Ketakutan seharusnya membuat Raihana menutup pintu.
Namun laki-laki asing itu sudah berlutut di lantai ruang tamunya, napasnya putus-putus, kulitnya merah kebiruan, dan kedua taring panjang tampak di balik bibir yang bergetar. Satu tangannya baru saja melepaskan pergelangan Raihana meski ia jelas mampu menahannya.
Ia lebih memilih jatuh daripada menggigit tanpa izin.
Pikiran itulah yang membuat Raihana mengulurkan lengannya kembali.
"Sedikit saja," katanya, walau ia tahu laki-laki itu tidak memahami satu kata pun. "Jangan sampai aku mati."
Tatapan merah yang redup itu berpindah dari pergelangan tangannya ke wajahnya. Laki-laki tersebut tidak langsung bergerak. Keraguan pada wajah asing itu justru membuat Raihana sedikit lebih berani.
Ia mengangguk.
Laki-laki itu memegang lengannya dengan kedua tangan. Sentuhannya dingin, tetapi sangat hati-hati. Saat taring menembus kulit, nyeri tajam membuat bahu Raihana menegang. Jari-jarinya mencengkeram ujung baju. Ia hampir menarik tangan, lalu merasakan isapan pertama.
Kepalanya ringan seketika.
Suara darah yang ditelan terdengar terlalu jelas di ruang tamu yang sunyi. Jam dinding terus berdetak. Pintu masih terbuka, membiarkan angin malam menggerakkan tirai. Raihana menatap sarung pedang di pinggang laki-laki itu dan tiba-tiba menyadari betapa buruk keputusannya.
Ia telah mengundang makhluk bertaring dan bersenjata ke dalam rumah.
"Cukup," bisiknya.
Laki-laki itu berhenti.
Tidak ada penolakan. Tidak ada upaya mengambil lebih banyak. Ia menjauhkan mulut, menekan dua luka kecil di lengan Raihana dengan jemarinya, lalu menundukkan kepalanya. Seperti sedang berterima kasih.
Warna kulitnya belum kembali normal, tetapi napasnya mulai teratur. Urat gelap di leher perlahan menghilang. Mata yang semula nyaris hitam memperoleh kembali cahaya merah yang jernih.
Setelah warna kulitnya berangsur kembali, Raihana akhirnya dapat melihat parasnya dengan lebih jelas. Rambut laki-laki itu putih, kontras dengan kulitnya yang kecoklatan tetapi tampak agak pucat. Matanya merah gelap, berbeda dari warna mata manusia yang pernah ia kenal. Bahkan dalam keadaan lemah, wajahnya memiliki ketegasan yang membuatnya tampak terlalu asing untuk sekadar dianggap laki-laki yang tersesat.
Raihana mundur setapak dan meraih kain dari meja. Ia membalut pergelangan tangannya tanpa melepaskan pandangan dari laki-laki tersebut.
"Kamu ngerti aku?"
Tidak ada jawaban.
"Indonesia? English? Sunda?"
Laki-laki itu mengernyit. Bukan ekspresi pura-pura tidak mengerti. Ia benar-benar tidak mengenali bunyi yang keluar dari mulut Raihana.
Raihana menunjuk dirinya sendiri.
"Raihana."
Ia mengulanginya lebih lambat. "Ra-i-ha-na."
Laki-laki itu memperhatikan gerak bibirnya, lalu menyentuh dadanya sendiri dan mengucapkan sesuatu. Nama itu terdiri atas bunyi-bunyi yang sulit dipisahkan, terlalu asing untuk ditiru lidah Raihana.
"Sekali lagi."
Ia mengulanginya.
Raihana tetap tidak mampu menangkapnya.
"Oke. Susah banget." Ia menggigit bibir, lalu memikirkan satu nama dari tokoh dalam draft fantasi yang tidak pernah diselesaikannya. "Kalau aku panggil kamu Rainhard dulu, gimana? Rainhard."
Laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri.
"Rainhard," kata Raihana lagi.
Ia mencoba menirukan. "Rai... n…hard."
"Ya. Anggap saja itu nama sementara."
Laki-laki itu menunduk singkat. Entah mengerti atau tidak, malam itu nama Rainhard melekat padanya.
Raihana menutup pintu, lalu segera menguncinya. Rainhard memperhatikan gerakannya tanpa protes. Ia berdiri dengan susah payah dan baru saat itulah Raihana menyadari betapa tinggi tubuhnya. Ujung kepalanya hampir sejajar dengan kusen. Pakaian hitamnya dipenuhi tanah, jahitan emas pada kerah telah robek, dan sarung pedang di pinggangnya tampak lebih nyata daripada properti film mana pun.
Raihana menunjuk sofa.
"Duduk."
Rainhard mengikuti arah telunjuknya. Ia duduk tegap di ujung sofa, kedua kaki sejajar, seolah furnitur tua Raihana adalah singgasana yang harus diperlakukan dengan hormat.
Raihana mengambil ponsel dari kamar, tetapi berhenti sebelum menekan nomor darurat.
Apa yang harus ia katakan?