JEDA

Indah Leony Suwarno
Chapter #3

Gazebo

3




River dikenal di fakultasnya sebagai anak yang selalu bawa kamera. Bukan kamera mahal yang disengaja buat pamer, tapi kamera yang sudah penuh bekas sentuhan—catnya sedikit terkelupas, lensanya sering diganti, talinya mulai kusam. Kamera itu seperti perpanjangan tubuhnya.


Di luar kelas, River bekerja sebagai fotografer. Akhir pekan sering habis di gedung pernikahan, gedung tua, atau rumah-rumah dengan lampu kuning yang hangat. Dari sana, ia belajar membaca orang—ekspresi gugup, bahagia, canggung—dan menunggu momen yang tidak bisa diulang. Studio fotonya kecil, tapi rapi. Ada tiga karyawan yang sudah hafal kebiasaan River: diam lama sebelum memotret, lalu tiba-tiba bergerak cepat.


Halaman belakang kampus selalu lebih sunyi di jam-jam tertentu.


River berdiri di bawah bayangan pohon flamboyan, kamera tergantung di lehernya. Ia tidak sedang mencari objek yang besar atau dramatis; ia menyukai hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang. Bayangan daun di bangku semen, sepatu yang tergantung di ujung kaki seseorang, cahaya yang jatuh setengah di wajah.


Lensa kamernya bergerak pelan.


Klik.


Seorang mahasiswa duduk di tangga, membuka laptop sambil menggigit sedotan kopi plastik.


Klik.


Dua orang tertawa terlalu keras di dekat kantin.


Lalu River berhenti.


Di gazebo dekat pohon besar di sisi kanan lapangan basket, seseorang duduk menyamping, kaki dilipat rapi di bangku. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh ke sisi wajahnya. Laptop terbuka di depannya, layar penuh teks dan gambar digital yang belum sepenuhnya jadi. Tangannya bergerak cepat, terlalu fokus untuk menyadari sekeliling.


River tidak langsung mengangkat kamera.


Lihat selengkapnya