7
Kantin dekat lapangan basket hampir selalu penuh. Apalagi di jam-jam makan siang.
Meja-meja panjang dari besi, bangku yang catnya mulai mengelupas, dan aroma siomay bercampur gorengan yang tidak pernah benar-benar hilang. River berjalan di samping Yogi, masih membawa kamera, meski lensa sudah tertutup.
Pandangan River langsung tertarik ke satu meja di sudut.
Di sana, Nata dan teman perempuan yang sama dengan yang dia lihat di mall.
Mereka duduk berhadapan, masing-masing dengan piring siomay setengah habis. Di tengah meja ada satu gelas es jeruk dan satu es matcha latte. Nata sedang mengaduk minumannya pelan, mendengarkan temannya bicara.
River memperlambat langkah.
Matanya jatuh ke ransel yang digantung di sandaran kursi Nata. Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk Ai Haibara bergoyang pelan. Di sebelahnya, ransel satunya dihiasi gantungan Zoro dari One Piece.
River tersenyum tanpa sadar.
Bayangan kios karikatur di mall kemarin melintas cepat di kepalanya.
"Penuh, nih," gumam Yogi.
Empat orang yang duduk di meja tepat di depan Nata baru saja berdiri, membawa nampan mereka pergi. Tanpa pikir panjang, River dan Yogi langsung duduk di sana—jarak mereka kini hanya dipisahkan satu meja.
Pesanan mereka belum datang. Maya menyusul membawa tas selempangnya. Ia kemudian duduk di sisi River.
"Gue pesen mie ayam," katanya sambil melirik menu.
River mengangguk singkat.
Beberapa menit berlalu. Nata dan temannya—Feri, menghabiskan suapan terakhir mereka, berdiri dan merapikan meja.
Sebelum benar-benar pergi, Yogi menoleh ke arah Feri. "Eh, bentar."
Feri berhenti. "Kenapa?"
Yogi menunjuk gantungan kunci di ransel Feri. "Lo suka One Piece juga?"