2 bulan berlalu…
Akhirnya, hari dimana sebuah keputusan besar itu telah tiba. Arya telah memutuskan berhenti menjadi barista di café Askara. Tempat yang telah membuatnya mendapatkan uang tambahan yang lumayan selama 1,5 tahun terakhir itu harus dia tinggalkan untuk masa persiapan jalan impiannya yang lebih besar. Malam itu, hari terakhir dia melihat atasan dan rekan-rekan kerjanya. Arya mengumumkan secara resmi saat para pegawai menutup shift malam.
“Pak, saya pamit yah.” ucapnya pada pak Budi, sosok yang sudah menjadi supervisornya selama dia menjadi barista. Beberapa rekannya ikut berbaris menatapnya, bersiap untuk bersalaman satu per satu.
“Hmm, baiklah. Lanjutkan cita-cita besarmu itu yah. Kelak kalau sudah jadi orang besar, mainlah kembali kesini. Oh iya, gaji terakhirmu juga sudah kami transfer.” ucap pak Budi. Lalu Arya melemparkan senyuman dengan mata bercampur tatapan rasa haru, “Siap pak. Tentu saya akan selalu ingat café ini. Terima kasih untuk ilmu dan semua kebaikannya selama ini.”
Dan mereka berpelukan sesaat, disaksikan oleh beberapa rekan kerjanya. Lalu Arya menghampiri mereka semua.
“Gas, Bay, Den, pamit ye…,” ucapnya.
Bagas menyodorkan tangannya, “Semoga lancar persiapannya yak! Doain juga gue bisa lanjut S2 juga suatu saat nanti.”
“Aamiin! Semoga ada jalannya yah gas.” jawab Arka.
Bayu dan Deni pun silih berganti memeluknya, “Kalau pulang ke Indo tetap main kesini yah.” kata Deni. Namun Bayu menyanggah, “Yee, dia betah disana nanti. Akan banyak bule yang membuat dia gak balik lagi ke Indonesia.” Mendengar itu, keheningan malam terisi oleh gelak tawa bahagia.
“Hahaha, bisa aja. Insyaallah gue akan sering balik. Lagipula, sampai mati nanti, IPB dan Indonesia akan tetap jadi rumah kita semua kan?”
“Betul itu guys,” sahut pak Budi yang ikut menghampiri. “Udah-udah, waktunya pulang. Arya mau cepat-cepat persiapan.”
Arya tersenyum dan merekatkan jaketnya. “Kalau begitu, saya izin pamit yah. Wassalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…” Dengan diakhiri senyuman dan lambaian tangan, Arya berbalik dan beranjak jalan ke parkiran. Dilihatnya pukul 11 malam di jam tangannya, membuat dia segera mengayuh sepedanya dan bergegas istirahat untuk kepulangannya besok.
Tiba pukul 8 pagi, Arya sudah siap mengemas semua barangnya. Dirinya memberikan kunci kamar pada pemilik kosan dan pamit undur diri. Beberapa kucing yang sering ditemuinya tak lupa dia elus sambil membisikan kata perpisahan.
“Yen, jaer, aku pergi dulu ya. Semoga bisa lihat kalian lagi suatu saat nanti. Sehat-sehat yah kalian semua.” ucapnya pada 2 kucing di depannya. Arya juga menatap sepedanya. Namun karena sudah begitu berkarat, nampak dia tidak tertarik untuk membawanya ke rumah.
“Mau gimana lagi, memang sudah waktunya sepeda itu menjadi usang. Semoga tukang rongsokan mengangkutnya,” gumamnya sambil menggendong tas ransel.
Arya berjalan ke samping jalan raya. Dia sejenak membuka ponselnya dan menuju aplikasi taksi online. Meski jarak tempuh dirinya berada dengan rumahnya di Bintaro sektor 2 akan sangat memakan biaya, dia tetap memutuskan itu untuk efisiensi tenaga dalam membawa barang bawaannya.
Tak sampai 10 menit berlalu, mobil yang di dapatnya telah sampai di hadapannya. “Pasanggrahan ya a?” tanya sang supir dari jendela yang baru terbuka. “Betul pak, sektor 2.”
Arya bergegas ke bagasi belakang, menaruh semua bawaan yang sudah dikemasnya dari waktu pulang kerja terakhirnya hingga sekitar jam 1 malam.
“Sip, sudah semua pak.”
“Siap a, ayo masuk.”
Dalam perjalanan, sejenak dia bernostalgia dengan semua yang masuk dalam pandangannya. Bogor telah menjadi tempatnya tumbuh dengan baik, membawa dia menjadi manusia dengan ilmu pengetahuan yang cukup tinggi dari banyak masyarakat lainnya. Namun dengan rasa belum puasnya terhadap ilmu, dia harus pergi lebih jauh.
Hanya beberapa menit berlalu dalam perjalanan, Arya tertidur pulas.
“Si Aa ini keliatan cape ya,” gumam sang supir yang melihat tidur Arya dari kaca di atasnya. Sang supir tersenyum dan kembali fokus pada rute perjalanan.
Setelah hampir 2 jam menempuh perjalanan, akhirnya Arya sampai di depan halaman rumahnya. Namun saat berhenti sesuai titik, Arya tidak sepenuhnya bangun. Dia sedikit masih terpejam, mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi.
“A, udah sampai sesuai lokasi.” ucap sang supir. Arya beranjak bangun, mengusap muka yang masih tergambar rasa kantuk. “Oh, udah sampai ya pak?” lalu dia keluar dan bergegas ke bagasi mengambil seluruh barang bawaannya. Sang supir membantu membawa beberapa barang bawaannya hingga depan pagar rumahnya.
“Ini pak ongkosnya. Kembaliaannya ambil aja,” Arya menyodorkan 3 lembar uang 100 ribu. Melihat itu, sang supir sedikit kaget, “Eh a? Tarifnya cuma 260 loh,”
Arya tersenyum dengan masih sedikit mengantuk, “Gapapa pak, ini rezeki bapak.” Lalu sang bapak terharu dan menjawab, “Ya ampun, terima kasih banyak ya nak Arya. Semoga rezekinya tambah lancar.”
“Aamiin, terima kasih doanya pak.”
Saat hendak membuka pagar, tanpa sengaja Arya mendengar sang supir bergumam, “Alhamdulillah, ada jalan buat nambah si kakak kuliah.”
Mendengar itu, sontak dirinya tergugah untuk bertanya lebih lanjut. “Oh anaknya kuliah pak?”
Sang supir terkejut sejenak, lalu menjawab, “Eh? i-iya A. Sekarang baru mau masuk kelas 3 SMA. Dia cerita nanti punya cita-cita masuk perguruan tinggi negeri. Jadi, saya harus lebih giat lagi kerjanya untuk biaya dia nanti.”
“Target mau masuk Universitas mana pak?” tanya Arya yang belum jadi masuk rumah.
“Semoga sama kayak A Arya, ke IPB. Dia memang suka pertanian. Sering ikut ibunya di kebun kalau lagi pulang kampung.”