Beberapa hari setelah percakapannya dengan Yong Junhyung, Sabrina merasa hatinya jauh lebih ringan. Ia telah memahami seluruh kebenaran, menghargai pengorbanan yang telah diberikan, dan menyadari bahwa meski rasa terima kasih dan sayang tetap ada, ia membutuhkan cinta yang bisa dijalani secara terbuka dan damai. Namun, sebelum membuat keputusan akhir, ada satu tempat yang ingin ia kunjungi—tempat yang menjadi awal dari segalanya, tempat yang selalu ia rindukan dalam sunyi: Pekalongan, Indonesia.
Sudah hampir tujuh tahun ia tidak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Kesibukan bekerja, membangun usaha, dan keterbatasan biaya membuatnya menunda-nunda kunjungan itu. Kini, dengan kafe yang sudah berjalan stabil dan karyawan yang bisa dipercaya untuk mengurusnya sementara waktu, ia memutuskan untuk pulang. Ia ingin menenangkan pikiran, merenung di tempat yang penuh kenangan masa kecil, dan mendapatkan ketenangan yang selama ini ia cari.
"Kau yakin ingin pergi sendirian?" tanya Lee Joon Gi saat mereka bertemu sehari sebelum keberangkatan.
Sabrina mengangguk sambil tersenyum lembut. "Ya, Joon Gi. Aku butuh waktu untuk sendiri, untuk merenung dan memastikan hatiku sepenuhnya. Tapi aku janji, aku akan menghubungimu sesering mungkin."
Joon Gi mengangguk memahami, meski terlihat sedikit ragu. "Baiklah. Hati-hati di perjalanan. Jaga kesehatanmu di sana. Aku akan menunggumu kembali, apa pun yang kau putuskan nanti."
Sabrina merasa terharu dengan pengertian pria itu. Ia tahu, Joon Gi memberinya ruang bukan karena tidak peduli, tapi karena ia menghormati kebutuhan Sabrina untuk menemukan jawabannya sendiri.
Penerbangan dari Seoul ke Jakarta dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Pekalongan. Begitu mobil memasuki daerah kota itu, aroma khas pantai, garam, dan bau ikan asin yang sudah lama tidak ia hirup kembali menyapa hidungnya. Suasana yang lebih tenang, udara yang lebih hangat, dan pemandangan rumah-rumah sederhana membuat dadanya terasa sesak—campuran antara rindu dan haru.
Begitu sampai di depan panti asuhan tempat ia dibesarkan, Sabrina tidak bisa menahan air matanya. Bangunan itu masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja terlihat lebih tua namun tetap terawat. Begitu turun dari mobil, seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat segera berlari mendekat. Itu adalah Bu Hartati, pengasuh yang telah merawatnya sejak kecil.
"Sabrina! Anakku, akhirnya kau pulang!" seru Bu Hartati sambil memeluknya erat.
"Bu Hartati..." isak Sabrina, membalas pelukan itu. "Aku rindu sekali di sini."