Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #8

Benih mimpi: sebuah cafe kecil

Hidupku kini terasa jauh lebih berwarna dan bermakna. Di satu sisi, aku bekerja dengan penuh dedikasi bersama Highlight, menjadi bagian dari perjalanan kesuksesan mereka yang kian bersinar. Di sisi lain, aku memiliki Junhyung—sosok yang menjadi sandaran hati, pelindung, dan sekaligus sumber kekuatan terbesarku. Cinta kami tumbuh perlahan, tersimpan rapi, namun terasa begitu nyata dan hangat.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada satu hal yang sering membuatku termenung sendirian. Meski gajiku sudah cukup layak dan aku bisa menabung sedikit demi sedikit, aku sadar bahwa menjadi asisten artis bukanlah pekerjaan yang bisa kugeluti selamanya. Pekerjaan ini menguras tenaga dan pikiran, dan suatu saat nanti, aku harus berdiri di atas kakiku sendiri, memiliki sesuatu yang benar-benar milikku, sesuatu yang bisa menjadi tempatku pulang dan berkarya.

Sejak kecil, aku memiliki hobi yang menjadi pelarian saat aku sedih atau kesepian: memasak dan membuat minuman. Di panti asuhan dulu, aku sering membantu Ibu Hartati di dapur, memotong sayur, mengaduk adonan, hingga menyeduh teh atau kopi untuk teman-teman. Aku selalu merasa bahwa makanan dan minuman yang dibuat dengan hati bisa menenangkan perasaan siapa pun yang meminumnya. Rasa hangat dan manisnya, seolah mampu menghapus sejenak beban hidup yang berat.

Kebiasaan itu terbawa hingga aku bekerja di sini. Di sela-sela waktu istirahat, aku sering membawa bekal makanan atau kopi racikan sendiri untuk dibagikan kepada anggota dan staf lain. Aku melihat betapa mereka menikmatinya, melihat senyum lega yang terukir di wajah lelah mereka setelah menyesap kopi hangat atau menyantap kue buatan tangan sendiri. Pemandangan itu membuat hatiku puas dan bahagia luar biasa.

Suatu sore, setelah semua pekerjaan selesai, hanya ada aku dan Junhyung yang masih tinggal di ruang istirahat. Seperti biasa, aku menyeduh kopi dengan campuran rempah khas yang aku ingat resepnya dari tanah kelahiranku, lalu menyajikannya untuk kami berdua.

Junhyung menyesap perlahan, matanya terpejam sejenak menikmati rasa yang menyebar di lidahnya. Lalu, ia membuka mata dan menatapku dengan tatapan kagum.

"Sabrina," panggilnya lembut. "Kopi ini... rasanya berbeda dari apa pun yang pernah kucicipi selama hidupku. Hangat, kuat, tapi ada rasa manis dan lembut yang tersisa. Rasanya seperti dipeluk, seperti pulang ke rumah. Kamu hebat sekali membuatnya."

Wajahku memerah tersipu mendengar pujiannya. "Ah, kamu berlebihan, Oppa. Itu cuma racikan sederhana. Aku hanya memasukkan sedikit perasaanku saat membuatnya, itu saja."

Junhyung meletakkan cangkirnya, lalu menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang serius namun bersinar antusias.

"Kamu tahu tidak? Kemampuanmu ini bukan hal biasa. Rasanya unik, tulus, dan memiliki ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh kafe-kafe mahal di luar sana. Sabrina, kenapa kamu tidak membuka usaha sendiri? Membuka sebuah kafe kecil, tempat kamu bisa menampung semua resep dan rasa yang kamu miliki? Aku yakin, siapa pun yang datang ke sana akan merasa betah dan bahagia."

Jantungku seolah berhenti berdetak sejenak. Pertanyaan itu, saran itu... sebenarnya pernah terlintas sekilas di pikiranku sebagai mimpi yang terlalu tinggi, sesuatu yang hanya bisa kuhayalkan namun mustahil terwujud.

"Membuka kafe?" gumamku pelan, terdengar ragu dan tak percaya. "Oppa, kamu tahu kan saya orangnya siapa? Saya cuma gadis biasa, orang asing, tidak punya modal besar, tidak punya pengalaman bisnis, dan saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Itu mimpi yang terlalu besar buat saya. Saya takut gagal, takut rugi, dan takut kalau nanti usaha saya sepi tidak ada yang datang."

Junhyung menggeleng pelan, lalu tangannya yang hangat menggenggam tanganku di atas meja.

Lihat selengkapnya