Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #10

Nusantara Taste -Lahirnya Baru di Seoul

Hari yang telah kutunggu-tunggu selama berbulan-bulan akhirnya tiba juga. Pagi itu, matahari bersinar cerah menembus celah gedung-gedung tinggi kota Seoul, seolah ikut merayakan hari bersejarah bagiku. Dengan hati berdebar kencang namun penuh semangat, aku berdiri di balik pintu kaca besar yang bertuliskan nama kafe kesayanganku: Nusantara Taste.

Aroma harum kopi yang baru diseduh, bercampur dengan wangi rempah khas masakan Indonesia, menyebar memenuhi seluruh ruangan. Aroma itu bukan sekadar bau masakan biasa, bagiku ia adalah aroma rumah, aroma kenangan, dan aroma perjuangan yang telah kutempuh selama bertahun-tahun. Segala sesuatu sudah kusiapkan dengan sangat teliti. Kursi dan meja tertata rapi, pajangan dan hiasan dinding sudah terpasang indah, dan deretan makanan serta minuman yang kusiapkan pagi itu tampak menggugah selera.

Aku mengenakan pakaian kerja yang sederhana namun rapi, dengan senyum yang kucoba pertahankan meski gugup luar biasa. Di sampingku, berdiri Kang Tae-jun—koki utama yang kubantu rekrut dan latih, serta dua orang staf tambahan yang ramah dan cekatan. Mereka menatapku dengan tatapan antusias, siap membantu menjalankan hari pertama pembukaan ini.

"Jangan gugup, Nona Sabrina," ucap Tae-jun tenang. "Semuanya sudah sempurna. Rasanya luar biasa, tempatnya indah. Pelanggan pasti akan datang dan menyukainya."

Aku mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Terima kasih, Tae-jun. Saya harap begitu. Semoga saja orang-orang di sini bisa menerima dan menyukai cita rasa yang asing bagi lidah mereka ini."

Bel pintu berbunyi nyaring, menandakan pembukaan resmi. Namun, selama satu jam pertama, suasana di dalam kafe masih terasa sepi. Beberapa orang lewat di depan, melirik sekilas dengan penasaran, tapi tak ada yang berani melangkah masuk. Rasa cemas mulai merayap di dadaku. Apakah saya salah mengambil keputusan? Apakah orang-orang di sini tidak tertarik dengan masakan yang berbeda? berbagai pikiran negatif mulai bermunculan.

Namun, ketakutan itu segera lenyap seketika saat sekelompok orang masuk dengan suara tawa yang kukenal betul.

"Selamat pagi, pemilik kafe hebat!" seru Yoseob dengan lantang sambil melangkah masuk paling depan, diikuti oleh Doojoon, Gikwang, Dongwoon, dan tentunya Junhyung.

Mereka datang mengenakan pakaian santai namun rapi, wajah mereka tersenyum cerah seolah sedang menghadiri pesta besar.

"Kalian datang!" seruku bahagia, rasa lega seketika memenuhi dada.

"Mana mungkin kami absen di hari paling penting ini?" kata Doojoon sambil menatap sekeliling ruangan dengan pandangan kagum. "Wah, Sabrina... tempat ini jauh lebih indah daripada yang kubayangkan. Suasananya hangat, tenang, dan membuat hati damai. Kamu hebat sekali merancangnya."

"Benar sekali!" timpal Gikwang. "Paduan warnanya pas, dekorasinya unik, dan aromanya... wangi sekali! Rasanya sudah lapar saja aku."

Junhyung berdiri sedikit di belakang yang lain, tangannya masuk ke dalam saku celana, menatapku lekat-lekat dengan senyum tipis yang menenangkan. Matanya berkata: Aku bangga padamu. Kamu bisa melakukannya.

"Silakan duduk, semuanya," ajakku dengan senyum lebar. "Kalian adalah pelanggan pertama yang terhormat. Akan kusiapkan menu terbaik khusus untuk kalian."

Lihat selengkapnya