Setelah malam yang penuh keputusan itu, waktu berjalan membawa perubahan yang perlahan namun pasti. Tiga bulan telah berlalu, dan suasana di kafe Nusantara Taste kini terasa lebih cerah, dipenuhi tawa, aroma rempah khas Indonesia, dan kesibukan yang teratur. Cabang di Gangnam juga semakin berkembang, menjadi tempat pertemuan yang unik bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin mencicipi rasa dari negeri seberang.
Pagi itu, Sabrina berdiri di depan jendela kafe utama di Hongdae, memandangi jalanan yang mulai ramai. Di tangannya tergenggam dua surat: satu dari Bu Hartati, pengasuh panti asuhan di Pekalongan, yang berisi kabar baik dan doa, serta satu lagi dari Raka dan Siti, teman masa kecilnya yang kini juga merantau di kota lain. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya—senyum yang membawa ketenangan sejati, sesuatu yang telah lama ia cari sejak pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini.
"Bu Sabrina, ini pesanan untuk meja nomor empat, dan bahan baku dari Indonesia sudah datang," lapor Kang Tae Jun sambil meletakkan nampan dan menunjukkan tanda terima barang.
"Terima kasih, Tae Jun. Tolong suruh Ji Woo periksa kualitasnya ya," jawab Sabrina ramah, matanya tetap bersinar melihat usaha yang ia bangun dari nol ini semakin kokoh.
Bel pintu berbunyi nyaring, dan Lee Joon Gi masuk bersama ibunya, Lee Soo Jin, serta kakaknya, Lee Hae Won. Sejak hari di mana Sabrina memutuskan hatinya, Joon Gi tidak lagi bersembunyi atau datang secara diam-diam. Ia sering hadir di kafe, bahkan dengan senang hati membantu melayani pelanggan jika sedang tidak sibuk syuting. Ia juga telah memperkenalkan Sabrina secara resmi kepada seluruh anggota keluarganya—langkah yang sangat berarti bagi wanita yang merasa seperti tidak memiliki keluarga sejak kecil.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini sepertinya akan sangat sibuk," sapa Lee Hae Won sambil tersenyum ramah, matanya menelusuri suasana kafe yang hangat.
"Ya, apalagi akhir pekan seperti ini. Banyak pengunjung yang penasaran dengan masakan dan budaya Indonesia," jawab Sabrina, lalu mempersilakan mereka duduk di meja sudut yang paling nyaman.
Lee Soo Jin menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang, seolah menatap anak kandungnya sendiri. "Kau terlihat semakin bersinar dan bahagia, Nak. Itu hal terindah yang bisa dilihat seorang ibu. Joon Gi juga terlihat lebih tenang dan bersemangat sejak mengenalmu."
Sabrina tersenyum malu namun hangat. "Terima kasih, Ibu. Aku juga merasa sangat beruntung bisa diterima dengan baik oleh kalian semua."
Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi lagi. Kali ini, Yoon Doojoon, Yang Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon masuk dengan langkah santai. Wajah mereka tersenyum, meski samar terlihat ada rasa haru di mata masing-masing. Mereka datang bukan untuk mengganggu, melainkan untuk memastikan keadaan wanita yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan karir mereka.
"Kalian datang! Silakan masuk, duduk di sini," sapa Sabrina dengan tulus, hatinya berdebar sedikit namun tetap tenang. Ia menyadari bahwa persahabatan mereka tidak harus berakhir hanya karena perasaan telah berubah.