Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Mengakui Perasaan

Matahari sore di jalur lintas Sumatra membias membentuk garis-garis emas kemerahan yang menembus celah kanopi pohon karet tua di pinggir jalan. Udara beraroma basah sisa hujan kemarin sore masih tertinggal, berpadu dengan aroma bensin RON 92 yang khas dari stasiun pengisian bahan bakar umum tempat Bara bekerja. Pom bensin mini bergaya modern itu tampak lengang menjelang magrib. Hanya ada satu dua kendaraan yang singgah, mengisi bahan bakar setelah beberapa pekan lalu wilayah itu diguncang oleh penangkapan besar-besaran bos sindikat logistik korup, Baskoro Atmodjo.

Bara berdiri di dekat mesin dispenser, mengelap tangannya yang sedikit berminyak menggunakan sehelai kain majun usang. Pikirannya melayang pada perubahan drastis yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini. Kasus sabotase kapal yang merenggut nyawa ayahnya dua belas tahun lalu kini telah resmi dibuka kembali berkat laporan investigasi yang mereka sebarkan. Nama baik sang ayah dipulihkan, dan lembaran kelam masa lalu yang selama ini menghantui hari-harinya perlahan-lahan mulai tersapu bersih oleh angin perubahan.

"Bara, di depan ada mobil masuk. Cek dulu, jangan ngelamun terus kayak orang kehabisan bensin," tegur Pak Darma, pemilik SPBU sekaligus paman angkat Bara yang muncul dari balik pintu kantor kecil sambil membawa secangkir kopi hitam hangat. Wajah lelaki paruh baya itu tampak jauh lebih tenang dan segar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

"Eh, iya, Paman. Ini mau dicek," jawab Bara sambil merapikan topi hitamnya dan melangkah cepat menyambut kendaraan yang baru saja berbelok pelan memasuki area pengisian bahan bakar.

Sebuah sedan hitam keluaran lama dengan cat yang mulai pudar di bagian kap mesin berhenti tepat di samping pulau pompa nomor dua. Mesinnya dimatikan, menyisakan dengung halus kipas radiator sebelum akhirnya benar-benar sunyi. Pintu kemudi terbuka perlahan. Sesosok perempuan berbalut jaket denim usang dengan syal abu-abu melilit di lehernya melangkah turun. Cahaya lampu sorot SPBU yang kekuningan menyorot wajahnya yang tirus, mempertegas garis rahang yang tegas dan sepasang mata tajam yang langsung menatap lurus ke arah mata Bara.

Jantung Bara berdegup sedikit lebih cepat. Itu Samaira. Perempuan yang sama yang beberapa waktu lalu sempat bersitegang dengannya dalam pertengkaran hebat di tempat kerja ini, perempuan yang menjadi pemicu sekaligus penyelamat hidupnya dari belenggu kepedihan masa lalu.

"Sore, Bara," sapa Samaira dengan suara tenang, hampir berbisik, namun terdengar jelas di tengah keheningan senja.

"Sore, Samaira. Tiba-tiba sekali mampir ke sini. Ada urusan di kantor kabupaten atau sekadar melintas?" tanya Bara, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski ada debaran halus yang menggelitik dadanya.

Samaira melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Bara tanpa memedulikan jarak aman profesional. Ia tidak membawa dompet, tidak pula memegang kunci tangki bensin. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, sementara pandangannya menyapu sekeliling area SPBU sebelum kembali menatap mata Bara lekat-lekat dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.

"Aku tidak datang karena urusan kantor atau sekadar melintas, Bara. Kali ini, aku datang untuk memastikan sesuatu yang lain," ucap Samaira dengan intonasi yang lembut namun menusuk kesadaran.

"Memastikan apa lagi? Kasus pelabuhan sudah mulai diselidiki polisi, berkasnya sudah di tangan jurnalis, dan Baskoro sudah mendekam di sel tahanan. Apalagi yang perlu dipastikan?" tangkis Bara, mencoba tersenyum, meski senyumannya terasa kaku di bibirnya.

"Memastikan dirimu," jawab Samaira tegas, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum lavender bercampur udara senja tercium oleh Bara. "Apakah setelah semua badai itu berlalu, kau masih terus bersembunyi di balik status sosialmu, atau kau sudah berani menatap masa depan dengan jujur?"

Bara tertegun. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan. Kalimat itu menghujam tepat di titik terlemah dalam pikirannya—keraguan lama tentang perbedaan latar belakang hidup mereka yang sempat membuatnya merasa tidak layak bersanding dengan perempuan di hadapannya ini.

"Status sosial tidak pernah menjadi ukuran yang benar, Samaira," ucap Bara lirih, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali mendongak menatap lurus mata perempuan itu. "Yang membuatku ragu selama ini bukan statusmu, tapi ketakutanku sendiri bahwa aku tidak cukup kuat untuk melindungimu dari dunia yang kejam."

❖ ❖ ❖

Mereka berdiri berdampingan di dekat pulau pompa nomor dua, di bawah temaram lampu SPBU yang mulai berpendar menerangi malam yang turun. Di kejauhan, deru truk fuso yang melintas di jalan raya utama terdengar seperti ombak monoton yang memecah karang, kontras dengan kesunyian emosional yang menyelimuti percakapan mereka berdua.

"Ketakutan itu wajar, Bara," kata Samaira lembut, jemarinya terulur menyentuh lengan jaket Bara dengan penuh kehangatan. "Tapi hidup dalam ketakutan dan menjadikan status sosial sebagai alasan untuk terus menjaga jarak adalah cara lain untuk menghukum diri sendiri. Aku tidak peduli kau hanya penjaga pompa atau anak seorang inspektur pelabuhan yang gugur; aku peduli pada ketulusan hatimu."

Bara menatap tangan Samaira yang menyentuh lengannya, lalu beralih menatap wajah perempuan itu yang memancarkan ketulusan tanpa syarat. Perasaan hangat yang sudah lama ia pendam membuncah di dalam dadanya, mendesak keluar menembus benteng pertahanan diri yang selama ini ia bangun rapat-rapat.

"Dulu, aku selalu merasa minder, Samaira," aku Bara jujur, suaranya sedikit bergetar. "Kau datang dari keluarga terpandang yang memiliki akses luas, sementara aku dibesarkan di balik bayang-bayang ketakutan dan utang budi kepada Paman Darma. Aku pikir, menyamakan langkah denganmu adalah hal yang mustahil."

Samaira menggelengkan kepalanya perlahan, senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Kita bukan sedang membicarakan kelas sosial atau harta warisan, Bara. Kita sedang membicarakan dua orang anak manusia yang sama-sama kehilangan masa kecilnya di pelabuhan itu. Di hadapan luka masa lalu, kita berdiri di kedudukan yang sama."

Pak Darma yang melihat interaksi serius itu dari balik kaca jendela kantor kecil membuka pintu dan melangkah keluar membawa secangkir kopi. Namun, begitu melihat kedua anak muda itu tengah tenggelam dalam percakapan yang begitu personal, lelaki paruh baya itu mengurungkan niatnya, tersenyum kecil, lalu kembali menutup pintu kantor secara perlahan agar tidak mengganggu momen mereka.

"Pamanmu sudah mengerti, Bara," bisik Samaira menyadari kehadiran Pak Darma sekilas. "Ia tahu bahwa hidupmu tidak seharusnya terhenti di pom bensin ini selamanya. Kau berhak melangkah lebih jauh."

"Tapi ke mana aku harus melangkah?" tanya Bara putus asa namun penasaran. "Seluruh duniaku ada di sini, di jalur lintas Sumatra ini, menjaga mesin pompa dan merawat kenangan paman."

"Melangkah ke masa depan bersama," jawab Samaira tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Keluar dari lingkaran pelarian ini. Kau bisa melanjutkan kuliah, mengembangkan usaha mandiri, atau melakukan apa pun yang selama ini kau kubur karena merasa tidak berhak bermimpi."

Bara terdiam. Napasnya memburu. Tawaran itu terdengar begitu asing sekaligus membebaskan. Selama bertahun-tahun ia memenjarakan dirinya dalam kerangka seorang penjaga pompa yang tidak boleh berharap terlalu tinggi, dan kini Samaira datang membukakan pintu sel penjara mental tersebut lebar-lebar.

"Apakah kau benar-benar bersedia menemaniku memulai semuanya dari awal?" tanya Bara pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin malam yang menggoyang kanopi pohon karet.

"Sejak hari pertama aku datang ke pom bensin ini dengan membawa separuh jangkar perak itu, aku tidak pernah berniat pergi sendirian, Bara," jawab Samaira mantap, menatap lurus ke dalam bola mata Bara tanpa keraguan sedikit pun.

Lihat selengkapnya