Rumah ini bukan tentang bangunan dengan luas diameter persegi….
Bukan juga tentang sekedar ikatan ibu, ayah, kakak atau adik….
Rumah ini tentang territorial yang jauh di mata, namun dekat pada peta….
Dia adalah tempatmu pulang, awal dari ikatan luhur dan batin bersenyawa….~
====
17 September 2023….
Tepat pada pukul 8 pagi, Graha Widya Wisuda IPB dipadati oleh lautan manusia. Diluar area gedung, sang surya menyinari beragam jenis kendaraan yang saling menunggu agar mendapatkan tempat parkir ideal. Para pedagang bunga menebar senyuman hangat, siap untuk menjemput rezeki dan pengantar kebahagiaan para keluarga lulusan bulan ini. Begitu juga para fotografer. Mereka ikut bersemangat menawarkan jasanya pada siapapun yang memakai toga dan atribut wisuda.
“Satu, duaa,…” Cekrek!
“Bagus banget! Terima kasih banyak mas!” ucap seorang wisudawati yang menyewa jasa mereka.
“Sama-sama kak,”
Namun nampaknya, seremonial itu belum diminati Arya. Pikirannya belum bersenyawa dengan sesi potret yang banyak ditawarkan para fotografer sekitar gedung. Dirinya lebih memilih berjalan cepat di samping taman inovasi untuk mencari keluarganya, sebelum masuk untuk melaksanakan agenda wisuda.
Hingga akhirnya, mereka terlihat batang hidungnya. “Ayah, Ibu, Nadia!” ucapnya dengan lantang ke arah mobil sedan berwarna coklat.
“Nah, itu anaknya.” ucap sang ayah. Arya menambah kecepatan jalannya, melebarkan sayap kedua tangannya untuk memeluk mereka. Dan hap! Mereka berempat berpelukan erat.
“Alhamdulillah, akhirnya beres juga kamu nak.” ucap sang Ibu.
Perlahan, pelukan itu direnggangkan, “Ayo masuk, bentar lagi 8.30.” ucap sang ayah. Arya mengangguk dan membimbing mereka semua untuk masuk ke dalam gedung utama.
Namun baru melangkah beberapa jengkal, sang adik semata wayangnya, yaitu Nadia, tiba-tiba mencubitnya. “Kalau nanti pulang ke rumah, pokoknya harus traktir aku makan mie ramen. Gak mau tau! Kan aku cape juga bantuin nyari responden penelitiannya.”
Mendengar permintaan itu, Arya dan kedua orang tuanya tertawa. “Hahaha, iya juga yah. Oke siap! Yuk masuk dulu aja.” jawab Arya sambil melanjutkan langkah kakinya. Hingga sesampainya di gedung, mereka duduk di tempat yang sudah disediakan dan siap mengikuti serangkaian agenda wisuda sampai dengan selesai.
Waktu demi waktu telah berlalu, prosesi senat sampai dengan pembacaan janji para wisudawan dan wisudawati sudah terlaksana dengan sangat baik. Perlahan, satu persatu hadirin mulai keluar gedung secara bergantian.
“Kita foto-foto dulu yah! Mumpung masih disini,” pinta sang ayah. Arya mengangguk, dia memimpin keluarganya ke arah tugu koin IPB.
Sesi potret itu lumayan berlangsung lama. Untuk mendapatkan spot di depan logo IPB, mereka perlu bergantian dengan para keluarga wisuda lainnya. Baik foto selfie bersama, atau memotret diri masing-masing, semua dipuaskan dalam hari berbahagia ini. Sebagai bintang acaranya, tentu Arya meminta kepada sang adik untuk memotretnya lebih banyak.
Namun saat hendak berfoto sedikit formal dan rapih berempat, mereka mulai bingung. “Yah, aku lupa bawa tripodnya kak,” ucap Nadia dengan wajah menyesal.
Arya hanya menghela nafas, “Yah, kau ini…” Lalu ibu memberikan solusi sederhana, “Udah gapapa, pakai kamera depan dan taruh di dekat batu depan itu. Terus hidupkan timernya.”
Mendengar usulan itu, Nadia mengangguk, Dia berjalan dan mengatur kameranya. Namun saat Arya menoleh ke kanan, dirinya nampak mengenali seseorang. Mulutnya mulai terbuka lebih lebar, namun teriakan tetap dalam batas wajar, “Amanda!”
Arya sambil sedikit berlari ke arahnya. Sang adik dan kedua orang tuanya saling bertatap dan sedikit kebingungan.
Mendengar panggilan itu, Amanda melirik dan mengenalinya. “O-oh hai, Arya.”
Lalu Arya mengehentikan langkahnya di hadapan Amanda, “Eh iya, kamu wisuda juga yah? Lupa aku. kita belum foto bareng nih, lumayan buat ramein grup kita dulu.”
Amanda mengerutkan alisnya, “Loh kan aku udah cerita, pas kita ketemu di perpustakaan 2 minggu lalu untuk mengurus bebas pustaka. Masa udah lupa. Hmm,”
Arya coba mengingatnya, “Oh ya? Hmm, lupa aku. Eh boleh minta tolong bentar gak? Fotoin aku sama keluarga disana, adikku lupa enggak bawa tripod.”
Amanda melihat ke arah tugu koin, lalu melemparkan senyuman kecil. Terlihat keluarga Arya memang sudah menunggu.