5
Di dalam kafe yang hampir tutup; anak-anak FIKOM angkatan River memenuhi ruangan. Mereka sedang membahas konsep farewell, rundown, serta pengisi acara perpisahan yang akan diadakan di halaman Fakultas Ilmu Komunikasi.
Lagu-lagu dari Maroon 5 menggema pelan mengisi latar.
Lampu-lampu digantung rendah, memantulkan cahaya kekuningan ke meja kayu yang sudah dipenuhi gelas kosong dan kertas-kertas berserakan.
Beberapa dari mereka sudah bersandar malas, sebagian lagi masih berdebat soal detail kecil yang rasanya tak pernah selesai.
"Panggung terlalu sempit kalau pakai konsep itu," kata seseorang.
"Kalau lighting-nya digeser ke kiri, bisa," sahut yang lain.
River duduk sedikit terpisah, punggungnya menempel ke sandaran kursi. Jaket tipis hitam masih ia kenakan, meski udara di dalam kafe mulai pengap. Ia mengusap wajahnya pelan, lalu menatap sketsa layout di atas meja.
"Gue bisa urus visual opening," katanya akhirnya. "Tapi rundown harus dikunci minggu ini."
Maya, yang sejak tadi berdiri di dekat bar, mengangguk. Kafe ini milik ayahnya—itu terlihat dari caranya bergerak bebas, sesekali menegur pegawai, sesekali ikut nimbrung diskusi.
"Oke," kata Maya. "Tapi jangan tiba-tiba bawa orang luar tanpa bilang, ya."
Beberapa kepala mengangguk setuju.
River menangkap maksudnya, tapi memilih tidak menanggapi. Ponselnya bergetar di saku celana. Sekali. Dua kali.
Ia melirik layar. Pesan singkat dari Sammy muncul di pop up notifikasi.
[Lo di mana? Gue deket kampus lo.]