Mimpi yang dulu hanya terlintas samar di benakku, kini perlahan mulai menjelma menjadi rencana nyata. Semangat yang membara di dadaku tak pernah surut, didorong oleh keyakinan dan dukungan luar biasa dari orang-orang terdekatku—keluarga baruku, kelima anggota Highlight. Sejak keputusan itu disepakati, mereka tidak sekadar berjanji lewat kata-kata, melainkan benar-benar menunjukkannya lewat tindakan nyata yang membuatku semakin terharu dan takjub.
Proses persiapan berjalan jauh lebih cepat dan lancar daripada yang kubayangkan. Dengan bantuan Dongwoon yang teliti dan cermat, urusan administrasi, perizinan, hingga kontrak sewa tempat berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Ia yang selalu memeriksa setiap baris kalimat dengan saksama, menjelaskan hal-hal yang tidak kumengerti dengan sabar, dan memastikan aku tidak dirugikan dalam bentuk apa pun.
"Jangan khawatir, Sabrina. Semuanya sudah kupastikan aman dan adil. Kamu adalah keluarga kami, jadi tidak boleh ada yang memanfaatkanmu," ucap Dongwoon dengan nada tenang namun tegas, membuat rasa cemas yang sering menghantui perlahan hilang.
Sementara itu, Gikwang yang dikenal paling telaten dan punya selera seni yang bagus, mengambil alih urusan desain dan penataan ruangan. Ia tidak segan-segan meluangkan waktu di sela jadwal latihan dan syuting untuk ikut mencari perabotan, memilih warna cat, hingga menata letak meja dan kursi.
"Konsepnya harus hangat, nyaman, dan terasa seperti rumah, sesuai dengan kepribadianmu," ujar Gikwang antusias sambil menunjukkan sketsa gambar yang ia buat sendiri. "Aku ingin siapa pun yang masuk ke sini langsung merasa betah, seolah sedang berkunjung ke rumah sahabat lama. Jadi, jangan kaku-kaku ya!"
Doojoon, sebagai pemimpin yang bijaksana, selalu menjadi penengah dan pemberi nasihat yang paling tenang. Ia mengingatkan agar aku tetap berpikir jernih, tidak terburu-buru, dan selalu mempertimbangkan segala kemungkinan dengan matang. Namun di balik itu, ia adalah orang yang paling tegas melarangku merasa berhutang budi atau merasa terbebani.
"Dengar, Sabrina," ucap Doojoon suatu kali saat kami sedang meninjau lokasi kafe yang baru saja kami sewa. "Uang bisa dicari lagi, bisa didapatkan lagi. Tapi kesempatan melihat orang yang kita sayangi sukses dan bahagia, itu hal yang tidak ternilai harganya. Kami tidak memberikan ini karena ingin balasan, kami melakukannya karena kami yakin kamu akan berhasil, dan kami bangga bisa menjadi bagian dari perjalananmu. Jadi, singkirkan rasa bersalah itu. Anggap saja ini modal bersama, dan nanti kalau untung, baru kita bicarakan lagi. Tapi kalau rugi, jangan pikirkan itu. Kami sanggup menanggungnya."
Mendengar ucapan itu, rasanya ingin sekali aku menangis lagi. Bagaimana mungkin aku bisa seberuntung ini? Dilahirkan tanpa orang tua, dibesarkan dengan kekurangan, namun kemudian dipertemukan dengan orang-orang yang hatinya selembut dan sebesar ini?
Dan tentu saja, ada Yong Junhyung. Ia mungkin tidak banyak bicara seperti Yoseob, atau sibuk bergerak ke sana kemari seperti Gikwang, tapi kehadiran dan dukungannya adalah yang terbesar, yang paling dalam, dan yang paling membuatku kuat.
Junhyunglah yang menanggung porsi terbesar dari dana yang dibutuhkan. Saat aku menolak karena merasa tidak enak hati, ia hanya menatapku tajam namun lembut, lalu berkata singkat: "Aku menyimpannya untuk hal yang berharga. Dan bagiku, kesuksesanmu adalah hal yang paling berharga."
Ia sering datang diam-diam ke lokasi kafe saat pekerja lain sudah pulang, hanya untuk menemaniku membersihkan sisa-sisa renovasi atau sekadar duduk diam menemaniku menyusun daftar menu hingga larut malam. Ia tidak banyak menawarkan saran soal bisnis, karena ia tahu aku punya cara dan seleraku sendiri, tapi ia selalu menjadi pendengar terbaik saat aku bingung atau ragu.