Rabu, 28 Mei 2025, 21.47 WIB
Dua lembar dokumen mampu membuat ruang kerja Arganta terasa lebih sempit daripada sel.
Ia membacanya untuk keempat kali, meski setiap angka sudah melekat di kepala. Lima puluh tiga persen saham Nusantara Holdings akan dialihkan atas namanya. Kepemilikan mayoritas, kendali atas keputusan perusahaan, dan posisi yang selama ini disiapkan Neven untuknya.
Di bagian bawah halaman terakhir, tanda tangan ayahnya telah menunggu.
Arganta mengetuk sudut kertas pada meja marmer sampai kedua lembar itu sejajar. Kebiasaan kecil tersebut tidak membantu pikirannya ikut rapi. Di luar jendela, cahaya gedung-gedung Jakarta menelan sebagian besar bintang. Pantulannya berkilau pada kaca, bertumpuk dengan bayangan Arganta sendiri yang masih mengenakan jas lengkap pada jam nyaris sepuluh malam.
Neven tidak pernah memberikan sesuatu tanpa menyelipkan tali pada hadiah itu.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
"Cari makan, yuk. Gua lapar."
Luthfi masuk dengan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, jas tersampir pada satu bahu, dan rambut merah yang tampak semakin menyala di bawah chandelier. Dasi tidak terlihat. Mungkin sudah ia tinggalkan di mobil, meja orang lain, atau tempat yang bahkan tidak diingatnya.
Arganta tidak mengangkat kepala. "Fungsi mengetuk pintu masih diajarkan di gedung ini, kan?"
"Diajarkan. Gua cuma selectively obedient."
Luthfi menjatuhkan diri ke kursi di depan meja. Matanya langsung menemukan dokumen yang sedang dipegang Arganta.
"Itu tawaran dari Pak bapak lu?"
Arganta menyerahkan kedua lembar tersebut.
Luthfi membaca cepat. Wajahnya yang semula santai berubah fokus ketika sampai pada angka kepemilikan. Masa lalunya telah mengajarinya mencari ancaman dalam susunan kata. Arganta tidak pernah menanyakan seluruh detailnya.
"Lima puluh tiga persen," gumam Luthfi. "Ambil. Besok kita pecat semua orang yang nyebelin."
"Termasuk lo."
"Nggak bisa. Gua aset perusahaan."
Arganta mendengus pelan. Hanya di depan Luthfi ia dapat membiarkan bahu dan bahasanya sedikit longgar. Di hadapan direksi, investor, atau keluarganya sendiri, setiap kata harus disusun seperti pasal kontrak. Luthfi adalah satu-satunya orang yang berani membaca dokumen rahasia di mejanya lalu bercanda tentang pemecatan.
"Gue nggak mau jadi bidak dia," kata Arganta.
Senyum Luthfi menipis. Ia meletakkan dokumen itu dengan lebih hati-hati. "Kalau lu pegang sahamnya, lu punya kekuatan buat ngelawan dia."
"Atau dia punya alasan untuk mengingatkan bahwa semua yang gue punya berasal dari dia."
"Tetap lebih enak nangis sambil punya lima puluh tiga persen saham, Bro. Enjoy your life."
Arganta menatapnya datar.
"Oke, nasihat gua jelek." Luthfi meraih remote dan menyalakan televisi besar di dinding. "Makanya sekarang makan. Otak lu kurang karbohidrat."
Logo NUSANTARA HOLDINGS yang terpasang di atas layar memantulkan cahaya perak. Tayangan berita mengisi ruangan yang sebelumnya terlalu sunyi.
"Hampir delapan bulan setelah jatuhnya benda langit yang sempat terlihat di sejumlah wilayah, tim peneliti nasional belum menemukan material utama dari objek tersebut."
Arganta menoleh.
Rekaman udara memperlihatkan cekungan besar di tengah kawasan hutan. Pohon-pohon tumbang menjauhi pusat benturan, tetapi tidak ada batu meteor di dasarnya. Garis pembatas masih terpasang di beberapa sisi. Sejumlah peneliti dengan pakaian lapangan tampak kecil dibandingkan lubang hitam kecokelatan itu.
"Tuh, meteor yang waktu itu." Luthfi mencondongkan tubuh. "Gua lihat langsung. Warnanya keren banget."
Arganta juga melihatnya.
Malam itu ia berada di lantai tertinggi gedung bersama Neven. Ruangan sengaja dibiarkan temaram. Cahaya bulan masuk dari jendela di belakang ayahnya, mengubah pria itu menjadi siluet tegak yang menutup sebagian kota.