Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #6

Keringat dan kepercayaan

Hubungan yang semakin dekat antara aku dan Junhyung ternyata tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitarku. Meski ia selalu berusaha bersikap biasa saja di hadapan anggota lain maupun staf lainnya, mata Yoon Doojoon, Yang Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon terlalu tajam untuk tidak menyadari perubahan itu. Mereka yang sudah bertahun-tahun hidup bersama dan saling mengenal jauh lebih baik daripada saudara kandung, tentu tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam cara Junhyung memandang dan memperlakukanku.

Suatu sore, saat jadwal latihan sudah selesai dan sebagian besar staf sudah pulang, aku sedang sibuk membereskan peralatan musik dan memastikan ruangan dalam keadaan rapi. Anggota Highlight masih duduk-duduk santai di pojok ruangan sambil beristirahat dan mengobrol ringan.

"Sabrina," panggil Doojoon lembut.

Aku segera menghampiri mereka sambil membersihkan tangan di kain lap. "Ada yang bisa dibantu, Doojoon-ssi?"

Doojoon tersenyum tipis, lalu menatapku bergantian dengan anggota lainnya. "Kamu tahu kan, kami semua sudah menganggapmu bukan lagi sekadar staf atau karyawan? Selama ini kamu bekerja sangat keras, lebih dari apa yang seharusnya dilakukan seorang asisten. Kamu selalu ada saat kami butuh, bahkan saat kami sedang lelah, marah, atau sedih sekalipun."

Yoseob langsung menyahut dengan nada cerianya, "Betul sekali! Kamu itu seperti adik perempuan kami sendiri, Sabrina. Rajin, sabar, dan hatinya tulus sekali. Jarang ada orang yang bisa bertahan sekuat kamu di lingkungan kerja seberat ini."

Wajahku memerah mendengar pujian itu. "Terima kasih banyak. Kalian semua juga sudah sangat baik padaku. Tanpa dukungan dan kesabaran kalian, aku pasti sudah menyerah sejak lama. Bagi saya, kalian bukan sekadar atasan, tapi keluarga yang saya miliki di sini."

"Keluarga..." gumam Dongwoon pelan sambil menatap Junhyung yang duduk sedikit terpisah sambil memainkan ponselnya, seolah tidak mendengar pembicaraan kami. "Kalau begitu, sebagai keluarga, kami ingin bilang sesuatu padamu. Tentang Junhyung."

Napasku tertahan sejenak. Jantungku berdegup kencang.

"Junhyung memang terlihat dingin, keras kepala, dan sulit didekati oleh orang luar," ucap Gikwang serius. "Dia jarang membiarkan orang masuk ke dalam dunianya. Dia selalu menutup diri karena takut disalahpahami atau terlalu dekat lalu terluka. Tapi, Sabrina..." Gikwang menatapku lekat-lekat. "Sejak kamu datang, kami melihat perubahan kecil padanya. Dia lebih banyak bicara, lebih sering tersenyum, dan yang paling penting—dia mulai mau membagi apa yang ada di pikirannya. Hal itu tidak pernah dia lakukan pada siapa pun sebelumnya."

"Junhyung mempercayaimu lebih dari siapa pun," tambah Doojoon tegas. "Kepercayaan itu mahal baginya. Dia tidak memberikannya sembarangan. Jadi, tolong jaga itu baik-baik. Dan tolong, tetaplah ada di dekatnya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa memahaminya tanpa banyak bicara, seperti dirimu."

Air mata haru mendadak menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak menyangka kalau perasaanku yang selama ini kusimpan rapat-rapat, serta hubungan diam-diam yang terjalin, justru menjadi hal yang disyukuri dan didukung oleh orang-orang terdekat Junhyung.

"Saya berjanji," ucapku dengan suara bergetar namun tegas. "Saya akan selalu ada, selama saya masih bisa berdiri di sini. Saya akan menjaga kepercayaan itu sebaik mungkin."

Di sudut ruangan itu, aku menangkap pandangan Junhyung yang menoleh sekilas. Matanya bertemu denganku, dan kali ini, tidak ada lagi kesan dingin atau tembok pemisah di sana. Hanya ada tatapan lembut yang seolah berkata: Terima kasih, karena sudah bertahan dan memahamiku.

Hari-hari terus berjalan, dan beban kerja pun semakin menumpuk menjelang rilis album baru mereka. Jadwal padat, kurang tidur, dan tekanan untuk memberikan penampilan terbaik membuat suasana menjadi sangat tegang. Kadang aku melihat mereka lelah luar biasa, hingga nyaris kehabisan tenaga, namun mereka tetap berusaha tersenyum di depan kamera dan penggemar.

Lihat selengkapnya