2
Alarm ponsel River berdering untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya dimatikan dengan satu sentuhan malas. Cahaya matahari menerobos celah tirai kamarnya, jatuh tepat ke lantai, terlalu terang untuk kepala yang masih berat oleh kurang tidur dan sisa adrenalin semalam.
River duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Rambut hitamnya sedikit bergelombang di ujung, jatuh ke dahi kalau dibiarkan, tapi pagi ini ia terlalu lelah untuk benar-benar merapikannya. Lingkar tipis keabu-abuan menggantung di bawah matanya; bukan sampai terlihat sakit, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia bukan mahasiswa yang tidur delapan jam semalam.
Ia berdiri, meraih kaus putih polos dari gantungan. Tidak ada logo mau pun tulisan, ia selalu memilih hal-hal sederhana yang tidak mengundang perhatian, meskipun tubuhnya sering kali melakukan sebaliknya.
Celana chino hitam, jam tangan kulit cokelat tua, dan sneakers abu-abu yang sudah mulai kehilangan warna aslinya. Di luar, ia menambahkan jaket tipis warna gelap, kemudian melicinkan pakaiannya sebelum benar-benar berangkat ke kampus.
Wajah River bersih tanpa janggut tebal, hanya bayangan tipis di rahang yang tegas. Hidung lurus, bibir sedikit penuh, dan sorot mata yang biasanya tenang; hari ini tampak lebih redup. Tingginya di atas rata-rata, bahu lebar tapi tidak berlebihan. Postur orang yang dulu atlet, tapi sekarang lebih sering memikul beban yang tak terlihat.
Di kampus, udara pagi terasa lebih ringan.
Gedung fakultas komunikasi sudah ramai oleh mahasiswa yang berjalan cepat dengan kopi di tangan dan tas selempang yang tidak benar-benar tertutup. River melangkah masuk ruang kelas presentasi tepat lima menit sebelum giliran kelompoknya.
"Lo hidup?" Bisik salah satu teman sekelompoknya, sambil menyodorkan laptop.