Jejak dunia kuno

Aini Kumala Putri
Chapter #6

Pertanyaan Terlarang

Senin, 2 Juni 2025, 19.36 WIB

Keputusan untuk memanggil Rainhard sudah dibuat sejak malam sebelumnya. Data yang datang dari Lucia sore itu hanya membuat Arganta semakin sulit menariknya kembali.

Tiga foto dan satu laporan mentah memenuhi layar besar di ruang kerjanya. Tidak ada lagi video berita yang sudah dipotong untuk konsumsi publik. Kali ini Lucia membawa angka, waktu, serta catatan alat lapangan yang semalam hanya sempat ia singgung.

"Ini bagian yang tidak masuk laporan akhir," kata Lucia. Ia berdiri di sisi layar dengan tablet di tangan. Rambut birunya dikuncir rapi, sementara kalung salib kecil di lehernya sesekali menangkap cahaya ketika ia menunduk. "Beberapa menit sebelum benturan, dua kamera kehilangan sinyal. Kompas digital salah satu tim bergerak sendiri, lalu ada lonjakan medan elektromagnetik yang tidak bisa kami cocokkan dengan sumber di sekitar lokasi."

Arganta menyilangkan satu kaki. "Dan sesudahnya?"

"Semua kembali normal beberapa jam kemudian." Lucia mengganti tampilan. "Ada satu hal lagi."

Gambar buram memenuhi layar. Seorang sosok tinggi berjalan keluar dari arah hutan. Wajahnya tidak terlihat, tetapi pakaiannya panjang dan terlalu asing untuk seseorang yang sekadar tersesat di kawasan itu.

Di pojok gambar tercetak waktu 7 Oktober 2024, pukul 01.47.

Arganta menahan napas sepersekian detik.

Ia sudah melihat mata merah Rainhard di jalan, luka yang menutup terlalu cepat, identitas yang baru muncul setelah Oktober, dan cekungan tanpa material utama. Foto itu bukan jawaban. Namun untuk pertama kalinya, semua kejanggalan tersebut terasa berada pada satu garis yang sama.

Luthfi berdiri di dekat jendela sambil memegang kopi hazelnut. Ia mencondongkan tubuh melihat layar. "Kalau gua bilang itu Rainhard, kalian bakal bilang gua kebanyakan nonton film."

"Karena kita belum punya bukti bahwa itu dia," jawab Arganta.

"Posturnya mirip."

"Banyak orang tinggi."

"Tinggi segitu sambil keluar hutan pakai kostum kerajaan? Common banget, ya."

Lucia tersenyum tipis. "Untuk sekali ini, saya setuju dengan Luthfi. Mirip bukan berarti identik, tetapi rekaman ini cukup untuk ditanyakan langsung."

Arganta mengetuk sandaran kursi dengan telunjuk. Semalam ia sudah mengatakan hal yang sama. Bedanya, sekarang ia tahu pertanyaan yang akan dibawa ke hadapan Rainhard bukan lagi sekadar dugaan liar.

"Lo jemput dia setelah sif," katanya kepada Luthfi.

Luthfi mengangkat alis. "Sendiri?"

"Sendiri. Jangan pakai ancaman, jangan sentuh Raihana, dan jangan bikin keributan di tempat kerja."

"Gua mantan intelijen, bukan debt collector."

Arganta menatapnya.

Luthfi mendecak. "Iya, iya. Gua ajak baik-baik."

Lucia menutup tabletnya. "Kalau dia benar-benar bukan manusia, pastikan kita tidak memulai pertemuan dengan membuatnya merasa terpojok."

Luthfi mengangkat cangkir. "Berarti gua nggak boleh buka dengan, 'Lu monster, ya?'"

"Terutama itu," kata Arganta.

Senyum Luthfi muncul terlalu cepat untuk membuat Arganta percaya nasihat tersebut akan benar-benar dipatuhi.

* * *

Rainhard mendengar langkah Luthfi sebelum melihatnya.

Lihat selengkapnya