Jeda di Titik Henti

Silentara
Chapter #1

1. Sudut Gelap

Kedunggalar, Ngawi, 2009.

Sepeda ontel tua yang rantainya sering aus jika tidak rutin dilumasi oli itu Rani kayuh dengan sisa tenaga terakhir. Rasa lelah selama sepekan sudah meggelayut manja, menuntut balas barang hanya untuk tidur selama delapan jam—tanpa terpikirkan adonan gorengan.

Andai kata gorengan yang ia titipkan di kantin Bu Karno tidak tersisa, Rani tidak perlu keliling lagi mencari peruntungan dari orang-orang yang ia lewati selama perjalanan pulang.

Tersisa belokan terakhir untuk sampai ke rumah berdinding papan kayu yang ditempatinya selama enam belas tahun ia hidup, Rani mempercepat kayuhan sepedanya.

“Alhamdulillah,” desisnya lega.

Sepeda sudah terparkir di emperan. Pintu rumah masih tertutup rapat, daun jendela juga belum terbuka, persis seperti tadi pagi saat ia berangkat ke sekolah.

Rani melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain ayam tetangga yang seringkali membuang kotoran di halaman.

Setelah memastikan sekali lagi, Rani baru memasukkan kunci ke dalam lubang pintu—yang sialnya, saat itu juga Rani tahu ada orang di dalam.

“Mana setoran hari ini?”

Dalam suasana rumah yang gelap, Rani membuang napas pendek. Ia meraih selembar uang dua puluh ribu dari dalam saku lalu mengangsurkannya ke Suroto.

Tanpa banyak kata, lelaki berkumis dengan rambut gondrong itu langsung keluar setelah menerima uang dari Rani.

“Pakde tidak makan dulu?”

Tidak ada jawaban, tetapi Rani justru merasa lega.

Rani beranjak ke dapur, menuang tumisan daun pepaya yang diberi Bu Sri, lalu menata sisa gorengan di piring. Sambil makan, Rani menulis rincian pendapatan selama sepekan. Ia memisahkan uang modal dagangan serta tabungan dan menaruhnya di tempat paling aman.

“Tahun ini pun masih belum cukup buat beli kulkas,” gumamnya.

Rutinitas berdagang sambil sekolah sudah Rani jalani sejak ia kelas satu SMP. Bukan karena terpaksa, tetapi sebuah keharusan dikarenakan ia yang yatim piatu sejak lahir harus menumpang tinggal di rumah pakdenya yang berprofesi sebagai kepala preman pasar.

Tidak ingin putus sekolah—lantaran Suroto tidak mau membiayai pendidikan Rani, remaja yang sejak kecil sudah terbiasa dengan dapur itu memulai usaha gorengan kecil-kecilan.

Berawal dititipkan di satu kantin sekolah, kini Rani sudah menitipkan dagangannya di empat tempat berbeda. Meski harus mengurangi waktu tidurnya, setidaknya ia tidak perlu kelaparan.

“Rani! Ran!”

“Iya, Bude!” Rani memasukkan catatan belanja ke dalam ransel sebelum menemui Lasmi yang berdiri di ambang pintu.

“Ada apa, njih, Bude?”

Lasmi, pemilik toko kelontong di ujung gang menelisik keadaan rumah Rani.

“Tadi Bude lihat pakdemu di rumah,” jawabnya yang masih melihat ke dalam rumah.

“Iya, Bude. Sudah pergi lagi.”

Lihat selengkapnya