Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela kamar yang sempit, menyentuh pipiku dengan hangat. Aku terbangun dengan tubuh yang terasa kaku dan pegal di sana-sini, sisa lelah bekerja kemarin ditambah dinginnya udara malam yang menusuk hingga ke tulang. Namun, begitu kesadahanku kembali sepenuhnya, hal pertama yang kurasakan bukanlah rasa sakit, melainkan kehangatan yang aneh namun nyata.
Di samping kasurku, tergantung rapi sebuah jaket tebal berwarna hitam berbahan wol—jaket milik Yong Junhyung. Semalam, aku tertidur sambil memeluknya erat, seolah benda itu adalah satu-satunya perlindungan yang kumiliki di negeri asing ini. Aroma khas yang melekat pada kainnya—campuran aroma kopi yang kuat dan wangi kayu manis yang lembut—masih tercium jelas, mengingatkanku pada kejadian yang rasanya seperti mimpi indah.
“Dia benar-benar orang yang sama yang dikatakan semua orang dingin dan tak tersentuh?” gumamku dalam hati sambil menyentuh permukaan jaket yang halus itu.
Semua orang, mulai dari rekan kerja hingga staf lain, selalu menggambarkan Junhyung sebagai sosok yang tertutup, keras kepala, dan jarang peduli pada orang lain selain dirinya sendiri dan musiknya. Namun apa yang ia lakukan semalam—memberiku jaketnya, mengantar pulang, dan menenangkanku dengan kata-kata yang begitu dalam—jelas bertolak belakang dengan semua cerita itu. Mungkin, pikirku, ia memang terlihat dingin dari luar agar orang lain tidak terlalu dekat, padahal hatinya jauh lebih hangat daripada siapa pun yang kukenal.
Aku melipat jaket itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang memegang benda pusaka yang paling berharga, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik bersih agar tidak kotor. Hari ini aku harus mengembalikannya. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan bekerja lebih keras lagi, membuktikan bahwa kebaikan yang ia berikan semalam tidak sia-sia diberikan pada orang asing sepertiku.
Setelah bersiap secepat kilat, aku berangkat dengan langkah yang jauh lebih ringan dan penuh semangat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Rasanya beban berat yang selama ini menekan dadaku seolah berkurang setengahnya. Ada satu hal yang membuatku merasa berharga: ada orang yang peduli, walau hanya sedikit.
Sesampainya di agensi, aku langsung masuk ke ruang persiapan dan segera memulai tugas rutin. Menyeduh kopi, menyiapkan air hangat, menata makanan ringan, serta mengecek seluruh perlengkapan yang akan dibawa hari ini. Jadwal hari ini cukup padat; mereka akan melakukan rekaman lagu baru dan sekaligus sesi pemotretan untuk sampul album. Suasana di ruangan terasa lebih sibuk dan tegang dari biasanya.
“Selamat pagi, Sabrina,” sapa Yang Yoseob yang masuk pertama kali sambil tersenyum lebar. Wajahnya yang mungil dan ceria selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih hidup.
“Selamat pagi, Yoseob-ssi,” jawabku membungkuk hormat.
Tak lama kemudian, anggota lain berdatangan. Doojoon yang tampak serius memeriksa jadwal, Gikwang yang ceria bercanda dengan Dongwoon, hingga akhirnya sosok yang paling kutunggu-tunggu pun muncul di ambang pintu.
Yong Junhyung masuk dengan langkah santai, mengenakan kemeja longgar berwarna abu-abu dan celana jins. Wajahnya kembali datar seperti biasa, tatapannya lurus ke depan tanpa melihat ke kiri atau ke kanan, persis seperti kesan pertamaku dulu. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi, seolah ia tidak pernah melakukan hal baik apa pun padaku.
Aku memberanikan diri mendekatinya saat ia duduk di sudut ruangan, membuka buku catatan kecilnya dan mulai mencoret-coret sesuatu dengan pensil.
“Junhyung-ssi,” panggilku pelan, suaraku sedikit bergetar karena gugup.
Ia berhenti menulis, lalu menoleh perlahan menatapku. “Ada apa?” tanyanya singkat, nada bicaranya datar dan biasa saja, membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar ingat padaku.
Aku menyodorkan kantong plastik berisi jaket yang sudah kusetrika hingga licin dan rapi. “Ini... jaket kamu yang kamu pinjamkan semalam. Sudah saya bersihkan dan setrika. Terima kasih banyak, kalau tidak ada jaket ini, saya pasti sudah sakit parah kedinginan.”
Junhyung menatap kantong itu sebentar, lalu menatap wajahku. Sedetik kemudian, samar-samar aku melihat ujung bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sangat tipis hingga nyaris tak terlihat.
“Kamu mengembalikannya dalam keadaan lebih rapi daripada saat saya memberikannya,” ucapnya pelan, lalu menerima jaket itu dan meletakkannya di atas meja. “Bagus. Lakukan pekerjaanmu dengan rapi seperti itu juga. Jangan sampai terlambat atau salah langkah hari ini.”
“Siap! Saya akan berusaha sebaik mungkin!” jawabku tegas, hatiku berbunga-bunga mendengar pujian kecil yang terselip di balik perintahnya.
“Baik, semuanya berkumpul!” seru Tuan Park, manajer senior kami, memecah suasana. “Dengar baik-baik, hari ini sangat penting. Rekaman lagu baru harus selesai hari ini, dan pemotretan harus sempurna tanpa kesalahan sedikit pun. Sabrina,” ia menoleh padaku, membuat semua mata tertuju ke arahku. “Karena kamu sudah menunjukkan kerja bagus selama dua hari ini, hari ini kamu ikut masuk ke ruang rekaman dan lokasi pemotretan. Tugasmu: pastikan air minum tersedia setiap saat, bantu rapikan pakaian dan rambut jika perlu, dan pastikan tidak ada barang yang tertinggal. Paham? Ini kesempatan besar, jangan buat kami kecewa.”
Jantungku berdegup kencang karena senang sekaligus takut. Kesempatan ini luar biasa besar. Biasanya, staf baru hanya bertugas di ruang tunggu atau mengurus barang saja. Diizinkan masuk lebih dekat berarti aku dipercaya.
“Paham, Tuan Park! Saya tidak akan mengecewakan!” jawabku lantang.
Sejak saat itu, aku bergerak secepat kilat namun tetap hati-hati. Aku tidak lagi memikirkan tatapan sinis Soo-jin atau Min-ah yang terlihat iri dan cemberut. Fokusku hanya satu: bekerja dengan sempurna.
Di ruang rekaman, suasananya sangat hening dan serius. Musik terdengar mengalun lembut lewat pengeras suara, lalu diikuti suara vokal yang begitu indah dan kuat. Mendengar mereka bernyanyi secara langsung, aku benar-benar terpesona. Suara mereka jauh lebih merdu dan bertenaga dibandingkan yang kudengar di rekaman. Ada rasa emosi yang begitu kuat dalam setiap nada yang mereka keluarkan. Aku bisa melihat keringat menetes di dahi mereka, melihat betapa kerasnya mereka berjuang demi menghasilkan karya yang terbaik.
Khususnya Junhyung. Saat gilirannya menyanyikan bagian rap, seluruh perhatianku tanpa sadar tertuju padanya. Cara ia menatap mikrofon, cara bibirnya bergerak dengan ritme yang cepat namun jelas, serta ekspresi wajahnya yang penuh perasaan—semuanya memancarkan aura yang luar biasa kuat. Ia terlihat begitu hidup, begitu bersemangat, dan begitu berbeda dari sosok pendiam yang sering kulihat. Di sana, di balik musik, ia menemukan dunianya sendiri.
“Jadi inilah alasannya ia begitu dicintai banyak orang,” batiniku kagum. “Ia tidak hanya berbakat, tapi ia mencintai pekerjaannya dengan segenap jiwa dan raga.”
Sesekali aku menyodorkan air minum saat mereka beristirahat, menyeka keringat dengan handuk kecil, atau membantu mengatur posisi berdiri agar pencahayaan pas. Aku melakukan semuanya dengan senyuman tulus, berusaha membuat mereka merasa nyaman.
“Sabrina, tolong ambilkan jaket kulit hitam yang ada di tas besar, ya?” panggil Doojoon saat sesi pemotretan dimulai.