Jati Genderuwo

Anggri Saputra
Chapter #5

4

"Bukan ribut Bu, cuma ada komplain aja sama Pak Bardi."

Sundari lelah berdiri, dia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya.

Hal yang sama dilakukan Suwarti.

Ibu dan anak itu kini duduk bersebelahan di tepi ranjang, ingin melanjutkan pembicaraan. Mumpung sedang asyik, kebetulan juga Sundari merasa ide di otaknya lagi membentuk tali simpul berantakan, jadi ya istirahat menulis dulu.

"Ada masalah apa sama Pak Bardi? Apa dia menyuruh Raka mencari lahan parkir lain?" tanya Suwarti.

Karena gang rumah orang tua Sundari itu termasuk kecil, jadi setiap penghuni yang memilki mobil wajib memarkirkan kendaraan di luar gang. Hal ini pun dimanfaatkan para pemilik lahan luas yang berada di tepi jalan raya maupun gang besar.

Bisa aja sih memarkir mobil di pinggir jalan atau menumpang di parkiran toko maupun ruko yang sudah tutup, tapi kemalingan atau kerusakan mobil tanggung sendiri.

Raka yang mempunyai mobil sejak masa pacaran dengan Sundari, harus beradaptasi dengan hal ini, masalah parkir mobil.

Dengan bantuan Sugeng, akhirnya Raka bisa mendapatkan satu tempat parkir di halaman rumah Bardi.

Rumah Bardi tak jauh, tepat di samping mulut gang rumah masa kecil Sundari. Di halaman rumah disediakan tempat parkir untuk sepuluh mobil dengan sistem sewa.

"Masalahnya bukan sama Pak Bardi, tapi sama si Ical," terang Sundari.

"Anak bontot Pak Bardi bikin masalah apa?" Suwarti bertanya cemas.

"Dia kan baru bisa mengendarai mobil. Tapi menurut pengakuannya, dia masih suka kesulitan saat memarkir mobil." Sundari mengambil napas.

"Terus?" desak Suwarti.

"Nah, beberapa kali Ical parkir mobil di depan mobil Bang Raka. Udah begitu rem tangan mobil tak dibikin los, dia parkir dengan rem tangan terpasang. Jadi Bang Raka harus telepon Pak Bardi dulu untuk pindahin mobil."

"Wah, setahu Ibu, Pak Bardi itu kan agak lama jalannya, bukan karena sakit, tapi memang gayanya begitu. Dia pernah bilang ke Bapakmu, gaya jalannya itu gaya jalan orang gedongan, orang kaya!" terang Suwarti.

"Orang kaya opo!" Sundari tertawa. "Tapi ya memang sih, kalau dibanding keluarga kita, Pak Bardi itu kaya ya Bu."

Lihat selengkapnya