Jejak cinta di Seoul

Maghfira Izani
Chapter #23

Keputusan yang semakin jelas

Pesawat yang membawa Sabrina mendarat di Bandara Internasional Incheon tepat saat senja mulai menyelimuti langit Seoul. Cahaya oranye keemasan matahari terbenam memantul di kaca-kaca gedung tinggi, menciptakan pemandangan yang indah namun juga terasa asing baginya—tidak lagi hanya sebagai kota tempat ia mencari nafkah, melainkan tempat di mana ia harus menentukan arah hidupnya selanjutnya.

Saat melangkah keluar dari pintu kedatangan, matanya segera menangkap sosok yang sudah menunggu di sana. Lee Joon Gi berdiri tenang di antara kerumunan orang, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang, tanpa usaha menyembunyikan dirinya. Begitu pandangan mereka bertemu, seulas senyum lembut terukir di wajahnya, senyum yang langsung membuat detak jantung Sabrina berdegup lebih kencang namun juga terasa tenang.

"Selamat datang kembali," sapa Joon Gi pelan saat mereka berhadapan, lalu mengambilkan tas besar dari tangan Sabrina. "Bagaimana perjalananmu?"

"Lancar. Terima kasih sudah menjemput," jawab Sabrina dengan senyum yang lebih tulus dari sebelumnya. "Kau tidak takut dikenali orang? Kau kan aktor terkenal."

Joon Gi tertawa kecil, matanya berbinar. "Biarkan saja mereka melihat. Aku tidak ada yang perlu disembunyikan. Ayo, kita pulang dulu. Kau pasti lelah."

Di dalam mobil, suasana terasa nyaman dan tidak kaku. Joon Gi tidak banyak bertanya tentang apa yang dipikirkan atau diputuskan Sabrina selama di Indonesia—ia hanya bercerita ringan tentang perkembangan kafe yang diurus dengan baik oleh Ji Woo dan Tae Jun, tentang cuaca yang semakin hangat, dan hal-hal kecil lainnya. Sikapnya yang memberi ruang membuat Sabrina semakin yakin bahwa ia telah menemukan orang yang tepat untuk dijadikan tempat berbagi.

Sesampainya di apartemennya, Sabrina meminta Joon Gi untuk duduk sebentar. Ia ingin berbicara, namun ia juga merasa perlu menyampaikan semuanya dengan hati-hati dan penuh rasa hormat.

"Joon Gi..." panggilnya pelan setelah mereka duduk di ruang tamu. "Selama di Pekalongan, aku banyak merenung. Aku bertemu orang-orang yang mengenalku sejak kecil, mengunjungi tempat-tempat yang mengingatkanku pada siapa diriku sebenarnya. Dan di sana, aku mulai memahami apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hidup ini."

Joon Gi menatapnya dengan perhatian penuh, tidak memotong pembicaraan. "Aku mendengarkan."

"Aku sangat menghargai apa yang telah dilakukan Yong Junhyung untukku. Pengorbanannya, perhatiannya, dan caranya melindungiku—semua itu tidak akan pernah aku lupakan. Ia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam perjalananku, dan aku akan selalu menghormatinya sebagai sahabat dan orang yang berjasa besar." Sabrina berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.

"Tapi aku juga menyadari satu hal: cinta yang sejati tidak boleh membuatku merasa harus bersembunyi, merasa terikat oleh rasa bersalah, atau merasa bahwa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri sepenuhnya. Aku ingin dicintai secara terbuka, diakui, dan bisa berjalan berdampingan tanpa rasa takut pada pandangan orang lain. Dan di dekatmu, aku merasakan semua itu. Kau membuatku merasa berharga, membuatku merasa bahwa aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus menyembunyikan siapa aku atau dari mana aku berasal."

Sabrina menatap mata Joon Gi dengan jujur. "Aku memilihmu, Joon Gi. Aku ingin melangkah maju bersamamu, menghadapi apa pun yang akan datang bersama-sama."

Wajah Joon Gi terlihat sangat terharu. Matanya yang tajam kini dipenuhi kelembutan yang mendalam. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan lembut menggenggam kedua tangan Sabrina.

Lihat selengkapnya