Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Perjuangan Bersama

Ruang tamu keluarga Danendra yang luas terasa sesak oleh aura ketegangan yang kental. Samaira duduk tegak di sofa beludru, tangan kanannya mencengkeram erat tangan Bara yang duduk di sampingnya. Di seberang mereka, sang ayah, Pak Danendra, menatap dengan tatapan yang bisa membekukan air.

"Jadi, ini keputusan akhirmu, Samaira?" suara Pak Danendra berat, menggema di dinding yang dipenuhi potret keluarga. "Memilih seorang mekanik bengkel di atas reputasi dan masa depan Danendra Group?"

Samaira menarik napas dalam, memantapkan hatinya. "Ayah, ini bukan soal memilih antara mekanik atau reputasi. Ini tentang memilih orang yang membuat saya merasa utuh. Bara bukan sekadar mekanik; dia adalah orang yang tetap ada saat dunia mencoba meruntuhkan saya."

Bara menimpali dengan suara tenang namun tegas, "Pak, saya mengerti posisi saya. Saya tidak memiliki kekayaan yang sama dengan keluarga Anda, tetapi saya memiliki komitmen untuk mencintai Samaira dengan segala kekurangan dan beban yang harus dia tanggung."

"Cinta tidak membayar utang perusahaan jika saham jatuh karena skandal hubungan ini," sahut sang ibu, Bu Danendra, dengan nada meremehkan. "Orang-orang akan menertawakan kita, Samaira. Mereka akan menyebutmu kehilangan akal sehat karena lebih memilih pria yang berlumur oli daripada seseorang dari kalangan yang setara."

"Saya tidak peduli dengan apa yang mereka katakan," balas Samaira cepat. "Jika setara dalam pandangan sosial berarti kehilangan kebahagiaan, maka saya lebih memilih menjadi orang yang tidak setara menurut standar kalian."

Bara meremas tangan Samaira, memberikan sinyal dukungan. "Saya sadar ini berat. Saya tidak meminta restu Anda hari ini karena saya tahu Anda tidak akan memberikannya. Saya hanya meminta Anda untuk melihat bagaimana kami berjuang bersama, membuktikan bahwa komitmen kami lebih dari sekadar emosi sesaat."

Pak Danendra tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat kering. "Berjuang bersama? Kalian akan segera sadar bahwa realitas kehidupan sosial jauh lebih kejam daripada apa yang kalian bayangkan dalam mimpi romantis itu."

Samaira menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Mungkin saja. Tapi setidaknya, saat kami jatuh nanti, kami jatuh bersama sebagai satu kesatuan. Itu adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada berdiri sendiri di puncak yang sunyi."

❖ ❖ ❖

Keluar dari rumah besar keluarga Danendra, udara malam terasa dingin menyengat kulit. Bara menyalakan mesin motornya, sebuah motor yang ia rakit sendiri, yang sering kali menjadi bahan sindiran di lingkungan kelas atas Samaira.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Bara sambil memakaikan helm ke kepala Samaira.

Samaira tersenyum kecil, meski matanya masih menunjukkan bekas air mata. "Aku baik-baik saja sekarang. Tapi kamu? Mereka memperlakukanmu seolah kamu bukan manusia."

Bara terkekeh, meski ada nada getir di sana. "Gue sudah terbiasa dipandang sebelah mata, Sam. Tapi mendengarnya langsung dari orang tuamu... itu tantangan baru yang menarik."

"Ini baru permulaan, Bara," bisik Samaira saat mereka mulai melaju di jalan raya. "Mereka akan mencoba memutus aksesku ke perusahaan, mungkin juga mencoba menghancurkan reputasimu di bengkel."

"Biarin aja," jawab Bara santai. "Bengkel itu milik gue. Reputasi gue di sana bukan ditentukan oleh harta, tapi oleh hasil kerja tangan gue. Kalau mereka mau menyerang, suruh mereka datang langsung ke bengkel."

"Kita harus lebih kuat dari mereka," kata Samaira dengan nada serius. "Aku akan mulai mengatur ulang aset pribadiku. Aku tidak akan membiarkan mereka menggunakan uang untuk mengendalikan pilihanku."

Bara terdiam sejenak, memikirkan konsekuensi dari langkah drastis itu. "Kamu yakin mau melakukan itu? Itu artinya kamu bisa kehilangan segalanya yang sudah kamu bangun."

"Segalanya yang kubangun jika harus dibayar dengan kehilangan kamu, itu tidak ada artinya, Bara," balas Samaira tanpa ragu sedikit pun.

❖ ❖ ❖

Tekanan mulai datang dari berbagai pihak. Keesokan harinya, Samaira mendapati kantornya dalam keadaan kacau. Beberapa klien besar mulai menarik diri, dipicu oleh rumor yang sengaja disebarkan oleh lingkaran keluarga Danendra tentang hubungan Samaira yang dianggap "tidak profesional".

"Nona, dewan direksi meminta rapat darurat," lapor sekretaris Samaira dengan wajah panik.

Samaira masuk ke ruang rapat dengan kepala tegak. Di sana, wajah-wajah familiar menatapnya dengan skeptis. "Saya tahu alasan Anda memanggil rapat ini," ujar Samaira langsung ke intinya.

"Samaira, kami tidak ingin mencampuri kehidupan pribadimu," ujar seorang direktur senior. "Tetapi, hubunganmu mulai berdampak pada kepercayaan publik terhadap perusahaan. Kami membutuhkan pemimpin yang fokus, bukan seseorang yang sedang... terobsesi dengan kisah asmara."

"Apa yang saya lakukan di luar jam kerja adalah hak saya," sahut Samaira tegas. "Jika Anda meragukan kapasitas saya, silakan periksa laporan laba rugi kuartal ini. Apakah ada penurunan yang signifikan? Atau apakah Anda hanya merasa tidak nyaman karena saya tidak lagi bisa didikte?"

Lihat selengkapnya