Arganta berhenti dua anak tangga di bawah ayahnya.
Neven sengaja berdiri lebih tinggi. Kebiasaan kecil itu tidak pernah berubah sejak Arganta masih terlalu muda untuk memahami bahwa kekuasaan dapat dibangun dari hal sesederhana posisi berdiri.
Rambut kecokelatan mereka hampir sama. Tinggi badan, bahkan bentuk bahu mereka terlalu mirip untuk disangkal. Arganta membenci kemiripan itu lebih dari tatapan para pegawai yang sering menyebutnya penerus sempurna.
Seorang penerus bukanlah seorang anak. Ia adalah proyek yang belum selesai.
Arganta memasang senyum terbaiknya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa yang menghambat pekerjaanmu minggu ini?" tanya Neven.
Nada suaranya datar, nyaris terdengar sebagai pertanyaan biasa. Arganta tahu lebih baik. Di rumah ini, Neven tidak pernah bertanya untuk mencari jawaban. Ia bertanya agar orang lain sadar bahwa jawabannya sudah ia miliki.
"Tidak ada. Semua laporan sudah selesai sesuai jadwal."
"Yakin?"
"You may check them yourself."
Neven tidak menanggapi. Tatapannya berpindah ke jam bandul besar di aula. Jarum panjang menunjukkan pukul 01.58. Bandul logam bergerak dengan bunyi teratur, memotong keheningan setiap detik.
Arganta menahan keinginan untuk melihat jam tangan. Ia baru pulang lebih dari satu jam setelah jadwal biasanya. Tidak ada seorang pun di perusahaan yang berani mempermasalahkan itu. Neven bukan sedang menghitung jam kerja.
Ia sedang menghitung penyimpangan.
"Rupanya si merah cukup menarik," kata Neven.
Denyut di leher Arganta mengeras. Ia menjaga senyumnya tetap utuh.
"Saya bertemu banyak orang berambut merah."
"Hanya satu yang membuatmu pulang selarut ini."
Langkah kaki terdengar dari belakang. Seorang pengawal berusia sekitar lima puluhan melewati Arganta dan berhenti di sisi Neven. Tubuhnya besar, wajahnya tertutup brewok yang mulai memutih. Pria yang sama telah mengikuti Neven sejak Arganta kecil.
Pengawal itu tidak menatapnya. Justru itu yang membuat kehadirannya terasa seperti ancaman.
Jarum panjang mencapai angka dua belas.
Jam berdentang.
Satu. Dua.
Suara logam bergema ke seluruh aula.
"Ini peringatan," kata Neven.
"Tentang keterlambatan saya?"
"Tentang apa pun yang membuatmu lupa tempatmu."
Neven berbalik. Pengawalnya mengikuti setengah langkah di belakang. Tidak ada ancaman terbuka, tidak ada larangan menyebut Rainhard, tetapi pesan itu sudah cukup jelas.
Ayahnya tahu.
Arganta baru bergerak setelah langkah mereka hilang di lorong. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu berdiri beberapa saat dengan punggung menempel pada kayu. Senyum di wajahnya menghilang begitu saja.
Di atas meja, sebuah Alkitab kecil terletak di samping laptop. Arganta menyentuh sampulnya dengan dua jari, menarik napas, lalu mengucapkan doa singkat tanpa suara. Bukan untuk kemenangan. Ia hanya meminta agar kemarahannya tidak mengambil keputusan lebih dulu daripada pikirannya.
Setelah itu, ia membuka laci paling bawah.
Dokumen yang diterimanya enam bulan lalu masih tersimpan dalam map hitam. Tawaran kepemilikan saham yang dapat menjadikannya pemegang kuasa terbesar berikutnya di Nusantara Holdings. Di mata orang lain, itu warisan. Bagi Arganta, setiap lembar di dalamnya adalah rantai yang dibungkus angka.