Hari-hari setelah keputusan Tuan Park terasa seperti mimpi yang nyata. Statusku kini bukan lagi sekadar staf pendukung biasa yang bisa diganti kapan saja, melainkan asisten pribadi resmi—dan khususnya, asisten utama yang paling sering mendampingi Yong Junhyung. Kabar ini tentu saja membuatku melonjak kegirangan di dalam hati, namun di sisi lain, beban tanggung jawab yang kupikul terasa semakin berat. Aku sadar betul, posisi ini bukan hadiah cuma-cuma, melainkan amanah besar yang harus kujaga sebaik mungkin.
Pagi itu, aku tiba di agensi lebih awal dari biasanya. Sebelum anggota lain datang, aku sudah menyelesaikan segala persiapan: menyeduh kopi hitam tanpa gula—sesuai selera Junhyung yang baru saja kucatat rapi, menyiapkan air hangat, menata jadwal harian di atas meja, hingga memastikan suhu ruangan pas dan nyaman. Belajar dari pengalaman hari-hari sebelumnya, aku tahu bahwa kesuksesan dalam pekerjaan ini terletak pada detail kecil yang sering diabaikan orang lain.
“Semangat, Sabrina. Kamu bisa,” gumamku pelan sambil merapikan lipatan seragam kerjaku.
Tak lama kemudian, pintu ruang persiapan terbuka. Yoon Doojoon masuk lebih dulu, diikuti oleh Yang Yoseob dan Lee Gikwang yang sedang bercanda riang. Suasana hangat dan akrab langsung terasa memenuhi ruangan. Mereka menyapaku dengan ramah, bahkan Yoseob sempat melambaikan tangan cerah padaku.
“Wah, Sabrina sekarang jadi asisten resmi ya? Selamat! Kamu memang orang yang paling rajin di sini,” ucap Yoseob sambil tersenyum lebar.
“Terima kasih, Yoseob-ssi. Saya akan berusaha bekerja lebih baik lagi,” jawabku dengan membungkuk hormat, pipiku sedikit memerah karena dipuji langsung oleh idola yang disukai jutaan orang.
“Benar kata Yoseob,” sahut Doojoon dengan nada tenang dan bijaksana. “Junhyung jarang sekali memuji atau merasa puas dengan kinerja orang lain. Kalau sampai dia yang meminta agar kamu jadi pendamping utamanya, berarti kamu istimewa baginya. Jangan kecewakan kepercayaan itu.”
Kata-kata Doojoon membuat dadaku terasa hangat sekaligus penuh tekanan. Jadi benar, Junhyung lah yang menjadi alasan utama aku mendapatkan posisi ini. Rasa terima kasih yang mendalam muncul dalam hati, namun rasa cemas juga ikut merayap. “Apa aku benar-benar pantas dipercaya sebanyak itu olehnya?”
Pembicaraan kami terhenti saat sosok yang kami tunggu-tunggu akhirnya muncul di ambang pintu. Yong Junhyung masuk dengan langkah tenang, mengenakan kemeja sederhana berwarna biru dongker dan celana panjang hitam yang membuatnya tampak semakin tinggi dan tegap. Wajahnya seperti biasa datar, tidak banyak ekspresi, namun matanya yang tajam langsung menatap ke arahku sekilas sebelum ia duduk di kursi favoritnya di sudut ruangan.
Aku segera berjalan mendekat, membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
“Selamat pagi, Junhyung-ssi. Ini kopi hitam tanpa gula seperti yang kamu suka,” ucapku pelan sambil menyodorkan cangkir itu dengan hati-hati.
Junhyung menerimanya, menyesap sedikit, lalu menatapku lekat-lekat. “Kamu sudah hafal seleraku dengan cepat. Bagus,” ucapnya singkat, namun nada suaranya terdengar puas. “Mulai hari ini, ke mana pun aku pergi untuk urusan pribadi atau jadwal khusus, kamu ikut. Kamu harus tahu segalanya: siapa yang kutemui, ke mana arah tujuanku, apa yang kubutuhkan. Kamu adalah bayanganku. Mengerti?”
“Mengerti sepenuhnya, Junhyung-ssi. Aku akan selalu ada di dekatmu, siap membantu apa pun yang diperlukan,” jawabku tegas.
“Bagus. Sekarang siapkan barang-barang. Hari ini kita ada jadwal syuting acara varietas di pinggiran kota, lalu lanjut ke sesi wawancara hingga malam. Perjalanannya lumayan jauh, jadi pastikan semua perlengkapan sudah lengkap agar tidak perlu berhenti di tengah jalan.”
“Siap!”
Aku bergerak sigap. Memeriksa satu per satu barang yang harus dibawa: baju ganti, perlengkapan mandi, obat-obatan ringan, makanan ringan, air minum, hingga buku catatan dan pulpen kesukaan Junhyung yang tidak pernah lepas dari tangannya. Semua kumasukkan ke dalam tas khusus dengan rapi dan teratur.
Di tengah kesibukanku, aku bisa merasakan pandangan tajam dari dua staf lain—Soo-jin dan Min-ah. Sejak pengangkatanku menjadi asisten pribadi, sikap mereka berubah. Tidak lagi ada sapaan ramah atau obrolan ringan. Setiap kali kami berpapasan, mereka hanya menatapku dengan sinis dan bisikan-bisikan kecil yang pasti isinya tidak enak didengar.
“Dasar orang asing, untung-untungan saja dia bisa naik pangkat.”
“Cih, pasti dia pakai cara licik supaya disukai Junhyung-ssi. Tidak usah sok rajin.”
Kalimat-kalimat itu samar-samar terdengar masuk ke telingaku. Rasa sakit dan ingin menangis tentu ada, namun aku segera mengingat kata-kata Junhyung: “Jangan memohon belas kasihan. Tunjukkan dengan kerja keras.” Aku menguatkan hati, pura-pura tidak mendengar, dan terus bekerja sebaik mungkin. Biarlah mereka berkata apa saja, waktu yang akan membuktikan siapa yang benar.
Perjalanan menuju lokasi syuting memakan waktu hampir dua jam. Di dalam mobil, suasana hening menyelimuti. Anggota lain sedang tertidur karena semalam mereka baru pulang larut dari latihan. Hanya aku dan Junhyung yang masih terjaga. Ia duduk bersandar di kursi, menatap pemandangan jalan raya yang berlalu-lalang lewat jendela kaca, wajahnya tampak lelah namun pikirannya seolah melayang ke tempat yang jauh.
“Junhyung-ssi,” panggilku pelan, takut mengganggu. “Kamu belum tidur semalam?”
Ia menoleh sedikit, menatapku sekilas. “Sedikit saja. Sedang menyelesaikan aransemen lagu baru. Kalau ide sudah datang, sulit rasanya untuk berhenti.”
“Kamu bekerja terlalu keras. Kalau sakit, siapa yang akan menciptakan lagu-lagu indah itu?” ucapku lirih, tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.