Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #12

Pertemuan Tak Terduga dengan Lee Joon Gi

Dua tahun berlalu begitu cepat sejak hari pembukaan Nusantara Taste di kawasan Gangnam. Siapa sangka, usaha yang bermula hanya dari hobi dan keberanian yang terbatas itu kini tumbuh menjadi salah satu tempat yang paling dicari dan dibicarakan di seantero Seoul. Kafe ini tidak hanya dikunjungi oleh warga lokal yang penasaran dengan cita rasa asli Indonesia, tetapi juga menjadi tujuan wajib bagi wisatawan asing yang ingin merasakan suasana hangat dan berbeda.

Bagi Sabrina, kesuksesan ini bukanlah miliknya seorang diri. Di balik kemegahan bangunan, aroma kopi yang semerbak, dan tawa pengunjung yang riang, ada dukungan tak tergantikan dari para anggota Highlight—terutama Yong Junhyung. Pria itu selalu menjadi pendorong terkuat, bahu tempatnya bersandar, dan telinga yang selalu siap mendengar keluh kesah saat rasanya beban di pundak terasa terlalu berat. Hubungan mereka kini semakin dekat, melampaui batas atasan dan bawahan, bahkan lebih dari sekadar sahabat. Di mata orang lain, mereka terlihat seperti kakak beradik yang tak terpisahkan. Namun di dalam hati Sabrina yang berusia 29 tahun ini, ada perasaan lain yang tumbuh perlahan, perasaan yang ia simpan rapat-rapat karena rasa takut dan rasa tidak pantas yang masih sering menghantui.

Siang itu, cuaca di Seoul sedang sangat cerah. Cahaya matahari masuk membias lewat jendela kaca besar, menerangi setiap sudut ruangan yang dihiasi ornamen khas Indonesia. Sabrina sedang sibuk memeriksa catatan keuangan dan mengawasi pelayanan, memastikan semuanya berjalan sempurna seperti biasa. Sebagai pemilik, ia tidak pernah merasa lebih tinggi dari karyawannya; ia masih sering turun tangan melayani pengunjung atau meracik minuman jika diperlukan.

"Bu Sabrina," panggil Park Ji-woo, manajer kafe yang juga sahabat dekatnya, menghampiri dengan napas terengah-engah namun wajahnya tampak berseri-seri.

"Ada apa, Ji-woo? Tenang saja, jangan lari-lari di dalam," tegur Sabrina lembut sambil tersenyum.

"Maaf, Bu. Tapi ada kabar yang sangat penting! Tadi pihak tim produksi film besar menghubungi kami. Mereka meminta izin untuk menggunakan kafe kita sebagai lokasi syuting hari ini juga! Katanya, tempat kita sangat cocok dengan deskripsi yang mereka cari: hangat, unik, dan punya karakter yang kuat."

Sabrina tertegun sejenak, matanya membelah kaget. "Syuting? Di sini? Hari ini juga?"

"Iya! Dan tahu tidak siapa aktor utamanya? Lee Joon Gi!" bisik Ji-woo dengan antusias, matanya berbinar-binar. "Dia aktor paling populer sekarang, Bu! Hampir semua wanita di Korea tergila-gila padanya. Wah, kafe kita pasti akan semakin terkenal nanti!"

Nama itu terdengar asing namun sekaligus akrab di telinga Sabrina. Ia tentu saja tahu siapa Lee Joon Gi. Wajah tampan dan karismatik pria itu sering menghiasi layar televisi, papan iklan, dan majalah-majalah ternama. Sosok yang dikenal sebagai aktor jenius dengan senyum yang mampu melelehkan hati siapa saja. Bagi Sabrina, Lee Joon Gi ibarat bintang yang begitu tinggi dan jauh, mustahil untuk dijangkau oleh orang biasa sepertinya.

"Benarkah? Itu kabar yang luar biasa. Tentu saja kami izinkan, Ji-woo. Silakan bantu mereka menyiapkan segala keperluan. Pastikan mereka nyaman dan jangan sampai mengganggu pengunjung lain," perintah Sabrina dengan tenang, meski di dalam hatinya ada sedikit rasa gugup.

Beberapa jam kemudian, suasana kafe berubah menjadi sangat sibuk namun tertib. Puluhan kru film sibuk membawa peralatan, mengatur pencahayaan, dan menata tempat duduk. Berita bahwa Lee Joon Gi akan ada di sana pun menyebar cepat, membuat banyak orang berkerumun di luar kafe berharap bisa melihat sekilas idolanya. Sabrina membiarkan semuanya berjalan, ia memilih berdiri di sudut ruangan, mengamati dari jauh tanpa ingin ikut-ikutan mencari perhatian. Baginya, pekerjaan dan kenyamanan orang lain adalah yang utama.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu masuk. Kerumunan di luar semakin riuh, suara teriakan pujian terdengar samar-samar. Pintu mobil terbuka, dan keluarlah seorang pria dengan penampilan sederhana namun berkelas. Mengenakan kemeja putih longgar yang digulung hingga siku dan celana kain berwarna cokelat muda, ia berjalan dengan langkah tenang dan senyum tipis yang hangat.

Itu Lee Joon Gi.

Meskipun tanpa riasan tebal dan pakaian mewah layaknya di drama, pesonanya tetap menyilaukan. Wajahnya yang tirus dengan mata yang tajam namun lembut membuat siapa pun yang menatapnya seolah terpukau. Ia menyapa kru dan tim produksi dengan ramah, tidak ada kesombongan sedikit pun, padahal ia adalah bintang terbesar di negeri ini.

Lihat selengkapnya