Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #17

Cinta yang Disembunyikan vs Cinta yang Terbuka

Hujan terus turun membasahi jalanan Seoul, seolah ikut merasakan kegalauan yang menyelimuti hati Sabrina. Di dalam kafe yang mulai sepi, suasana terasa hening, hanya terdengar suara rintik air yang memukul kaca jendela dan detak jam dinding yang berjalan lambat. Lee Joon Gi masih duduk di hadapannya, tatapannya tetap lembut dan penuh pengertian, tidak memaksa, tidak menuntut apa pun selain kejujuran.

"Terima kasih sudah mengerti," ucap Sabrina pelan, berusaha menahan sisa air matanya. "Aku butuh waktu, Joon Gi. Bukan untuk mempermainkan hatimu, tapi untuk memahami apa yang sebenarnya diinginkan hatiku sendiri."

Joon Gi tersenyum tipis, lalu mengusap lembut punggung tangan Sabrina sebelum melepaskannya perlahan. "Aku mengerti. Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Aku tidak akan ke mana-mana. Tapi ingat satu hal: pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, kapan pun kau siap."

Ia berdiri, merapikan sedikit jaketnya yang basah terkena percikan air. "Aku permisi pulang dulu. Istirahatlah yang cukup, jangan memaksakan diri terlalu keras. Besok aku akan datang lagi, atau kita bisa bertemu jika kau sudah merasa lebih tenang."

Sabrina mengangguk pelan, mengantarnya sampai ke pintu kafe. Saat Joon Gi melangkah keluar dan menghilang di balik rintik hujan, pandangan Sabrina tanpa sengaja tertuju ke arah pinggir jalan. Sesaat ia melihat sosok mobil yang selama ini ia kenal—mobil Yong Junhyung—yang perlahan menyala dan bergerak menjauh, hilang di tikungan jalan yang berkabut.

Jantungnya berdegup kencang. Apakah Junhyung melihat semuanya? Apakah ia mendengar percakapan mereka? Rasa bersalah kembali menyergap hatinya, bercampur baur dengan rasa bingung yang semakin dalam.

"Bu Sabrina, sebaiknya Ibu pulang saja. Saya dan Tae Jun bisa membereskan semuanya di sini," suara Park Ji Woo memecah keheningan dari arah belakang.

Sabrina menoleh, melihat Ji Woo dan Kang Tae Jun yang menatapnya dengan prihatin. "Baiklah, terima kasih. Jangan lupa kunci pintu dan matikan lampu utama."

Setelah berpamitan, Sabrina berjalan menuju apartemennya yang tidak terlalu jauh dari sana. Hujan masih turun, payung yang ia bawa seolah tidak mampu menahan angin yang berhembus kencang. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus melayang antara dua sosok pria yang sama-sama berarti baginya.

Di satu sisi, ada Yong Junhyung. Pria yang pertama kali menyambutnya saat ia masih asing dan tak berdaya di negeri ini. Ia yang mengajarkannya seluk-beluk pekerjaan, yang menutupi kesalahannya, yang selalu ada di saat-saat sulit meski dengan caranya yang dingin dan tertutup. Junhyung adalah bagian dari perjalanan hidupnya, saksi dari setiap tetes keringat dan air mata yang ia curahkan. Ia adalah rumah yang sudah ia kenal—nyaman dan aman, namun harus disimpan dalam kerahasiaan.

Namun di sisi lain, ada Lee Joon Gi. Pria yang datang tiba-tiba, membawa angin segar yang mengubah pandangannya tentang cinta. Joon Gi tidak bersembunyi. Ia tidak takut pada pandangan orang lain, tidak takut pada gosip atau sorotan media. Ia menawarkan cinta yang terang, di mana Sabrina tidak perlu merasa menjadi rahasia, tidak perlu merasa bersalah saat berjalan berdampingan. Ia menawarkan masa depan yang jelas, di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.

Lihat selengkapnya