Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #13

Pesona yang Mengguncang Dunia

Hari syuting di Nusantara Taste akhirnya selesai saat senja mulai menutup langit Seoul dengan warna jingga keunguan. Keramaian perlahan mereda, kru film mulai membereskan peralatan, dan para penggemar yang berkerumun di luar pun pulang dengan wajah puas setelah sekilas melihat idola mereka. Namun bagi Sabrina, rasanya seolah waktu berhenti berputar sejak pertemuannya dengan Lee Joon Gi tadi siang.

Ia berdiri di balik meja kasir, tangan sibuk merapikan buku catatan, namun pikirannya melayang jauh. Suara lembut, senyum hangat, dan tatapan mata Lee Joon Gi yang begitu dalam terus terputar berulang-ulang di ingatannya. Sabrina yang selama ini terbiasa hidup sederhana, tertutup, dan sering merasa rendah diri, seolah dipaksa menyadari satu kenyataan pahit: bahwa di dunia ini ada pria yang begitu sempurna, begitu berkelas, dan begitu memikat, hingga rasanya mustahil bagi wanita biasa sepertinya untuk berada dalam lingkaran yang sama.

"Tuan Lee Joon Gi..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Dia benar-benar orang yang luar biasa. Tampan, terkenal, kaya, tapi tidak sombong sama sekali. Bahkan dia mau mengobrol denganku—gadis asing yang tidak punya apa-apa—dengan sangat sopan."

"Masih melamunkan si aktor tampan itu, Nona Pemilik?"

Suara ceria Ji-woo tiba-tiba terdengar dari samping, membuat Sabrina tersentak kaget hingga buku di tangannya hampir terlepas. Ia menoleh dan mendapati Ji-woo sedang tersenyum jahil sambil menahan tawa.

"Jangan bicara sembarangan, Ji-woo! Aku tidak sedang melamunkan siapa-siapa," bantah Sabrina cepat, pipinya memerah padam menahan malu.

Ji-woo tertawa kecil lalu duduk di kursi sebelahnya. "Tidak usah malu, Bu. Semua wanita di Korea bahkan di seluruh Asia pasti akan melakukan hal yang sama kalau diperhatikan dan diajak bicara langsung oleh Lee Joon Gi. Pesonanya itu lho, luar biasa! Seolah dunia ini hanya berputar di sekelilingnya saja. Tadi aku lihat jelas, dia menatap Ibu dengan cara yang... berbeda. Bukan sekadar menatap pemilik tempat, tapi seperti menatap seseorang yang menarik perhatiannya."

"Kamu ini ada-ada saja," Sabrina menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu meski hatinya berdebar tak karuan. "Dia hanya bersikap ramah karena itu sifat aslinya. Lagipula, lihatlah siapa aku dan siapa dia. Jaraknya bagaikan bumi dan langit. Jangan pernah memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi, itu hanya akan menyakiti diri sendiri."

Meskipun mulutnya berkata demikian, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Sabrina tak bisa membohongi diri sendiri. Ada getaran aneh yang ia rasakan setiap kali teringat tatapan mata Joon Gi—tatapan yang membuatnya merasa dilihat, dihargai, dan diakui keberadaannya sebagai wanita, bukan sekadar pekerja atau orang asing.

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang membawanya pulang ke kediaman pribadinya, Lee Joon Gi duduk bersandar lemas di kursi belakang. Namun wajahnya tidak tampak lelah seperti biasanya setelah seharian bekerja keras. Sebaliknya, seulas senyum kecil yang sulit diartikan tersungging di bibirnya. Ia menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota Seoul yang mulai menyala satu per satu, namun pikirannya sama sekali tidak ada di sana.

"Kau tampak berbeda hari ini, Oppa," ucap Choi Min-seo, manajer sekaligus sahabat yang duduk di kursi depan, menoleh ke belakang dengan tatapan heran. "Biasanya setelah syuting sepanjang hari, kau langsung tertidur atau mengeluh pegal. Tapi hari ini... kau malah tersenyum sendiri. Ada apa?"

Joon Gi mengalihkan pandangannya ke arah Min-seo, senyumnya melebar sedikit. "Min-seo, kau tahu pemilik kafe tempat kita syuting tadi?"

Min-seo mengangguk. "Tentu. Wanita Indonesia yang cantik dan tenang itu? Sabrina namanya, kan? Dia memang wanita yang menarik. Sederhana, tapi berkelas dengan caranya sendiri. Kafe yang dia bangun pun luar biasa indah dan unik."

Lihat selengkapnya