Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #2

Gadis tanpa rumah

Langkah kakiku terasa berat saat melintasi gerbang kedatangan Bandara Internasional Incheon. Angin dingin yang bertiup kencang seketika menerpa wajahku, menusuk hingga ke tulang, membawa aroma yang asing—campuran antara bau aspal basah, logam, dan hawa kota besar yang sibuk. Udara di sini jauh berbeda dengan udara hangat, lembap, dan penuh aroma tanah yang biasa kuhirup di kampung halamanku, Indonesia. Di tanganku, hanya ada satu koper berukuran sedang yang rodanya berbunyi berisik setiap kali bergesekan dengan lantai keramik. Di dalamnya tersimpan seluruh harta bendaku: beberapa helai pakaian sederhana, buku catatan usang, foto orang tuaku yang sudah kusam, serta tekad yang telah kubangun bertahun-tahun lamanya.

Namaku Sabrina. Dua puluh sembilan tahun. Aku berdiri di tanah asing ini dengan tangan kosong dan masa lalu yang kelam, namun membawa satu harapan besar: bertahan hidup dan mengubah nasib.

Aku datang ke Seoul bukan untuk berlibur, bukan pula untuk mengejar kisah romantis indah seperti yang sering ditampilkan dalam drama-drama televisi yang dulu sering kutonton diam-diam di ruang tengah panti asuhan. Aku datang karena aku tidak punya tempat lain untuk pulang. Orang tuaku pergi untuk selamanya saat aku baru berusia sepuluh tahun, meninggalkanku sendirian di dunia yang tiba-tiba terasa begitu luas, dingin, dan menakutkan. Kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa mereka mengubah seluruh jalan hidupku dalam sekejap mata. Sejak hari itu, kata “rumah” bagiku hanyalah sebuah konsep, bukan lagi tempat yang bisa kukunjungi atau kusinggahi kapan saja aku mau.

Selama sembilan belas tahun berikutnya, panti asuhan menjadi satu-satunya tempat berteduhku. Di sana aku tumbuh besar, belajar berjalan dengan kakiku sendiri, belajar bahwa untuk mendapatkan apa pun—mulai dari sepotong roti, selembar buku, hingga kasih sayang—aku harus berjuang dua kali lebih keras dibandingkan anak-anak lain yang beruntung memiliki keluarga utuh. Aku belajar untuk tidak banyak menuntut, tidak banyak bertanya, dan selalu bersyukur atas apa pun yang tersisa.

“Sabrina, ingatlah nak, Tuhan menempatkanmu dalam keadaan seperti ini bukan untuk menyiksamu, tapi untuk menguatkanmu. Suatu hari nanti, ketangguhan itulah yang akan menyelamatkan hidupmu,” begitu kata Ibu Hartati, pengasuh di panti yang menjadi sosok ibu bagiku selama belasan tahun. Wanita itulah yang merawatku saat sakit, menghapus air mataku saat rindu orang tua, dan selalu menanamkan keyakinan bahwa aku juga berhak bermimpi dan menjadi seseorang yang berguna.

Dan kini, mimpi itu membawaku ke sini.

Perjalanan ke Korea Selatan bukanlah keputusan yang diambil sembarangan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menabung setiap rupiah yang kudapat dari pekerjaan paruh waktu—mulai dari membantu tetangga, menjadi pembantu rumah tangga, hingga bekerja di pabrik. Setiap sen yang kukumpulkan kusimpan rapi dalam celengan yang tak pernah kubuka, hingga cukup untuk membeli tiket pesawat dan modal hidup selama beberapa bulan pertama. Selain uang, aku juga belajar keras. Malam-malam panjang kuhabiskan untuk mempelajari bahasa Korea, menyalin huruf dan kosakata berulang kali hingga hafal di luar kepala. Aku tahu, tanpa kemampuan berkomunikasi, aku hanyalah orang bisu yang tak berdaya di negeri orang.

“Semua akan baik-baik saja, Sabrina. Kamu kuat. Kamu sudah melewati hal yang jauh lebih berat dari ini,” bisikku pelan, mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu kencang, seolah hendak melompat keluar dari rongga dada.

Mataku menyapu sekeliling ruang kedatangan yang sangat luas dan ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah yang beragam: ada yang tersenyum bahagia sambil saling berpelukan menyambut sanak saudara yang pulang, ada yang tampak lelah setelah perjalanan jauh, ada yang sibuk menelepon, dan ada pula yang berjalan angkuh seolah dunia ada di genggaman mereka. Di antara lautan manusia yang tak kenal satu sama lain ini, aku merasa begitu kecil, begitu asing, dan benar-benar sendirian. Rasa sepi itu menyesak dadaku, namun aku tahu, aku tidak boleh mundur. Jalan yang kutempuh sudah terlalu jauh untuk berbalik arah.

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa, lalu melangkah menuju pintu keluar. Di luar, angin bertiup lebih kencang, membawa kabut tipis yang menyelimuti pemandangan kota. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi dengan arsitektur modern yang megah, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu membentuk jalur cahaya yang tak berujung, dan kendaraan-kendaraan berwarna mengkilap berlalu-lalang dengan tertib. Seoul tampak begitu sempurna, begitu hidup, dan penuh peluang. Namun di balik kemegahan itu, aku tahu pasti tersimpan ribuan kisah perjuangan, air mata, dan keringat dari orang-orang yang datang dengan harapan yang sama denganku.

Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu hampir satu jam. Duduk di dalam kereta listrik yang hangat dan bersih, aku menempelkan dahi ke kaca jendela, menatap pemandangan yang berganti cepat. Jantungku berdebar tak menentu. Antara rasa takut, cemas, namun juga ada rasa penasaran dan harapan yang samar. “Di kota inilah nasibku akan ditentukan,” gumamku dalam hati. “Entah menjadi pemenang atau kembali dengan tangan kosong, setidaknya aku sudah berani mencoba.”

Sesampainya di stasiun tujuan, aku kembali berjalan kaki menuju sebuah penginapan sederhana yang alamatnya sudah kucatat rapi di buku catatan jauh-jauh hari sebelum berangkat. Sewanya cukup terjangkau, meski ruangannya sangat sempit—hanya cukup untuk sebuah kasur tipis, meja kecil, dan gantungan baju. Lantainya berkeramik dingin, dan jendela kamarku menghadap ke tembok gedung sebelah. Tidak ada pemandangan indah, tidak ada kenyamanan mewah. Namun bagiku, keberadaan atap yang melindungi dari hujan dan angin saja sudah merupakan kemewahan yang luar biasa.

“Terima kasih Tuhan, aku punya tempat untuk istirahat malam ini,” ucapku lirih sambil meletakkan koper di sudut ruangan.

Malam itu, aku duduk di tepi kasur yang empuknya hampir tak terasa, menatap langit-langit yang polos dan agak kusam. Kesunyian yang menyelimuti kamar tiba-tiba terasa begitu bising, membiarkan ingatanku kembali melayang jauh ke masa lalu. Terbayang kembali wajah Ibu Hartati yang keriput namun selalu hangat itu, saat kami berpelukan erat di gerbang panti beberapa hari yang lalu sebelum aku berangkat.

“Sabrina, nak, ingatlah satu hal yang paling penting,” ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar namun lembut mengelus puncak kepalaku. “Rumah bukan hanya sekadar bangunan batu dan kayu, bukan sekadar alamat atau tempat tinggal. Rumah adalah tempat di mana hatimu merasa tenang, tempat di mana kamu merasa diterima dan dicintai apa adanya. Di mana pun kamu berada, selama hatimu merasa damai dan berharga, di situlah rumahmu. Kalau nanti kamu merasa lelah, takut, atau sedih, ingatlah bahwa di sini ada kami yang selalu mendoakanmu. Jangan pernah merasa sendirian, karena doa kami akan selalu menemanimu ke mana pun kakimu melangkah.”

Air mata menetes perlahan membasahi pipiku yang dingin. Rasa rindu yang mendadak datang begitu kuat hingga membuat dadaku terasa sesak dan sulit bernapas. Andai saja aku lahir dari keluarga biasa yang lengkap, andai saja orang tuaku masih ada, mungkin hidupku tidak akan seberat ini. Mungkin aku tidak perlu menyeberangi lautan demi sekadar mencari kesempatan hidup yang layak. Namun, penyesalan tidak akan mengubah takdir. Keadaanlah yang telah membentukku menjadi wanita yang harus selalu berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri, tidak boleh bersandar pada siapa pun.

Aku mengusap kasar air mataku, menguatkan hati. “Cukup menangis, Sabrina. Air matamu nanti akan lebih berharga jika jatuh karena bahagia, bukan karena sedih,” tekadku dalam hati.

Esok paginya, aku bangun jauh sebelum matahari terbit. Jam dinding yang tua dan berderak nyaring baru saja menunjuk angka empat pagi. Suhu udara di dalam kamar terasa membeku, membuatku gemetar saat mengganti pakaian. Aku mengenakan setelan pakaian yang paling rapi, sopan, dan layak yang kumiliki—sebuah kemeja putih polos dan celana kain hitam yang sudah kusetrika licin semalam. Wajahku kubersihkan hingga bersih, rambutku yang panjang kugerai rapi ke belakang, berusaha tampil seprofesional mungkin meski peralatan yang kumiliki sangat terbatas.

Hari ini adalah hari pertamaku melamar pekerjaan.

Sebelum berangkat, aku kembali membuka buku catatan kecilku, memeriksa satu per satu alamat yang sudah kucari informasinya lewat internet di warung telekomunikasi sebelum aku berangkat. Ada banyak alamat toko, restoran, pabrik, dan kantor yang membutuhkan tenaga kerja. Namun ada satu alamat yang paling kusoroti dengan tinta merah tebal: sebuah gedung agensi hiburan besar dan ternama yang berlokasi di kawasan Gangnam.

Dulu, saat masih di Indonesia, aku sering mendengar nama agensi ini disebut-sebut oleh anak-anak panti yang sangat menggemari musik dan drama Korea. Di sana bernaung grup penyanyi legendaris yang sangat populer, yaitu Highlight—dahulu dikenal dengan nama BEAST. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mendalami dunia hiburan, tidak hafal nama lagu atau tanggal lahir mereka, namun aku tahu satu hal: tempat besar seperti itu pasti membutuhkan banyak staf pendukung, dan gajinya pun diperkirakan cukup layak. Itulah yang paling penting bagiku saat ini: penghasilan yang cukup untuk makan dan membayar sewa, serta kesempatan untuk bekerja keras.

Perjalanan menuju Gangnam terasa mendebarkan luar biasa. Jantungku berdegup kencang seolah hendak meledak setiap kali membayangkan apa yang akan terjadi nanti. “Bagaimana kalau mereka menolakku karena aku orang asing?” “Bagaimana kalau bahasaku masih terdengar kaku dan mereka tidak mengerti?” “Bagaimana kalau aku tidak cukup pintar atau tidak cukup cantik untuk diterima?” Berbagai pikiran buruk berputar liar di kepalaku, namun sekuat tenaga kucoba tepis. Aku harus percaya pada kemampuanku. Aku sudah belajar sungguh-sungguh, aku rajin, jujur, dan siap mengerjakan apa saja, seberat apa pun pekerjaannya. Itulah modal utamaku.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam, akhirnya aku sampai di depan gedung tinggi yang menjadi tujuanku. Aku menengadah ke atas, leherku terasa pegal menatap puncak gedung yang seolah menembus awan. Bangunan itu tampak sangat megah dan mewah, seluruh dindingnya terbuat dari kaca tebal yang berkilau terkena sinar matahari pagi yang mulai muncul. Di depan gerbangnya, mobil-mobil mewah melintas dan parkir bergantian. Kesan pertama yang muncul di benakku: tempat ini terlihat sangat eksklusif, jauh berbeda dari dunia kecil dan sederhana yang kutinggali selama ini.

Mengambil napas panjang hingga paru-paruku terasa penuh, aku melangkah masuk melewati pintu kaca putar yang berputar pelan dan senyap. Suasana di dalamnya sangat sejuk, harum, dan tenang. Lantainya mengkilap memantulkan bayangan orang yang lewat, dan dekorasi di setiap sudutnya tampak mahal dan elegan. Rasanya aku seperti masuk ke dunia orang lain, dunia yang selama ini hanya kulihat di televisi.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang wanita muda di meja resepsionis. Wajahnya cantik, riasannya rapi, dan senyumnya sopan namun terasa dingin dan dibuat-buat.

Aku mendekat, berusaha meniru nada bicaranya yang sopan, meski suaraku sedikit bergetar karena gugup. “Selamat pagi, Nona. Nama saya Sabrina. Saya melihat informasi bahwa agensi ini sedang membuka lowongan untuk staf pendukung. Saya ingin melamar posisi itu, jika kesempatannya masih terbuka.”

Wanita itu menatapku dari atas hingga ke bawah dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah sedang menilai kualitas barang dagangan. Tatapan itu membuatku merasa sangat kecil dan malu, menyadari betapa sederhananya penampilanku dibandingkan orang-orang yang ada di sini.

“Oh, lowongan itu memang sudah kami umumkan beberapa hari yang lalu,” jawabnya datar, lalu tangannya bergerak memutar-mutar pulpen di atas meja. “Tapi perlu kamu tahu, pelamarnya sudah sangat banyak, antreannya panjang sekali. Sebagian besar dari mereka adalah warga lokal yang sudah berpengalaman. Kamu orang asing, ya?”

“Benar, saya berasal dari Indonesia,” jawabku tegas meski gugup. “Tapi saya sudah mempelajari bahasa Korea dengan sungguh-sungguh dan saya bisa berkomunikasi dengan cukup lancar. Saya juga orangnya sangat rajin, cepat belajar, tidak pernah mengeluh, dan siap bekerja lembur atau membantu hal apa pun yang diperlukan. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Nona. Tolong berikan saya satu kesempatan saja.”

Aku menyodorkan berkas lamaran yang sudah kusiapkan dengan rapi. Wanita itu menerimanya dengan malas, melirik isinya sekilas lalu mengangguk pelan.

“Baiklah, saya akan sampaikan berkas ini ke bagian SDM. Kamu tunggu saja di kursi tunggu di sana. Tapi saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, ya.”

“Terima kasih banyak, Nona. Terima kasih,” ucapku lega, lalu berjalan menuju deretan kursi empuk di sudut ruangan.

Menunggu rasanya adalah hal yang paling menyiksa. Detik demi detik terasa berjalan sangat lambat, seolah waktu sengaja diperlambat untuk menguji kesabaranku. Setiap kali pintu ruangan di ujung lorong terbuka, jantungku serasa mau copot, berharap suara panggilan itu adalah namaku. Puluhan orang datang dan pergi, ada yang keluar dengan wajah berseri-seri penuh harap, namun jauh lebih banyak yang keluar dengan kepala tertunduk lesu dan mata yang berkaca-kaca. Melihat mereka, harapanku perlahan mulai menciut. “Mungkin aku tidak akan diterima juga,” pikirku pesimis. “Aku orang asing, tidak punya kenalan, tidak punya ijazah tinggi. Siapa yang mau mempekerjakan orang sepertiku di tempat mewah ini?”

Hampir dua jam aku duduk diam, menahan dingin dan kecemasan yang mulai menggerogoti hati, hingga akhirnya seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun muncul dari balik pintu. Penampilannya sangat rapi, mengenakan setelan jas hitam yang terlihat mahal, wajahnya tegas dan serius, seolah tak pernah tersenyum seumur hidupnya. Ia memegang setumpuk berkas di tangannya dan memindai ruangan dengan tajam.

“Sabrina?” panggilnya dengan suara berat.

Aku langsung berdiri tegak secepat kilat. “Ya, saya sendiri, Tuan!”

“Ikuti saya ke ruangan,” ucapnya singkat tanpa basa-basi, lalu berjalan lebih dulu.

Aku mengikuti langkahnya di belakang dengan langkah kecil dan hati-hati, berusaha tidak membuat kesalahan sedikit pun. Kami masuk ke sebuah ruangan kerja yang luas, tertata rapi, dan dipenuhi berkas-berkas serta komputer canggih. Di dinding-dindingnya tergantung banyak sekali foto para artis binaan agensi ini, dan mataku langsung tertuju pada satu foto besar yang dibingkai emas: foto kelima anggota grup Highlight yang tampak gagah, berkarisma, dan bersinar.

Lihat selengkapnya