Jejak dunia kuno

Aini Kumala Putri
Chapter #4

Orang yang Tidak Seharusnya Selamat

Rabu, 28 Mei 2025, 23.11 WIB

Mata merah itu hanya terbuka beberapa detik.

Pria di aspal mencoba mengangkat kepala, gagal, lalu terkulai. Napasnya masih ada, pendek dan kasar. Arganta menarik ponsel dari saku dengan jari yang sulit dikendalikan.

"Kecelakaan lalu lintas," katanya begitu sambungan darurat diterima. Ia memaksa suaranya tetap jelas saat menyebutkan lokasi dan kondisi korban. "Satu orang terluka berat. Dia masih bernapas. Tolong cepat."

Seseorang di belakangnya berkata korban itu pasti tidak akan selamat. Orang lain merekam. Cahaya dari layar-layar kecil menyorot tubuh berdarah di jalan seperti puluhan mata yang tidak berkedip.

Arganta ingin menyuruh mereka berhenti, tetapi petugas melarangnya memindahkan korban. Ia hanya bisa berlutut di sana, mengamati darah merambat di sela aspal sampai nyaris menyentuh ujung sepatunya.

Nama yang tadi diucapkan pria itu terus berputar di kepala.

Hana.

Mungkin nama orang yang harus dihubungi. Namun ponsel korban telah pecah beberapa meter dari tubuhnya.

Arganta menelepon polisi setelah panggilan pertama selesai. Baru sesudah itu ia menekan nama Luthfi.

Telepon diangkat pada dering kedua.

"Kalau lu mau paksa gue jadi VP malam ini, jawaban gua tetap tidak."

"Luth."

Suara Arganta sendiri terdengar asing.

Luthfi langsung berhenti bercanda. "Lu di mana?"

"Gue nabrak orang."

Hening setengah detik.

"Share location. Stay there."

Sambungan terputus.

Arganta menurunkan ponsel. Seorang bapak dari kerumunan mendekat dan menatap mobil, pakaian Arganta, lalu korban di jalan.

"Mas harus tanggung jawab, ya. Jangan pergi."

"Saya tidak akan pergi." Tenggorokan Arganta terasa kering. "Ambulans dan polisi sudah dalam perjalanan. Saya akan bertanggung jawab."

Ia tidak tahu berapa kali harus mengulang kalimat serupa sampai sirene akhirnya terdengar.

Ambulans datang lebih dahulu, disusul kendaraan polisi. Petugas membuka jalan di antara kerumunan. Dua paramedis memasang penyangga leher, memeriksa jalan napas, lalu mengangkat korban ke tandu.

Ketika tubuh itu terangkat, Arganta kembali melihat luka di kakinya.

Daging terbuka.

Darah terlalu banyak.

Lalu tepi luka tersebut bergerak.

Hanya sedikit. Kulit yang koyak tampak tertarik mendekat sebelum seorang paramedis menutupnya dengan kain tebal.

Arganta berkedip keras. Rasa mual membuat pandangannya berdenyut. Ia mungkin salah melihat. Ia ingin percaya bahwa ia salah melihat.

"Ganta!"

Luthfi menerobos kerumunan dengan kaus hitam dan celana panjang, rambut merahnya masih basah seperti baru mandi. Napasnya berat setelah berlari dari tempat ia meninggalkan mobil. Begitu melihat darah di jalan, seluruh keceriaan di wajahnya lenyap.

"Allahuakbar..."

Ia berdiri di sisi Arganta, meneliti tubuh sahabatnya dari kepala sampai kaki. "Lu luka?"

"Nggak."

"Yakin?"

"Orangnya, Luth."

Luthfi menoleh ketika pintu ambulans ditutup. "Kita ikut. Tapi lu kasih keterangan dulu. Gue sudah hubungi pengacara dan minta rekaman CCTV jalan diamankan."

"Jangan ubah rekamannya."

"Gua bilang diamankan, bukan dihilangkan."

"Kalau gue salah, biarkan terlihat."

Luthfi mengamati Arganta sejenak. "Fair enough. Kita urus pakai fakta."

Setelah memberikan keterangan awal kepada polisi, Arganta masuk ke mobil Luthfi. Ambulans bergerak di depan mereka. Cahaya merah sirene memantul pada kaca dan dinding bangunan, muncul dan hilang seperti denyut luka terbuka.

Arganta duduk kaku di kursi penumpang. Kedua tangannya saling menggenggam sampai buku-buku jarinya memutih.

"Dia belok mendadak," katanya. "Tanpa sein. Gue udah rem."

Luthfi tetap menatap jalan. "Nanti rekaman yang bicara."

"Mobil gue juga terlalu cepat."

"Gua tahu."

Arganta memalingkan wajah ke jendela. Tidak ada pembelaan yang terasa layak diucapkan. Ia memang bukan satu-satunya penyebab kecelakaan, tetapi keputusan menekan pedal lebih dalam tetap miliknya.

Luthfi tidak mencoba menghibur. Untuk sekali ini, ia membiarkan keheningan berada di antara mereka.

Di rumah sakit, korban langsung dibawa melewati pintu unit gawat darurat. Arganta hanya melihat kilatan lampu putih, tangan-tangan bersarung, serta noda darah pada roda tandu sebelum pintu tertutup.

Petugas meminta data pasien. Dompet tidak ditemukan. Ponselnya rusak. Satu kartu identitas di dalam tas menyebutkan nama Rainhard, tetapi alamat dan nomor darurat tidak tercantum dengan jelas.

"Hana," ucap Arganta.

Luthfi menoleh.

"Sebelum pingsan, dia menyebut Hana. Cari kontak yang mungkin terkait. Hanya untuk menghubungi keluarganya."

"On it."

Luthfi duduk di ujung deretan kursi, membuka laptop, lalu bekerja tanpa banyak suara. Gerakan tangannya berubah cepat dan pasti, sangat berbeda dari pria yang setengah jam lalu mengeluh soal jabatan baru.

Lihat selengkapnya