JEDA

Indah Leony Suwarno
Chapter #6

Mall

6



Pagi-pagi sekali, Maya menelepon River; berkata ingin ditemani mencari sesuatu untuk ponakannya. Sekalian River ingin street photography.


Lampu-lampu putih memantul di lantai mengilap, suara musik dari toko pakaian bercampur dengan langkah kaki pengunjung yang belum terlalu ramai. River berjalan di sisi Maya, kamera tergantung di lehernya, jemarinya sesekali menyentuh bodi kamera—kebiasaan kecil saat pikirannya tidak sepenuhnya hadir.


"Gue cuma mau cari sepatu," kata Maya. "Abis itu bebas."


River mengangguk. "Santai."


Ia berhenti sejenak, mengangkat kamera, memotret bayangan orang-orang yang bergerak di balik kaca etalase. Refleksi wajahnya sendiri muncul samar di foto—tidak fokus, setengah terpotong.


Klik.


Maya menoleh. "Lo lagi seneng motret pantulan, ya?"


"Lagi kepikiran aja," jawab River singkat.


Mereka masuk ke toko sepatu. Maya sibuk memilih, mencoba beberapa pasang, berdiri di depan cermin.


"Katanya buat ponakan," River mengomentari.


"Sekalian." Jawab Maya, seraya meraih sepatu lain di rak sebelah.


River duduk di bangku kecil, menunduk, menatap layar kameranya tanpa benar-benar melihat hasil foto.


Di kepalanya, taruhan yang telah disepakatinya dengan Sammy terus terlintas. Ia mengusap wajahnya pelan.


"Riv," panggil Maya. "Yang ini gimana?"


River mendongak, memaksakan senyum kecil. "Bagus."


Maya menatapnya sebentar lebih lama. "Lo capek?"


"Kurang tidur."


Maya tidak bertanya lagi.


Mereka keluar toko beberapa menit kemudian, berjalan menyusuri koridor panjang. River kembali mengangkat kamera. Kali ini, ia memotret seorang anak kecil yang berlari mengejar balon, tangannya hampir menjangkau tali itu tapi selalu gagal.


Klik.


Foto itu terasa terlalu dekat dengan perasaannya sendiri.


"Lo mau makan?" Tanya Maya.

Lihat selengkapnya