JARUM BESI

Muhammad Adli Zulkifli
Chapter #1

PROLOG

​Malam itu Bandung hujan cukup lebat, dinginnya air conditioner di kamar hotel seolah bersekutu dengan cuaca. Suasana itu mendukung lamunan seorang perempuan berambut sebahu yang sedang bersandar pada dipan menghadap jendela dengan gorden yang terbuka lebar, piyama tipisnya menjiplak jelas setiap lekukan demi lekukan tubuh gempalnya, tangannya mencoba merogoh remote AC yang tertimbun selimut tebal. Namun, tatapan kosongnya masih fokus pada satu titik di luar sana.

Tit ... tit …

“Kamu kedinginan, Sayang?” ucap seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kedua tangannya fokus mengucek rambut sejadi-jadinya berharap rambut basahnya cepat kering.

“Di kamar mandi, kan ada dua handuk, bisa dipakai dulu buat nutupin itu!” Tatapannya berubah haluan, kedua bola matanya melotot pada sesuatu yang menggelayut. “Kasihan nanti kedinginan juga.” tambahnya.

“Kalau Si Petrik kedinginan kan tinggal masukin kandang.” lirih laki-laki berbadan tegap itu dengan nada yang menggoda. Perlahan ia berjalan menghampiri perempuan itu sambil menutup gorden. Handuk putih yang ada digenggamannya ia lempar tak tentu arah. Tatapannya tak sedetik pun kabur dari ujung rambut hingga ujung kaki pada perempuan yang sedang menatapnya balik. Laki-laki berkulit sawo matang itu kini telah berdiri di hadapan perempuan yang bersandar pasrah. Suasana berubah intim dan panas seolah ada percikan api yang telah menyulut kapas. Jemari laki-laki yang dihiasi cincin perak pada jari manis tangan kanannya itu seakan bergerak dengan sendirinya, melepas satu persatu kancing piyama bermotif mawar yang perempuan itu kenakan. Lampu tidur kamar membuat bayang-bayang piyama terhempas dengan indahnya.

“Sayang, ada sesuatu yang mau aku omongin.” ucap perempuan itu sambil menahan laju tangan yang mencoba melepas tali bra di punggungnya. Dengan raut wajah kecewa, laki-laki berambut cepak itu berdiri, mengambil dan mengalungkan kembali handuk di pinggangnya.

“Bisa gak? Sekali aja tidak ada obrolan. Biarkan momen tadi mengalir apa adanya,” pintanya memelas. “Sering sekali kamu merusak suasana seperti ini,” tambahnya.

Perempuan berusia 30 tahun itu tertunduk. Sesekali ia mencuri pandang pada tas jinjing kulit berwarna hitam di atas meja, seolah ia tak ingin kehilangan sesuatu. Sedang, laki-laki itu merogoh sesuatu pada saku celananya yang tergantung, tak butuh waktu lama ia mengeluarkan tangannya dengan sebuah handphone yang sudah dalam genggaman. Jemarinya terlihat sibuk menekan-nekan tombol handphone

“Sep, belikan saya nasi goreng ya!” ucap laki-laki itu tegas. Saat hendak mematikan telepon, terdengar samar suara dari speaker handphone.

“Satu atau dua, Pak, nasgornya?”

Laki-laki itu melirik perempuan yang sudah bangun dari duduknya, “Saya gak lapar.” jawaban itu keluar mendahului pertanyaannya.

“Yul …” ucap laki-laki itu lirih, ia menaruh handphone di atas kasur lalu menyandarkan badannya dengan kedua tangan menopang. Tatapannya tajam menyaksikan perempuan itu duduk di kursi meja hias. Lampu kamar yang berwarna kuning cerah seharusnya membuat seisi ruangan terasa hangat.

“Yuli!” Teriakkan kecil itu memecah keheningan. Yuli tak acuh. Ia kemudian meraih tas jinjingnya, membuka resleting tas perlahan, tangannya yang sedikit gemetar itu masuk mencari sesuatu yang tak kunjung ia dapati.

Laki-laki itu beranjak dari sandarannya hendak menghampiri Yuli. Namun, ia terhenti pada langkah kedua beriringan dengan handphone nya yang berdering. Ia tak mengindahkannya. 

“Kamu kenapa sih, Sayang?” Kedua tangannya mendarat mulus pada pundak Yuli. Seketika Yuli terdiam, tapi tangannya masih aktif mencari sesuatu di dalam tasnya.

“Padahal kapan lagi kan, Yul, kita berduaan di Villa jauh dari gangguan orang-orang.” Laki-laki itu menatap Yuli lewat pantulan cermin di depannya.

“Ada yang mau aku omongin, penting.”

“Apa yang lebih penting dari cinta kita berdua?” Laki-laki itu mulai memijat pundak Yuli pelan. Yuli menatap cincin yang ada pada jari manis laki-laki itu. Raut wajahnya berubah kesal.

Tok … Tok … Tok …

“Ini nasgornya saya taruh mana ya, Pak?” teriak Asep dari balik pintu kamar. 

“Ternyata isi perut lebih penting dari cinta,” ucap laki-laki itu menghentikan pijatannya. “Tolong ambilin dong, Sayang!” Yuli beranjak dari duduknya dengan terpaksa, tangan yang sedari tadi mencari sesuatu dalam tas, terlihat tak menghasilkan apa-apa. Cahaya luar merebak masuk ketika pintu sedikit terbuka. Yuli hanya menyodorkan setengah wajahnya di balik pintu.

“Ini, Bu, nasgornya.” Asep menyodorkan sebungkus nasi goreng yang berada dalam kantong plastik bening beserta senyumnya.

“Makasih ya, Sep.” Yuli hanya membalasnya dengan senyum nanggung. Raut wajah Asep seketika berubah keheranan, pasalnya selama ia bekerja menjadi sopir mereka, belum pernah sama sekali ia melihat Yuli tersenyum seperti itu.

Yuli menaruh nasi goreng itu di atas meja tepat di hadapan laki-laki yang memesannya. Tangan lentik Yuli dikecup dengan penuh kelembutan oleh laki-laki itu sebelum sepenuhnya melepas kantong plastik yang ia pegang.

Lihat selengkapnya