Beberapa hari setelah kunjungannya ke rumah keluarga Lee, suasana di hati Sabrina terasa lebih tenang namun juga semakin berat. Ia sudah merasakan bagaimana rasanya dicintai secara terbuka, dihargai, dan diterima apa adanya—sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Namun, bayangan masa lalu dan pengorbanan Yong Junhyung terus menghantui pikirannya. Ia tahu, selama ia belum berbicara jujur dengan pria itu, hatinya tidak akan pernah benar-benar damai.
Pagi itu, setelah memastikan semua persiapan di kafe berjalan lancar, Sabrina memutuskan untuk mengunjungi studio musik tempat Junhyung sering bekerja. Ia sudah mendapatkan alamatnya dari Yoon Doojoon, meski dengan pesan agar ia berhati-hati dan menghormati privasi pria itu.
Perjalanan menuju studio itu terasa panjang. Sepanjang jalan, pikirannya melayang kembali ke masa-masa awal kedatangannya di Seoul. Ia teringat betapa takutnya ia saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri asing ini—bahasa yang tidak dimengerti, budaya yang berbeda, dan kesendirian yang terasa begitu menyiksa.
Saat itu, ia baru saja diterima sebagai asisten magang di agensi tempat Highlight bernaung. Banyak orang yang meremehkannya, menganggapnya hanya gadis asing yang tidak akan bertahan lama. Hanya Yong Junhyung yang meski terlihat dingin dan jarang berbicara, selalu memastikan ia mendapatkan perlakuan yang layak.
"Jangan biarkan siapa pun meremehkanmu hanya karena kau berasal dari tempat yang jauh," ucap Junhyung suatu hari, saat ia melihat Sabrina dimarahi oleh staf senior karena kesalahan kecil yang sebenarnya bukan salahnya. "Belajarlah dengan giat, tunjukkan bahwa kau mampu. Di sini, kemampuan yang berbicara, bukan asal-usul."
Kata-kata itu yang menjadi penyemangatnya selama bertahun-tahun. Dan tanpa ia sadari, perhatian kecil yang ditunjukkan Junhyung—memastikan ia pulang dengan selamat, membawakan makanan saat ia sibuk bekerja, menutupi kesalahannya—telah menanamkan rasa percaya dan rasa terima kasih yang dalam di hatinya.
Sesampainya di depan bangunan studio yang sederhana namun terawat, Sabrina menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia melangkah masuk dan bertanya kepada resepsionis, yang kemudian mengantarnya ke ruang kerja Junhyung.
Saat pintu terbuka, ia melihat Junhyung sedang duduk membelakangi pintu, menghadap meja kerja yang penuh dengan lembaran kertas berisi not musik. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara alunan melodi pelan dari alat musik yang terhubung ke komputer.
"Junhyung-ssi..." panggil Sabrina pelan.
Junhyung menoleh, matanya terbelalak sedikit terkejut melihat kehadiran wanita itu. Ia segera mematikan suara musik, lalu berdiri dan menatap Sabrina dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, kerinduan, dan kekhawatiran.
"Sabrina? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya, suaranya tetap datar namun tidak setajam biasanya.
"Saya ingin bicara denganmu. Bolehkah saya masuk?"
Junhyung mengangguk pelan, mempersilakan Sabrina duduk di kursi yang tersedia. Ia sendiri kembali duduk di tempatnya, menjaga jarak yang cukup jauh di antara mereka, seolah takut jika ia terlalu dekat, ia tidak akan mampu menahan perasaannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sabrina memulai percakapan, berusaha memecah keheningan yang terasa menekan.