Hari-hari terakhir Sabrina di Pekalongan terasa begitu berharga. Setelah mengunjungi makam orang tuanya dan berbincang dengan orang-orang terdekatnya, hatinya terasa lebih ringan, seolah beban yang selama ini membebani perlahan terangkat. Ia menyadari bahwa pulang ke tempat asal bukan hanya sekadar mengunjungi masa lalu, melainkan juga menemukan kembali jati dirinya yang asli—sebelum terjebak dalam hiruk-pikuk kehidupan di Seoul dan kebimbangan hati.
Pagi itu, Sabrina memutuskan untuk berjalan sendirian menyusuri pantai yang tidak jauh dari panti asuhan. Angin laut berhembus sejuk menerpa wajahnya, membawa aroma garam yang khas dan suara deburan ombak yang memecah di bibir pantai. Langkahnya pelan, menyusuri pasir putih yang masih basah terkena air laut. Di sini, jauh dari gedung-gedung tinggi, sorotan lampu kota, dan segala kerumitan perasaan, ia merasa bisa bernapas lega.
Ia duduk di atas batu besar yang sudah terlihat lapuk dimakan usia, menatap hamparan laut yang membentang luas hingga bertemu dengan langit di ufuk timur. Di tempat ini, ia teringat masa-masa kecilnya yang sederhana namun penuh kehangatan. Dulu, ia sering duduk di tempat yang sama, bermimpi suatu hari bisa melihat dunia yang lebih luas, bisa meraih kehidupan yang lebih baik dari apa yang ia miliki saat itu.
Dan kini, impian itu telah terwujud. Ia telah menginjakkan kaki di negeri yang jauh, memiliki usaha yang berkembang, dan mendapatkan banyak pengalaman berharga. Namun, di tengah kesuksesan itu, ia justru dihadapkan pada pilihan yang sulit—pilihan yang tidak hanya menyangkut perasaan, tetapi juga tentang bagaimana ia ingin menjalani sisa hidupnya.
Sabrina menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai merenungkan kembali setiap peristiwa yang telah terjadi, menimbang dengan hati yang jernih apa yang sebenarnya ia inginkan.
Ia teringat pada Yong Junhyung. Pria yang telah menjadi bagian terpenting dalam perjuangannya. Tanpa bimbingan, perlindungan, dan bantuan diam-diamnya, mungkin ia tidak akan bisa bertahan di Seoul selama ini. Pengorbanan yang dilakukan Junhyung—mengorbankan karirnya, menanggung tuduhan tidak adil, dan menjauh demi keamanannya—adalah hal yang tidak akan pernah ia lupakan. Rasa hormat, terima kasih, dan sayang yang ia miliki untuk Junhyung adalah nyata dan mendalam.
Namun, saat ia menengok ke dalam hatinya, ia menyadari satu hal penting: rasa sayang itu lebih mirip pada rasa sayang kepada seorang kakak, pelindung, dan sahabat yang telah berjasa besar. Di sisi lain, ada rasa takut yang selalu menyertai setiap bayangan Junhyung—takut pada masalah, takut pada kerahasiaan, takut bahwa suatu saat masa lalu yang kelam akan kembali mengganggu ketenangan mereka. Cinta yang ditawarkan Junhyung indah karena penuh pengorbanan, namun ia disadari bahwa cinta itu juga membawa batasan yang membuatnya tidak bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.
Kemudian, bayangan Lee Joon Gi muncul di benaknya. Pria yang datang tiba-tiba, namun mampu membawa perubahan besar dalam cara pandangnya. Ia teringat bagaimana Joon Gi memperlakukannya—dengan penuh penghormatan, keterbukaan, dan keberanian untuk mencintai tanpa menyembunyikan apa pun. Ia teringat kunjungannya ke rumah keluarga Lee, di mana ia diterima apa adanya, tanpa pertanyaan tentang masa lalunya atau kekhawatiran akan pandangan orang lain.