Hujan di Seoul telah reda, meninggalkan udara yang sejuk dan jalanan yang basah memantulkan cahaya lampu kota. Sejak percakapan dengan Joon Gi beberapa hari lalu, hati Sabrina terasa lebih tenang meski keputusan yang harus diambil tetap terasa berat. Ia tahu, tidak ada jalan lain selain berbicara jujur dengan Yong Junhyung—pria yang telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya selama tujuh tahun terakhir.
Ia mengirim pesan singkat, meminta bertemu di tempat yang biasa mereka kunjungi: sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut kota, jauh dari keramaian dan sorotan kamera. Tempat itulah yang sering menjadi saksi saat Junhyung membantunya memahami bahasa Korea, saat ia bercerita tentang kesedihannya di Indonesia, dan saat pria itu diam-diam memberinya tabungan tambahan saat usahanya baru saja dimulai.
Saat Sabrina tiba, Junhyung sudah duduk di sana. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan jaket abu-abu, rambutnya sedikit berantakan seolah ia baru saja datang dari studio. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya tetap menatap Sabrina dengan tatapan yang tidak pernah berubah—tatapan yang penuh perhatian dan perasaan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
"Terima kasih sudah mau datang," sapa Sabrina pelan sambil duduk di hadapannya.
Junhyung mengangguk tipis. "Aku sudah menunggu. Aku tahu, pertemuan ini tidak akan berlangsung ringan. Aku bisa melihatnya dari matamu, Sabrina. Kau sudah mengambil keputusan, bukan?"
Sabrina menunduk sejenak, memegang cangkir teh di depannya untuk menenangkan diri. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata-kata yang selama ini terasa sulit.
"Junhyung," mulainya dengan suara lembut namun tegas, "kau adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Tanpa pertolonganmu, tanpa kepercayaan yang kau berikan padaku, aku tidak akan pernah bisa berdiri di sini. Kau melindungiku saat aku merasa sendirian di negeri asing ini, kau menjadi tempatku berlari saat aku merasa takut, dan kau mengajarkanku arti kerja keras dan kesetiaan. Semua itu tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku."
Junhyung hanya mendengarkan, matanya menatap lurus ke wajah Sabrina, seolah ingin menangkap setiap kata yang diucapkannya. Ia bisa merasakan apa yang akan datang, namun ia tetap membiarkan wanita itu berbicara sampai selesai.