Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #5

Yong Junhyung; si misterius yang peduli

Hari-hariku berlalu dengan ritme yang sama: bangun sebelum matahari terbit, bekerja sekuat tenaga, dan pulang saat langit sudah sepenuhnya gelap. Tiga bulan masa percobaan telah berlalu, dan syukurlah, kinerjaku dinilai memuaskan. Aku resmi diangkat menjadi staf tetap, bahkan perlahan mulai diberi tanggung jawab lebih besar hingga akhirnya dipercaya menjadi asisten pribadi tim Highlight. Kenaikan posisi ini membuat beban kerjaku semakin berat, namun gajiku pun ikut naik. Itu menjadi penyemangat terbesar bagiku. Setiap kali rasa lelah itu mendera hebat, aku hanya perlu mengingat tujuanku: bertahan, menabung, dan suatu hari memiliki sesuatu yang benar-benar milikku sendiri.

Selama bekerja di sana, aku semakin mengenal karakter kelima anggota grup ini. Yoon Doojoon yang tenang dan tegas, sering menjadi tempat kami para staf bertanya jika ada masalah rumit. Yang Yoseob dengan tawanya yang ceria, selalu berhasil mencairkan suasana tegang. Lee Gikwang yang energik dan ramah, tak segan membantu mengangkat barang berat jika melihatku kesulitan. Son Dongwoon yang cerdas dan dewasa, sering memberikan pandangan yang bijak meski usianya termuda.

Namun, sosok yang paling menarik perhatianku—dan sekaligus yang paling sulit dipahami—tetaplah Yong Junhyung.

Di mata publik, ia dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu yang jenius, lirik-lirik ciptaannya selalu dalam dan penuh makna. Tapi di dunia nyata, di balik layar, sosok Junhyung jauh lebih tertutup, pendiam, dan sering kali terlihat dingin. Ia jarang tersenyum, lebih suka menyendiri, dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis atau mendengarkan musik daripada mengobrol santai. Rekan-rekan kerjaku sering berbisik bahwa Junhyung adalah anggota yang paling sulit dilayani, teliti, dan perfeksionis. Mereka menyarankan agar aku berhati-hati, jangan sampai melakukan kesalahan sedikit pun di hadapannya.

Namun, kejadian malam hujan itu terus terngiang di ingatanku. Pria yang memberikan jaketnya, yang menolongku saat aku terjatuh, dan yang memberikan nasihat berharga itu—ia tidaklah sedingin yang orang lain kira. Ada sisi lain dari dirinya yang tersembunyi, yang hanya muncul saat tidak ada orang lain yang melihat.

Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa perhatian diam-diam itu tidak berhenti hanya pada kejadian itu saja.

Suatu siang yang terik, jadwal mereka sangat padat. Mulai dari syuting acara varietas, rekaman lagu baru, hingga wawancara majalah. Kami semua bergerak cepat, tidak ada waktu untuk istirahat yang layak. Aku sibuk membagikan air mineral, handuk, dan memastikan jadwal berjalan tepat waktu. Keringat membasahi pelipis, tenggorokanku terasa kering, tapi aku tak sempat memikirkan diriku sendiri. Fokusku hanya satu: memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.

Saat jeda istirahat singkat tiba, aku duduk sejenak di sudut ruang tunggu, menyandarkan punggung di dinding sambil menghela napas panjang. Rasanya tenagaku seolah tersedot habis. Tanpa kusadari, mataku terpejam sejenak, hanya untuk mengistirahatkan penglihatan yang lelah.

"Kamu belum makan?"

Suara berat yang kukenal itu tiba-tiba terdengar tepat di hadapanku. Aku tersentak kaget dan langsung membuka mata. Di sana, berdiri Yong Junhyung sambil menatapku dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan—bukan marah, tapi juga tidak tersenyum.

Aku buru-buru berdiri tegak, membersihkan pakaianku yang sedikit kusut. "M-maaf, Junhyung-ssi! Saya tidak tertidur, cuma istirahat sebentar saja. Kalau ada yang dibutuhkan, saya segera siapkan."

Junhyung menggeleng pelan, lalu menyodorkan sesuatu ke arahku. Sebuah kotak makanan ringan dan sebotol susu hangat.

"Makan dulu," ucapnya singkat. "Wajahmu pucat sekali. Kalau kamu jatuh pingsan nanti, yang repot kami juga."

Aku menatap bingung pada makanan yang ada di tangannya. "Tapi... ini kan bekal kamu, Junhyung-ssi? Saya masih bisa menahan diri, nanti kalau sudah selesai baru saya cari makan."

"Sudah kubilang ambil saja," potongnya tegas, namun nadanya tidak kasar. "Aku masih kenyang. Jangan menolak, ini perintah."

Lihat selengkapnya