Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #7

Lebih dari sekedar atasan dan bawahan

Waktu berlalu secepat kilat, seolah hanya dalam sekejap mata, sudah hampir dua tahun aku bekerja bersama Highlight. Dua tahun yang penuh warna, penuh keringat, tawa, dan juga air mata. Selama masa itu, posisiku semakin kokoh, bukan hanya sebagai staf atau asisten, melainkan bagian tak terpisahkan dari keluarga kecil mereka. Aku hafal betul kebiasaan masing-masing anggota, tahu kapan mereka sedang lelah, sedang marah, atau sedang butuh teman bicara. Dan sebaliknya, mereka pun sudah menganggapku lebih dari sekadar karyawan.

Hubunganku dengan Yong Junhyung pun tumbuh menjadi sesuatu yang sangat istimewa dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kami tidak pernah secara terang-terangan mengungkapkan perasaan cinta, tidak pernah saling menyatakan janji manis, namun ikatan yang terjalin di antara kami jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata. Kami saling mengerti hanya dengan tatapan mata, saling menguatkan hanya dengan kehadiran, dan saling melindungi tanpa perlu diminta.

Di depan orang banyak, di depan staf lain maupun penggemar, kami tetap bersikap profesional. Ia tetaplah Yong Junhyung, bintang papan atas yang berwibawa, dan aku tetaplah Sabrina, asisten yang bekerja dengan tekun. Namun saat kami berdua saja, suasana berubah menjadi hangat dan akrab. Dinding dingin yang selalu ia bangun di hadapan dunia runtuh seketika saat bersamaku. Ia menjadi sosok yang lembut, terbuka, dan sering kali bahkan terlihat manja—sesuatu yang tak akan pernah dipercaya oleh siapa pun jika melihatnya.

Suatu sore, setelah jadwal wawancara panjang yang melelahkan, kami kembali ke mobil. Anggota lain sudah pulang lebih dulu karena ada urusan masing-masing, meninggalkan aku dan Junhyung yang masih harus kembali ke agensi untuk mengambil berkas tertinggal. Di dalam mobil yang hening, ia duduk bersandar lemas di kursi belakang, matanya terpejam rapat menahan rasa lelah.

"Kamu sudah makan siang yang benar, Sabrina?" tanyanya tiba-tiba, mata masih terpejam, suaranya serak namun lembut.

Aku tersenyum tipis sambil membereskan catatan kecil di tanganku. "Sudah, Junhyung-ssi. Jangan khawatir, saya sudah makan kenyang tadi. Kamu sendiri? Kamu belum sempat makan apa pun sejak pagi."

Junhyung membuka matanya perlahan, menoleh menatapku. Ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya. "Kalau kamu sudah makan, berarti aku juga kenyang."

Wajahku seketika memerah mendengar ucapan itu. Selalu saja seperti ini, ia bisa membuat jantungku berdegup kencang hanya dengan kalimat sederhana yang diucapkan seenaknya namun terasa begitu dalam.

"Jangan bercanda," ucapku pelan, berusaha menyembunyikan rasa maluku. "Nanti sakit lagi kalau begini caranya."

Ia tertawa kecil, lalu menggeser posisi duduknya hingga lebih dekat denganku. Jarak kami menjadi sangat dekat, hingga aku bisa mencium aroma wangi khas parfum yang selalu ia pakai—aroma yang sudah sangat kukenal dan membuatku merasa aman.

"Aku serius," ucapnya, nadanya berubah menjadi lebih serius dan rendah. "Sabrina, kamu tahu kan? Selama ini, satu-satunya hal yang membuatku kuat bertahan di tengah jadwal yang gila dan tekanan yang berat ini... adalah kamu."

Napasku tertahan. Aku menatapnya lekat-lekat, tak percaya mendengar pengakuan itu.

"Setiap kali aku lelah, setiap kali aku merasa ingin menyerah karena semua terasa berat dan hampa, aku hanya perlu melihat kamu yang berjalan di depan dengan semangat yang tak pernah padam. Kamu yang kecil, lemah, tapi jauh lebih kuat daripada siapa pun yang aku kenal. Melihatmu berjuang, membuatku malu jika aku mengeluh. Melihatmu tersenyum, membuat semua rasa sakit ini hilang seketika."

Tangan Junhyung perlahan terulur, menggenggam tanganku yang tergeletak di pangkuan. Genggamannya hangat, kuat, namun lembut seolah aku adalah barang rapuh yang harus dijaga sekuat tenaga.

"Kamu bukan sekadar asisten bagiku, Sabrina. Kamu bukan sekadar teman atau sahabat. Kamu adalah rumahku. Tempat aku pulang, tempat aku merasa tenang, dan tempat aku menjadi diriku sendiri tanpa harus berpura-pura kuat atau keren seperti yang orang lain inginkan."

Lihat selengkapnya