Jejak dunia kuno

Aini Kumala Putri
Chapter #1

Langit yang Mati

"Janji tetaplah janji. Bawa dia keluar. Ritual dilakukan malam ini."

Suara Penyihir Agung itu nyaris tenggelam di antara teriakan para pengawal.

Bayangan hitam melilit pergelangan tangan sang pangeran, merambat ke siku, lalu menghentak kedua lengannya ke belakang. Ia menghentakkan tumitnya ke lantai aula untuk menahan tubuhnya, tetapi sepatunya tetap bergeser dan meninggalkan dua garis panjang di atas marmer. Bayangan itu terus menyeretnya menuju pintu istana.

"Lepaskan aku!"

Tidak ada perubahan pada wajah sang penyihir. Sepasang mata emasnya tetap datar, seolah sosok yang sedang diseret di belakangnya bukan pewaris kerajaan, melainkan bagian terakhir dari upacara yang harus diselesaikan.

Sang pangeran memutar bahu dan mencoba meraih pedang. Ujung jarinya belum menyentuh gagang ketika bayangan lain membelit pinggangnya. Tekanan dingin menghantam tulang rusuk dan memaksanya kembali tegak.

Di belakangnya, para pengawal kerajaan bernasib sama. Tali-tali sihir mengikat tubuh mereka sampai tak seorang pun mampu mengangkat senjata. Sang raja berjalan di antara mereka dengan langkah berat. Wajah ayahnya lebih pucat daripada beberapa hari terakhir, tetapi ia masih berusaha melawan setiap bayangan yang menahan kedua tangannya.

Pemandangan itu membuat amarah sang pangeran pecah.

"Ini urusan leluhur kami, bukan mereka. Lepaskan semua orang dan hadapi aku sendiri."

Penyihir Agung tidak menoleh.

"Mereka tidak sedang dihukum. Mereka hanya belum memahami bahwa utang tetap harus dibayar."

Pintu utama terbuka.

Udara malam menerjang masuk bersama suara ribuan rakyat.

Mereka memenuhi jalan di balik gerbang dan memadati balkon bangunan di sekeliling kastel. Api biru di atas pintu-pintu rumah bergetar diterpa angin. Beberapa warga mengangkat senjata. Sebagian lain berteriak memanggil gelar sang pangeran sampai suara mereka pecah.

"Lepaskan Yang Mulia!"

"Singkirkan sihir kotormu!"

"Jangan ambil pewaris kami!"

Setiap teriakan menghantam sang pangeran lebih keras daripada belitan sihir. Mereka percaya kepadanya, tetapi ia bahkan tidak mampu menghentikan tubuhnya sendiri agar tidak diseret melewati tangga istana.

Langit di atas Stellamorte perlahan tertutup sesuatu yang jauh lebih besar daripada awan.

Seekor naga hitam melingkari kastel.

Tubuhnya membentuk bayangan raksasa di atas menara. Sisik-sisik gelap memantulkan rembulan setiap kali ia bergerak. Sepasang sayapnya terbentang tanpa suara, lalu menutup sebagian langit seperti gerbang menuju kehampaan.

Rakyat di luar pagar terdiam sesaat.

Sang pangeran merasakan darahnya mendingin.

Di tengah taman telah terbentuk lingkaran sihir keemasan. Simbol-simbol yang tidak dikenalnya berputar di atas tanah, dikelilingi partikel biru yang naik seperti abu. Udara di sekitar lingkaran itu menekan kulitnya dari segala arah.

Sang raja kembali meronta.

"Kumohon, jangan dia." Suara ayahnya serak, tetapi masih terdengar jelas di tengah taman. "Dia satu-satunya harapan bangsa ini."

Kalimat itu membuat dada sang pangeran terasa tertusuk.

Harapan.

Sejak kecil, kata itu selalu diletakkan di pundaknya bersama mahkota yang belum sempat ia kenakan. Kini seluruh bangsanya menyaksikan harapan tersebut diseret menuju sebuah lingkaran yang mungkin akan membunuhnya.

Bayangan yang membelit tubuhnya mendadak mengendur.

Sang pangeran tidak menunggu penjelasan. Tangannya meraih pedang dan mencabut bilah perak dalam satu gerakan. Ia berbalik, menjejak tanah, lalu menerjang Penyihir Agung.

Ujung pedangnya hanya berjarak beberapa senti dari leher sang penyihir ketika sebuah telapak tangan terangkat.

Udara meledak.

Tubuh sang pangeran terlempar melintasi taman dan menghantam tanah. Nyeri menjalar dari bahu sampai kepala. Ia menggertakkan gigi, menahan mual, lalu bangkit sebelum pandangannya kembali lurus.

Satu gerakan jari dari Penyihir Agung mengangkat tubuhnya ke udara.

Kakinya menghentak tanpa menemukan pijakan. Tekanan tak terlihat mencengkeram lehernya. Sang pangeran berusaha mengayunkan pedang, tetapi seluruh lengannya membeku.

"Seorang ksatria sampai akhir," kata sang penyihir. "Bagus. Kau akan membutuhkannya."

Tubuhnya dibanting tepat ke pusat lingkaran.

Punggung sang pangeran menghantam tanah. Pedangnya terlepas dan tergelincir keluar dari jangkauan. Cahaya keemasan naik di sekelilingnya, membentuk dinding yang membuat wajah-wajah di luar lingkaran terlihat kabur.

Rintik pertama jatuh ke pipinya.

Hujan menyusul, tetapi airnya berwarna abu keperakan dan membawa aroma logam. Setiap tetes memantulkan cahaya ritual. Tanah mengeluarkan kabut tipis. Awan hitam berkumpul tepat di atas taman, menggulung semakin rendah seolah langit sedang dipaksa mendekati bumi.

Sang pangeran mencoba bangkit. Tekanan dari lingkaran menahannya tetap berlutut.

Mantra mengalir dari bibir Penyihir Agung.

Ia tidak memahami satu pun, katanya, tetapi tubuhnya mengenali bahaya. Panas dan dingin menyusup bersamaan melalui darah. Paru-parunya terasa menyempit. Cahaya di bawah lututnya merambat naik dan menembus pakaian seperti akar yang mencari jalan ke dalam tubuh.

Di balik dinding cahaya, ayahnya masih berjuang. Para pengawal berusaha memutus tali sihir. Rakyat kembali berteriak dan menghantam gerbang.

Lalu sang pangeran melihat ibunya.

Sang ratu berlari keluar dari istana. Rambutnya terlepas dari tatanan, wajahnya basah oleh hujan dan air mata. Seorang gadis kecil berusaha mengejar di belakangnya sebelum ditahan oleh pengawal.

Adiknya.

Sang pangeran menghantam dinding cahaya dengan kedua telapak tangan.

"Bawa dia masuk!"

Tak seorang pun bereaksi. Suara ritual telah berubah menjadi dengungan yang memenuhi kepala.

Lihat selengkapnya