1
Betul kata orang, Ibukota tidak pernah tidur. Dan malam harinya selalu punya cara sendiri untuk menelan suara hati.
Lampu-lampu liar dari motor yang dimodifikasi memantul di aspal basah, berkilat seperti urat nadi kota yang dipaksa berdetak lebih cepat dari seharusnya. Hujan baru saja berhenti dua puluh menit lalu. Bau bensin bercampur asap rokok dan keringat: aroma yang bagi sebagian orang menjijikkan, namun bagi River, justru terasa seperti rumah. Meski dadanya sedikit sesak ketika menghirup udara terlalu dalam.
Ia berdiri di antara deretan motor, helm sudah di tangan, jaket kulit terbuka sedikit di bagian leher. Angin malam menyapu wajahnya, dingin dan terasa tajam, tapi tidak pernah cukup untuk menembus kepalanya yang selalu penuh.
Di sinilah ia selalu kembali. Setiap kali pikirannya terlalu ramai. Setiap kali bayangan ayahnya dengan perempuan lain muncul tanpa diundang. Setiap kali rumah terasa lebih sunyi dari seharusnya.
Balapan liar bukan sekadar adu cepat. Baginya ini pelarian. Seperti aspirin pahit yang mengobati sakit kepalanya. Seperti oase di tengah padang pasir.
"River!" Suara itu muncul dari belakang. Santai, nyaris malas. River tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
Dia Sammy. Laki-laki itu bersandar pada motornya sendiri, helm masih tergantung di stang, senyum kecil terpahat di bibirnya.
"Jarang banget lo turun langsung," katanya. "Biasanya cuma nonton, terus balik sebelum mulai."
River akhirnya menoleh. "Malam ini gue pengin."
Sammy mengangguk pelan, seolah sudah tahu jawabannya sejak awal. "Katanya lo belum pernah kalah."
River tidak tersenyum. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu. Mitos kecil yang tumbuh dari kemenangan demi kemenangan, dari rumor yang menyebar lebih cepat daripada motor yang ia tunggangi.
"Belum." Jawab River singkat.
Sammy mendekat satu langkah, "berarti malam ini pas."
Kerumunan mulai riuh. Seseorang berteriak memberi aba-aba, sedangkan yang lain sibuk merekam. Taruhan uang berpindah tangan, cepat dan terkesan rakus. Tapi River tidak peduli pada nominal. Ia tidak pernah peduli. Yang ia inginkan cuma satu: isi kepala yang diam.
"Taruhan?" Tanya River akhirnya.
Sammy tersenyum lebih lebar. "Yang menang nentuin di akhir."