Jejak dunia kuno

Aini Kumala Putri
Chapter #7

Pengakuan dari Langit

Rainhard pernah mendengar kata monster diteriakkan oleh manusia yang membawa obor ke perbatasan Stellamorte.

Di Onphalla, kata itu selalu datang sebelum darah.

Tangannya tetap di atas paha. Ia tidak menunjukkan taring, tidak mengubah posisi duduk, dan tidak membiarkan amarah menguasai napasnya. Luthfi mengawasinya seperti prajurit yang sengaja mengetuk pintu perang untuk mengetahui siapa yang akan membuka.

"Apa arti monster bagi Anda?" tanya Rainhard.

Senyum Luthfi menipis. "Sesuatu yang bukan manusia dan bisa membunuh manusia."

"Kalau begitu, separuh dugaan Anda benar."

Ruangan menjadi sunyi.

Rainhard mengambil amplop dari meja. Salinan identitas palsunya berada di bagian atas, diikuti data pekerjaan, foto rumah Raihana dari kejauhan, dan daftar pencarian yang seluruhnya berakhir dengan keterangan tidak ditemukan.

Foto terakhir berasal dari kamera jalan dekat hutan. Sosok tinggi dengan mantel kerajaan berjalan keluar dari kegelapan. Wajahnya buram, tetapi Rainhard mengenali pakaian yang telah hancur beberapa hari setelah kedatangannya.

Tanggal di sudut gambar membuat ujung jarinya berhenti.

7 Oktober 2024, 01.47.

Mereka telah menemukan malam ketika langit Bumi menjatuhkannya.

"Kami tahu identitas Anda dibuat setelah tanggal itu," kata Arganta. "Kami juga tahu tidak ada material meteor di lokasi benturan. Apa pun yang jatuh malam itu tidak tertinggal di dalam cekungan."

Rainhard mengangkat pandangan. "Karena objek yang kalian cari adalah saya."

Lucia menarik napas pelan. Detak jantung Arganta meningkat, sedangkan milik Luthfi justru melambat. Rainhard tidak tahu mana yang lebih buruk.

"Anda jatuh dari langit?" tanya Lucia.

"Saya melewati sesuatu yang menyerupai ruang kosong, kemudian terlempar ke hutan."

"Dari planet lain?"

"Dari Onphalla. Saya tidak tahu apakah kalian akan menyebutnya planet, dunia, atau dimensi."

Arganta bersandar sedikit ke depan. "Dan Anda bukan manusia."

Rainhard menatap ketiganya bergantian. Jika mereka menyerang, meja kayu di hadapannya dapat digunakan sebagai penghalang. Jendela berada terlalu jauh. Pintu terkunci, tetapi tidak cukup kuat menahannya.

Ia memilih untuk tidak menghitung jalan keluar lagi.

"Saya vampir."

Luthfi menepuk sandaran kursi. "Nah, kan. Dedemit."

"Vampir bukan dedemit."

"Bedanya apa?"

"Saya hidup. Saya memiliki keluarga, bangsa, kerajaan, dan kewajiban yang menunggu saya pulang."

Lihat selengkapnya