Jejak dunia kuno

Aini Kumala Putri
Chapter #8

Yang Lebih Menakutkan

Raihana memandangi pesan dari Valen sampai cahaya ponsel terasa menyakitkan di matanya.

Bisa nggak kita ketemu? Minggu ini di kafe dekat rumahmu juga nggak apa-apa.

Pesan itu datang setelah berbulan-bulan balasan singkat, jeda sepuluh jam, dan berbagai usaha Raihana menunjukkan bahwa ia tidak ingin membicarakan masa lalu. Valen tetap menghubunginya seolah kesabaran dapat mengembalikan seseorang yang sudah tidak ada.

Raihana menjatuhkan diri ke ranjang dan menenggelamkan wajah pada bantal.

Ia tidak membenci Valen. Membenci seseorang yang tidak diingat bahkan terasa mustahil. Ia hanya takut terhadap semua hal yang dibawa pria itu. Nama-nama asing, perasaan lama, dan kehidupan sebelum operasi yang tidak menyisakan apa pun di kepalanya.

Selama delapan tahun, menghindar terasa seperti satu-satunya cara menjaga hidup tetap tenang.

Lalu Rainhard datang tanpa masa lalu di Bumi, dan justru memaksanya melihat bahwa hidup tidak dapat dibangun hanya dengan bersembunyi.

Raihana bangkit. Ia menyapukan rambut ke belakang telinga, membuka pesan itu lagi, lalu mengetik sebelum keberaniannya habis.

Boleh. Hari Minggu. Tapi aku cuma mau menjelaskan sesuatu.

Pesan terkirim pukul 22.45.

Kelegaan hanya bertahan sesaat. Mata Raihana menangkap waktu di sudut layar, kemudian beralih ke pintu kamar.

Rainhard belum pulang.

Biasanya motor terdengar memasuki halaman sebelum pukul sepuluh. Jika terlambat, ia selalu mengirim pesan dengan susunan kalimat terlalu formal. Malam ini tidak ada kabar.

Raihana menelepon.

Tidak dijawab.

Ia mencoba lagi sambil berjalan ke ruang depan. Pikirannya langsung mengulang suara telepon dari rumah sakit, wajah Rainhard yang pucat, dan tubuhnya yang tertutup luka setelah kecelakaan.

Panggilan ketiga tidak dijawab.

Lalu kelima.

Lalu kesepuluh.

Raihana duduk di sofa hijau dengan satu kaki bergerak tanpa henti. Ia berusaha membaca istigfar pelan, tetapi setiap suara kendaraan di luar membuat kepalanya terangkat.

* * *

Pertemuan di kantor berakhir lebih lama daripada yang Rainhard perkirakan.

Ketika lift membawa dirinya dan Luthfi kembali ke parkiran, angka digital di atas pintu sudah melewati pukul sebelas. Lucia tetap di atas bersama Arganta untuk merapikan data. Rainhard berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuh, masih merasakan sisa dingin pada lengan setelah memanggil sedikit mana di depan mereka.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bumi, tiga manusia lain mengetahui siapa dirinya.

Keputusan itu seharusnya membuatnya merasa terancam.

Anehnya, yang paling kuat justru rasa ringan yang belum berani ia percayai.

Pintu lift terbuka. Luthfi berjalan lebih dulu menuju mobil. Langkahnya tetap hampir tidak bersuara, kebiasaan yang sejak awal membuat Rainhard sulit menganggapnya sekadar pegawai perusahaan.

"Gua kira lu bakal kabur waktu gua bilang soal penyelidikan," kata Luthfi sambil membuka pintu pengemudi.

Rainhard masuk ke kursi penumpang depan kali ini. "Saya sempat mempertimbangkannya."

Luthfi menoleh cepat. "Serius?"

Lihat selengkapnya