Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #19

Undangan dari keluarga Lee

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang terasa lebih lambat dari biasanya. Di kafe Nusantara Taste, kesibukan tetap berjalan seperti biasa—aroma rempah Indonesia bercampur dengan kopi khas Seoul, suara tawa pengunjung, dan gerak cepat para karyawan. Namun di balik senyum ramah yang selalu terukir di wajah Sabrina, hatinya masih dipenuhi gejolak yang belum menemukan titik terang.

Setelah mendengar kisah yang disampaikan Yoon Doojoon, perasaannya terhadap Yong Junhyung berubah. Awalnya ada rasa terharu, bahkan sedikit rasa bersalah karena selama ini ia menilai pria itu dengan cara yang salah. Namun di sisi lain, penjelasan itu justru membuatnya semakin sadar akan perbedaan mendasar antara cinta Junhyung dan cinta Lee Joon Gi.

Junhyung mencintainya dengan cara melindungi dari balik bayangan, menempatkan keselamatan di atas segalanya. Sedangkan Joon Gi—ia selalu hadir dengan keterbukaan, tidak ragu menunjukkan perhatiannya bahkan ketika orang-orang di sekitar mulai menatap dengan rasa ingin tahu.

Pagi itu, ketika kafe belum terlalu ramai dan Sabrina sedang memeriksa daftar persediaan bahan makanan, Park Ji Woo mendekat dengan senyum yang sedikit iseng namun penuh perhatian.

"Bu, ada tamu lagi. Tapi kali ini bukan Tuan Joon Gi atau Tuan Junhyung. Katanya ia ingin bertemu dengan Ibu secara pribadi," ucap Ji Woo sambil menyerahkan selembar kartu nama.

Sabrina menerima kartu itu dan membacanya: Choi Min Seo – Manajer Lee Joon Gi.

"Suruh masuk, Ji Woo."

Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar 40 tahun dengan penampilan rapi dan profesional melangkah masuk. Ia tersenyum sopan saat melihat Sabrina.

"Selamat pagi, Nyonya Sabrina. Saya Choi Min Seo, manajer Tuan Lee Joon Gi. Maaf mengganggu waktu kerja Anda," sapa wanita itu dengan bahasa Korea yang halus.

"Selamat pagi. Silakan duduk. Ada keperluan apa Anda datang ke sini?" tanya Sabrina sambil menyuguhkan teh.

Min Seo meletakkan tasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna krem yang elegan dan menyerahkannya.

"Ini dari keluarga Lee. Ibu Tuan Joon Gi, Nyonya Lee Soo Jin, mengundang Anda untuk makan siang di kediaman mereka besok siang. Beliau mendengar banyak hal tentang Anda dan ingin berkenalan secara langsung."

Sabrina tertegun, matanya terbelalak tak percaya. "Undangan... dari ibunya?"

"Benar. Tuan Joon Gi telah bercerita banyak tentang Anda kepada keluarganya. Beliau dan kakak laki-lakinya, Tuan Lee Hae Won, juga akan hadir. Mereka hanya ingin berbincang santai, tidak ada maksud lain selain berkenalan."

Jantung Sabrina berdegup kencang. Di Korea, diundang ke rumah keluarga adalah hal yang sangat istimewa dan memiliki makna mendalam. Itu berarti Joon Gi benar-benar serius dan telah membicarakannya dengan orang-orang terdekatnya. Namun di saat yang sama, hal ini membuatnya merasa tertekan. Apakah ia siap melangkah sejauh ini, sementara hatinya masih belum sepenuhnya jernih?

"Saya... saya tidak tahu harus berkata apa," jawab Sabrina jujur. "Saya merasa terhormat, tapi juga sedikit gugup."

"Saya mengerti perasaan Anda," Min Seo tersenyum menenangkan. "Tuan Joon Gi juga sudah mengingatkan saya untuk menyampaikan bahwa Anda boleh menolak jika merasa tidak nyaman. Tidak ada paksaan sama sekali. Namun, saya dapat jaminan bahwa keluarga Lee adalah orang-orang yang sangat hangat dan tidak akan membuat Anda merasa asing."

Setelah percakapan singkat itu, Min Seo berpamitan. Sabrina memegang amplop itu erat-erat, seolah itu berisi kunci yang bisa membuka jalan baru sekaligus menutup jalan yang lain.

Lihat selengkapnya