Seminggu telah berlalu sejak hari syuting itu, namun bayang-bayang Lee Joon Gi seolah belum mau pergi dari pikiran Sabrina. Setiap kali ada tamu yang masuk, tanpa sadar matanya selalu melirik ke arah pintu, berharap sosok itu muncul kembali. Padahal ia tahu betul, pria setingkat Lee Joon Gi pasti sangat sibuk dan tak mungkin punya waktu untuk sekadar mampir lagi ke kafe kecil ini.
"Jangan berharap yang tidak-tidak, Sabrina," gumamnya pelan sambil mengelap meja dengan kain lap. "Dia bintang besar, kamu cuma pemilik kafe biasa. Pertemuan itu sudah lebih dari cukup sebagai kenangan."
Namun takdir seolah punya rencana lain. Siang itu, saat cuaca sedang sedikit mendung dan pengunjung tak terlalu ramai, suara bel di pintu masuk berbunyi nyaring. Sabrina mendongak, dan seketika napasnya tertahan. Di sana, berdiri sosok yang selama ini diam-diam ia rindukan kehadirannya—Lee Joon Gi.
Kali ini ia tidak mengenakan pakaian syuting yang rapi, melainkan kemeja katun berwarna abu-abu yang digulung hingga siku dan celana jins sederhana. Tanpa riasan tebal dan gaya rambut yang ditata rapi, ia justru terlihat lebih tampan dan meneduhkan. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kado kecil yang dibungkus rapi.
"Selamat siang, Nona Sabrina," sapa Joon Gi dengan senyum lebar yang membuat seluruh wajahnya bersinar. "Bolehkah aku masuk?"
Sabrina tersentak kaget, buru-buru menghapus tangan yang berkeringat di celemeknya lalu membungkuk sopan. "T-Tentu saja, Tuan Joon Gi. Silakan masuk! Ada yang bisa saya bantu?"
Joon Gi melangkah masuk dan duduk di meja yang sama dengan tempat ia duduk terakhir kali, tepat di dekat jendela. "Kubilang kan, panggil saja Joon Gi. Aku ke sini bukan sebagai aktor, tapi sebagai tamu biasa yang ingin menikmati suasana tenang di tempat favoritku."
Sabrina hanya bisa mengangguk canggung, lalu berdiri di hadapannya dengan jantung yang berdegup kencang. "Baik... Joon Gi. Ada yang ingin dipesan hari ini?"
"Sebenarnya aku punya sesuatu untukmu," ucap Joon Gi lembut, lalu menyodorkan kotak kecil yang dibawanya. "Sebagai tanda terima kasih. Tempat ini memberiku kedamaian yang sulit aku temukan di tempat lain, dan terima kasih karena sudah membuatkan minuman yang begitu nikmat hari itu."
Sabrina menatap kotak itu dengan ragu. "Tidak perlu, sungguh. Itu sudah tugas saya. Saya tidak pantas menerima hadiah dari Anda."
"Terimalah. Kalau kamu menolaknya, berarti kamu tidak menganggapku teman," kata Joon Gi dengan nada memohon namun tetap lembut.
Dengan tangan gemetar, Sabrina akhirnya menerima kotak itu. Saat ia membukanya, matanya terbelalak tak percaya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana beruntai perak dengan liontin berbentuk bulan sabit yang indah namun tidak berlebihan. Desainnya sangat halus, persis seperti selera Sabrina yang menyukai hal-hal yang sederhana namun bermakna.