Reno, mantan rekan kerja almarhum ayah Bara di kepolisian yang secara diam-diam masih membantu melacak pergerakan mereka.

Bara menoleh cepat, menyembunyikan ponselnya kembali ke dalam saku. "Reno? Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?"

Reno berhenti tepat di hadapan Bara, mengatur napasnya yang sedikit memburu setelah berjalan jauh dari pelabuhan penyeberangan. Ia menatap Bara dengan sorot mata tajam penuh teguran.

"Tidak sulit menemukan seorang mekanik pembuat masalah yang kabur membawa rasa bersalah," jawab Reno dingin. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Kaukira dengan bersembunyi di ujung pulau terpencil ini, masalahmu dengan PT Cakrawala Samudera selesai? Kaukira para pembunuh itu akan berhenti memburumu karena kau meninggalkan Samaira seorang diri di kota?"

Lihat selengkapnya