Minggu, 1 Juni 2025, 22.18 WIB
Arganta tidak suka data yang tidak lengkap.
Data buruk masih dapat dianalisis. Data palsu meninggalkan pola. Bahkan kebohongan memiliki sumber.
Rainhard tidak memiliki apa-apa.
Arganta duduk di meja kerja kamar dengan satu tangan menopang dagu. Dua layar di hadapannya dipenuhi berkas yang dikirim Luthfi dan hasil pemeriksaan internal Nusantara Holdings.
Nama: Rainhard.
Alamat: baru tercatat beberapa bulan terakhir.
Riwayat sekolah: tidak ditemukan.
Universitas: tidak ditemukan.
Orang tua: tidak ditemukan.
Rekam medis: baru muncul setelah kecelakaan.
Identitas kependudukan: tersedia, tetapi jalur penerbitannya tidak konsisten.
Anehnya, data kerja Rainhard cukup untuk membuatnya diterima sebagai pekerja kontrak malam di salah satu unit gudang. Seseorang telah memasukkan informasi minimum ke sistem, lengkap dengan rekening dan alamat yang dapat diverifikasi. Namun setiap jalur yang ditelusuri lebih jauh berakhir pada ruang kosong.
Arganta mengetuk meja dengan ujung jari.
Tik.
Tik.
Tik.
"Orang tanpa masa lalu," gumamnya.
Sebuah pesan dari Luthfi muncul di sudut layar.
Gue udah cek lagi. Sebelum Oktober tahun lalu, orang ini secara administratif belum lahir.
Arganta mengetik balasan.
Tidak mungkin.
Jawaban datang seketika.
That is literally the problem.
Arganta mengembuskan napas dan membuka arsip berita mengenai benda langit yang jatuh pada 7 Oktober 2024. Salah satu video menampilkan cekungan besar di tengah hutan. Tanah rusak, beberapa pohon tumbang, tetapi material utama yang seharusnya menyebabkan benturan tidak pernah ditemukan.
Lokasinya tidak terlalu jauh dari alamat pertama Rainhard.
Catatan paling awal pria itu muncul sekitar pertengahan Oktober.
Arganta membuka sebuah video saksi mata.
Reporter berdiri di tepi jalan dengan mikrofon. Di sampingnya ada seorang pria berkaus hitam, rambut merah menyala, dan wajah yang terlihat terlalu gembira karena masuk televisi.
Arganta memejamkan mata.
"Kenapa harus dia..."
Di layar, Luthfi menggerakkan kedua tangan dengan penuh semangat.
"Kejadiannya cepat banget, Mbak. Tiba-tiba wusss, terus duar. Langitnya terang kayak ada yang ngelempar matahari kecil. No kidding, tanah sampai goyang."
Reporter bertanya apakah ia melihat objek tersebut jatuh.
"Lihat. Gua sempat foto juga. Agak blur, sih."
Arganta menekan tombol jeda tepat ketika wajah Luthfi membentuk senyum paling bangga.
Tanggal unggahan terpampang di bawah video.
7 Oktober 2024.
Ia membuka kembali foto medis Rainhard. Luka terbuka pada kaki, darah di wajah, dugaan cedera kepala. Di sampingnya, Arganta meletakkan foto yang diam-diam diambil Luthfi ketika mereka berkunjung ke rumah sakit keesokan sore.
Kulit utuh. Tanpa jahitan. Tanpa perban.
Arganta pernah melihat mata pria itu menyala sebelum benturan. Ia pernah menyaksikan tepi luka bergerak mendekat. Ia duduk satu meter dari Rainhard dan merasakan sesuatu yang ganjil dalam cara pria tersebut membawa tubuh, berbicara, serta menatap orang lain.
Sekarang data menunjukkan Rainhard seolah muncul beberapa hari setelah sebuah benda jatuh dari langit dan menghilang tanpa meninggalkan pecahan.
Kesimpulan yang terbentuk di kepala Arganta terlalu konyol untuk dipercaya.
Rainhard datang bersama benda itu.
Tidak.
Mungkin pemalsuan identitasnya berkaitan dengan kejahatan. Mungkin luka malam itu terlihat lebih parah akibat darah. Mungkin rumah sakit melakukan kesalahan pencatatan.
Namun tiga kemungkinan yang lemah tidak otomatis berubah menjadi satu penjelasan kuat.
Arganta menutup laptop. Kamar mendadak sunyi.
Di sisi meja terdapat Alkitab kecil yang biasa ia baca sebelum tidur. Ia meraihnya, tetapi tidak langsung membuka halaman tertentu. Kedua tangannya hanya menahan sampul buku itu.
Sejak kecil, iman menjadi salah satu dari sedikit hal yang tidak berhasil diubah Neven menjadi ukuran prestasi. Doa tidak membutuhkan target, laporan, atau kemenangan. Arganta dapat datang tanpa membawa apa pun dan mengakui bahwa dirinya tidak memahami dunia.
Malam ini, ketidaktahuannya terasa jauh lebih besar.