Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #11

Cabang Gangnam: puncak keberhasilan

Dua tahun berlalu secepat kilat sejak hari pembukaan Nusantara Taste. Kini, nama kafe itu sudah bukan lagi asing di telinga warga Seoul, bahkan mulai dikenal hingga ke luar kota. Kesuksesan yang kami raih bukanlah keberuntungan semata, melainkan buah dari kerja keras tanpa henti, ketulusan dalam melayani, serta dukungan luar biasa dari orang-orang terdekatku.

Setiap hari, antrean pengunjung tak pernah putus. Mulai dari warga lokal, pekerja kantoran, mahasiswa, hingga wisatawan asing yang sengaja datang untuk mencicipi cita rasa unik yang menggabungkan kehangatan rempah Nusantara dengan kenyamanan gaya hidup Korea. Ulasan positif tersebar luas, baik dari mulut ke mulut maupun di media sosial dan majalah kuliner ternama. Banyak yang memuji bahwa Nusantara Taste bukan sekadar tempat makan, melainkan tempat untuk menemukan kedamaian dan kehangatan hati.

Aku tidak bekerja sendirian lagi. Tim yang kubentuk semakin solid dan besar. Kang Tae-jun, koki andal yang setia mendampingiku sejak awal, kini menjadi kepala operasional dapur yang sangat dihormati. Ia berhasil menerjemahkan resep-resepku dengan sempurna dan bahkan menciptakan variasi menu baru yang tak kalah lezat. Sementara itu, Park Ji-woo, gadis muda yang ceria dan cekatan, menjadi manajer pelayanan yang memastikan setiap tamu merasa istimewa.

Meski kesibukan meningkat berkali-kali lipat, aku tidak pernah melupakan asal-usulku dan siapa saja yang telah membantuku berdiri hingga di titik ini. Sebagian besar keuntungan yang kudapat, kugunakan untuk mengembangkan usaha, membantu teman-teman sesama perantau yang membutuhkan, serta mengirimkan bantuan rutin ke panti asuhan tempat aku dibesarkan. Aku ingin membuktikan pada dunia bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari banyaknya harta, tapi dari seberapa besar kita bisa berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain.

Suatu sore yang cerah, saat aku sedang duduk di meja sudut sambil meninjau laporan keuangan, Junhyung datang seperti biasa. Ia sering menyempatkan diri berkunjung saat jadwalnya luang, kadang sebagai pelanggan biasa, kadang hanya sekadar duduk menemaniku bekerja. Ia yang dulunya selalu terlihat dingin dan tertutup, kini sering terlihat tersenyum lebar dan tertawa lepas saat berada di sini. Tempat ini seolah menjadi pelarian baginya dari penatnya dunia hiburan yang penuh sorotan.

"Kamu lihat ini, Sabrina?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah majalah hiburan yang baru dibelinya. Di halaman tengah, ada artikel khusus yang membahas tentang Nusantara Taste dengan judul besar: "Rasa yang Membawa Pulang: Kisah Sukses Seorang Wanita Asing yang Menggetarkan Lidah Seoul."

Jantungku berdegup kencang membaca tulisan itu. Di sana tertulis betapa kagumnya penulis melihat perjuanganku, keberanianku, dan kualitas rasa yang kami sajikan.

"Kamu luar biasa," ucap Junhyung lembut, matanya menatapku penuh kekaguman. "Dua tahun lalu, kamu hanya gadis kecil yang ragu-ragu takut membuka usaha. Sekarang, namamu disebut sebagai salah satu pengusaha muda paling inspiratif di kota ini. Aku bangga padamu, lebih dari yang bisa kamu bayangkan."

Wajahku memerah tersipu. "Itu semua berkat kalian, Oppa. Tanpa bantuan dan kepercayaan kalian, aku tidak akan pernah sampai di sini. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa, melayani dengan hati."

Junhyung tersenyum, lalu tangannya terulur menggenggam tanganku di atas meja. "Kerendahan hatimu itulah yang membuatmu semakin bersinar. Orang-orang datang bukan hanya karena makanannya enak, tapi karena mereka merasakan ketulusanmu. Kamu telah membuktikan bahwa latar belakang, asal-usul, dan status tidak menentukan seberapa jauh kita bisa melangkah."

Pembicaraan kami terhenti saat Doojoon, Yoseob, Gikwang, dan Dongwoon masuk serentak dengan wajah berseri-seri. Mereka membawa kabar yang membuatku terkejut sekaligus tak percaya.

"Sabrina! Kami punya ide besar untukmu," seru Yoseob antusias. "Kamu lihat betapa ramainya tempat ini? Seringkali banyak orang yang harus pulang kecewa karena kehabisan tempat duduk. Kami sudah membicarakan ini berkali-kali, dan kami sepakat: sudah saatnya kamu membuka cabang kedua!"

"Cabang... kedua?" ulangku pelan, matanya terbelalak kaget. "Tapi, itu kan butuh biaya besar, persiapan yang rumit, dan lokasi yang strategis... aku belum yakin sanggup menangani semuanya sendirian."

"Siapa bilang kamu sendirian?" potong Gikwang dengan senyum lebar. "Kami masih di sini, kan? Dan kali ini, lokasi yang kami incar bukan tempat sembarangan."

Lihat selengkapnya