Senyum Raihana bertahan satu detik sebelum seluruh ketakutan yang ditahannya berubah menjadi kesal.
Rainhard berdiri di ambang pintu dengan jaket masih melekat, tas kantor tersampir di bahu, dan ponsel tergenggam di tangan. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Ia benar-benar pulang, seolah seratus dua puluh tujuh panggilan tak terjawab bukan tanda bahwa Raihana baru saja menghabiskan hampir satu jam membayangkan kematiannya.
"Kenapa pulangnya lama banget?" Suaranya meninggi. "Aku telepon dari tadi, Rain. Kamu nggak bisa ngabarin satu kali aja?"
Rainhard menutup pintu tanpa melepaskan tatapan darinya. "Kamu menangis?"
"Itu bukan jawaban."
Pria itu mendekat. Sebelum Raihana sempat mundur, jemarinya yang dingin menyentuh pipi Raihana dan menghapus jejak air mata di sana. Tatapannya bergerak cepat dari wajah hingga kedua tangan Raihana, seperti sedang memastikan tidak ada luka tersembunyi.
"Ada yang masuk ke rumah?" tanyanya. "Kamu sakit?"
Kekesalan Raihana goyah sedikit. "Enggak. Aku takut karena kamu enggak pulang-pulang."
Aksen Sundanya keluar pada kata terakhir. Rainhard tampak menyadarinya. Raut tegangnya melunak, lalu ia menunduk singkat.
"Maaf. Aku seharusnya memberi kabar."
Raihana ingin terus marah, tetapi permintaan maaf itu terlalu lurus untuk dilawan. Ia hanya mendengus dan menyibakkan rambut dari sisi wajahnya.
"Rapikan diri dulu," katanya. "Habis itu kamu cerita. Jangan tidur."
"Aku tidak berniat tidur."
"Bagus. Soalnya kalau kamu tidur, aku siram."
Rainhard menatapnya sejenak, mungkin sedang menilai apakah ancaman itu sungguhan. "Dengan air?"
"Sama panci-pancinya sekalian. Sana."
Sepuluh menit kemudian, Rainhard kembali mengenakan kaus hitam dan celana rumah berwarna merah. Rambutnya masih sedikit basah. Ia duduk di sofa hijau, mengangkat satu kaki, lalu menghadap Raihana sepenuhnya.
Raihana ikut memutar tubuh. Di sandaran kursi, mukena yang dikenakannya untuk salat Isya masih terlipat rapi. Ponselnya ia letakkan telungkup di meja agar pesan Valen tidak mengganggu lebih dulu.
"Aku bertemu Arganta dan Luthfi," kata Rainhard. "Ada seorang peneliti bernama Lucia bersama mereka."
Jari Raihana yang sedang merapikan ujung bantal berhenti.
"Mereka tidak sekadar mengajakmu bicara, kan?"
"Mereka menyelidikiku. Mereka menemukan identitas yang tidak terdaftar, rekaman dari hutan, dan hubungan antara kemunculanku dengan benda yang jatuh pada tujuh Oktober."
Udara ruang santai mendadak terasa lebih dingin. Raihana tahu identitas buatan Rainhard tidak akan bertahan selamanya, tetapi ia selalu membayangkan mereka masih memiliki waktu. Berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun. Bukan malam ini.
"Kamu bilang apa ke mereka?"
Rainhard mengalihkan pandangan ke jendela. Kebiasaan itu sudah Raihana kenal. Ia melakukan hal yang sama ketika menyembunyikan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
"Bahwa aku datang dari Onphalla."
"Cuma itu?"
"Dan bahwa aku vampir."
Raihana mencengkeram lengan Rainhard. "Kamu ngaku? Begitu saja?"
"Tidak begitu saja. Luthfi terlebih dahulu bertanya apakah aku monster."
"Terus kamu jawab iya?"
"Aku bertanya apa arti monster baginya."
Raihana memejamkan mata. Tentu saja. Di bawah ancaman terbongkar, Rainhard masih sempat mengubah interogasi menjadi diskusi definisi.
"Mereka melakukan apa setelah tahu?"
"Arganta menawarkan bantuan untuk mencari sumber energi magis. Ia juga mengajakku berteman."
Raihana membuka mata. "Berteman?"
"Itu pula yang kutanyakan."
"Aneh."
"Aku tahu."