JEDA

Indah Leony Suwarno
Chapter #4

Nata Pramudita

4




Nata sebenarnya sudah terbiasa dengan keramaian kampus. Ia hanya memilih untuk tidak ikut terlibat di dalamnya.


Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Nata lebih sering ditemukan di ruang terbuka: gazebo dekat kantin, taman kampus, atau bangku di bawah pohon rindang. Laptopnya hampir selalu terbuka, di sampingnya ada buku catatan tipis penuh coretan kecil dan sketsa digital.


Nata pernah memenangkan Olimpiade Humaniora Internasional di awal masa kuliahnya. Prestasi itu membuat namanya dikenal luas di kampus, wajahnya terpampang di spanduk gerbang utama. Tapi Nata sendiri jarang membicarakannya. Ia lebih nyaman dikenali lewat karyanya sekarang—esai, novel, puisi, ilustrasi digital, dan proyek-proyek kecil yang ia kerjakan secara mandiri.


Gazebo di bawah pohon besar di area Fakultas Ilmu Komunikasi, selalu jadi tempatnya sejak semester awal. Tidak terlalu dekat dengan kantin. Angin biasanya berembus pelan, membawa bau tanah dan dedaunan; membuat kepalanya terasa lebih ringan.


Alasan Nata lebih sering terlihat di FIKOM daripada FIB, karena siomay di kantin FIKOM belum ada yang bisa menandinginya. Juga es kopi di kedai paling ujung, memiliki rasa yang Nata sukai. Tak ada alasan lain.


Hari itu, Nata sedang mengedit ilustrasi digital di layar laptopnya. Sketsa bangunan dengan perspektif setengah surealis, dipenuhi catatan kecil di pinggir kanvas. Sesekali ia berhenti, menyesap es kopi, lalu mengetik ulang kalimat pembuka untuk esai yang belum juga terasa pas.


Ia tahu dirinya sedang diperhatikan.


Sejak beberapa hari terakhir, Nata sering menangkap bayangan seseorang berdiri agak jauh, kamera tergantung di lehernya. Tidak selalu memotret. Kadang hanya berdiri, kadang berjalan pelan, seolah mencari sudut yang tepat—atau mungkin, menunggu sesuatu.


Awalnya Nata mengira itu kebetulan.


Kampus ini memang penuh mahasiswa dengan kamera.

Lihat selengkapnya