"Kenapa pintu pakai dikunci segala? Tak tahu apa orang kebelet mau ke belakang?"
Sundari berdiri melongo menatap Sugeng yang berdiri dalam posisi serba salah.
Hampir Sundari tertawa melihat wajah gelisah Sugeng. Wajah bapaknya yang galak dengan kumis tebal melintang itu, terlihat lucu saat ini.
"Cepat minggir!" Sugeng menyuruh Sundari memberi jalan.
Sundari bergerak cepat, beruntung dia masih lebih cepat dari Sugeng yang menerobos masuk. Terlambat sedetik saja, mereka berdua bisa tabrakan.
Sugeng berlari masuk ke dalam rumah, kamar mandi menjadi tujuannya. Di saat itulah tawa Sundari lepas.
Cara berlari Sugeng terlihat lucu, kaki merapat dengan tangan turun ke bawah menutupi bagian depan tubuh bawahnya.
Suwarti yang melihat cara lari Sugeng, ikut terkena virus Sundari.
Tawa kedua wanita itu meledak mengisi udara di dalam rumah. Hingga Suwarti lebih dulu berhenti tertawa, sebab Sudar masuk ke dalam rumah.
"Apa yang lucu?" tanya Sudar menatap Sundari dan Suwarti bergantian.
Sundari berhenti tertawa, tadi dia sempat melihat ada orang lain di belakang Sugeng. Orang yang ternyata Sudar itu sedang mencantolkan sarang burung di kawat yang terpasang di papan kaso teras.
"Bapak larinya lucu Bang!" seru Sundari.
Sundari tertawa lagi karena masih terbayang cara lari Sugeng.
Tapi apa tawa Sundari akan tetap ada, jika saja dia saat ini berada di sebelah pemilik rumah yang dipilih Raka sebagai rumah baru mereka.
***
"Kang Mamat yakin banget rumah ini mau dijual?"
Mamat si pemilik rumah menatap pria yang dipanggilnya datang.
"Terus maunya gimana Usep? Biarin ini rumah kosong, terus ambruk dan jadi sarang setan?" Mamat mengusap perutnya yang maju ke depan alias buncit.
"Dari dulu rumah ini kan .... " Usep berhenti bicara.
Sudut mata Usep melihat ada bayangan hitam berkelebat.