8
Nata datang hampir setiap sore di gazebo bawah pohon Fakultas Ilmu Komunikasi. Setelah kelas, setelah lab, setelah kepala penuh dengan angka, logika, dan target-target kecil yang harus ia kejar. Di sana, ia membuka laptop, menulis, menggambar, lalu menutupnya kembali tanpa merasa bersalah.
Sore itu, ia sebenarnya sedang buntu.
Dokumen novel terbuka, tapi kursor berkedip terlalu lama di satu kalimat. Nata menghela napas, menyandarkan punggung ke bangku gazebo. Ia mengalihkan pandangan ke lapangan basket. Suara bola memantul, sepatu berdecit, teriakan pendek ketika poin gagal diraih, sorak heboh ketika poin berhasil dicetak.
Ia tidak memperhatikan satu orang tertentu, matanya menyapu pemandangan di depan sana.
"Maaf," satu suara memecah lamunannya.
Nata mendongak, seorang laki-laki berdiri di dekat gazebo. Kausnya sedikit basah, rambutnya masih terlihat lembap, ransel tersampir sebelah di bahu.
"Iya?" Mata Nata bergerak mengikuti arah telunjuk laki-laki itu. Ke layar laptopnya.
"Itu... novel?"
Nata mengangguk, "iya."
"Lo nulis?"
"Iya," jawabnya lagi. Nata hampir menambahkan penjelasan, tapi laki-laki itu lebih dulu menginterupsi.
"Kelihatan serius," katanya.
Nata tersenyum kecil." Kadang terlalu serius."
Ia menutup laptop, bukan karena merasa terganggu. Ia memperhatikan bagaimana laki-laki itu berdiri, menjaga jarak. Tidak langsung duduk dan sok akrab.
"Gue River." River mengulurkan tangannya.
Nata senyum tipis. "Nata." Ucapnya, seraya menyambut uluran tangan River.
"Boleh duduk?" Tanya River.
Nata bergeser sedikit, "boleh."
River duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat. "Lo gambar juga?" Tanyanya ketika melihat sketsa digital yang sempat terbuka.
"Sedikit," jawabnya. "Buat bantu visualisasi."
River mengangguk-angguk. "Lo anak FIKOM juga?"