Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #4

Makna Inti Dari Rumah

8 Juli 2024….

Berselang 2 pekan kemudian, para penerima LPDP kembali berkumpul di gedung Danadyaksa untuk melangsungkan persiapan keberangkatan. Entah ada berapa ribu jumlah penerima tahun ini. Namun ruangannya sungguh sesak. Ribuan calon penerima harus terbagi dalam beberapa ruangan. Ini sudah dikurangi dengan peserta dari luar pulau Jawa yang mengikuti agenda melalui saluran Zoom meeting.

Kali ini, kehadiran Menteri Keuangan-pak Syarif, serta ketua Dewan Riset Nasional-pak Setyo, akan menjadi fokus utama dalam agenda pertemuan ini. Tepat pukul 9 pagi, agenda langsung dimulai.

“Selamat pagi semua,” ucap Dhafa, seorang staff dari Dewan Riset Nasional yang dipercaya menjadi moderator agenda ini.

“Selamat pagi…,”

“Yang pertama, selamat untuk kalian semua yang sudah dipastikan lolos pada program LPDP tahun ini. Tepuk tangan dong!”

Aneka suara tepukan tangan bergemuruh, memecah heningnya ruangan sejak acara dimulai.

Dhafa melanjutkan, “Oke teman-teman, tahap selanjutnya adalah agenda persiapan keberangkatan para penerima. Karena program ini merupakan agenda rutin nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, juga upaya pembangunan kualitas sumber daya manusia, maka sudah selayaknya para sosok yang berwenang pada program ini turut hadir di hadapan kalian. Kepada pak Syarif, selaku menteri keuangan nasional. Waktu dan tempat disilahkan...”

Dhafa memberikan mic-nya kepada pak Syarif. Lalu beliau berdiri, bergerak ke depan meja untuk menjadi tujuan utama dari setiap mata para penerima beasiswa.

“Assalamualaikum… Selamat pagi putra-putri terbaik bangsa.”

“Waalaikumsalam…,”

“Pertama, kalian merupakan anak-anak pilihan dari hasil seleksi yang begitu ketat. Ada ribuan mimpi yang belum sampai pada titik kalian. Tapi entah karena keberuntungan, atau memang sudah suratan takdirnya kalian yang berada disini, saya sangat menaruh harap pada semua ide dan gagasan yang sudah kalian tuliskan. Tapi saya pun pernah merasakan, hadirnya impian tanpa modal yang menopang hanyalah omong kosong. Diluar sana, impian besar yang membuat kalian merinding setiap harinya itu mungkin tidak akan ada yang membantu. Dan di situlah seharusnya negara memang hadir. Kami harus menjadi wadah dan tempat terbaik agar semua impian indah kalian mampu tercapai. Dari saya singkat, selamat berkelana ke negeri lain. Belajarlah dengan sangat baik. Ambil setiap ide dan inspirasi yang kalian temui. Dan bila waktunya sudah tiba, tolong kembalilah untuk menyebarkan manfaat kepada masyarakat. Waassalamualaikum…,” lalu mic dikembalikan pada Dhafa

“Waalaikumsalam…,”

“Baik, terima kasih pak Syarif. Mari tepuk tangan kembali untuk menteri keuangan kita.” ucap Dhafa yang kembali membuat ruangan menjadi bergemuruh. “Lalu selanjutnya kepada pak Setyo, selaku ketua Dewan Riset Nasional. Waktu dan tempat disilahkan...”

Tepuk tangan kembali bergemuruh. Pak Setyo maju ke depan meja, menjadi titik utama pandangan dari ribuan para penerima beasiswa.

“Assalamualaikum…,”

“Waalaikumsalam…”

“Baik, sebenarnya secara inti bahasa, kurang lebih yang disampaikan pak Syarif sudah mencangkup awalan ucapan yang ingin saya keluarkan. Maka dari itu, saya coba memberikan gambaran lebih spesifik. Sesuai keinginan dan arahan presiden yang ingin membawa bangsa dan negara ini mengalami kemajuan, kami selaku badan yang menjadi penopang dari program ini bersuara lantang untuk menambah kuota penerima LPDP tahun ini. Tanpa perlu berdebat, kita pasti sepakat bahwa pendidikan layak menjadi prioritas untuk setiap rakyat. Tapi sebenarnya, sudut pandang kami sebagai badan yang menaungi riset ilmiah lebih dari itu. Kami memandang bahwa penambahan kuota penerima memang sejalan dengan banyaknya masalah di dalam negeri. Baik persoalan politik, ekonomi, sosial, hingga sumber daya alam, semua saling bermuara pada kebutuhan sebuah kompetensi SDM yang unggul. Maka dari itu, kelak jika proses studi kalian sudah selesai, kembalilah untuk saling bersinergi. Ceritakan ide dan gagasan kalian yang terinspirasi dari proses pendidikan yang sudah kalian tempuh. Saya percaya, ilmu bukan soal materi dalam kelas semata, tapi juga soal interaksi pada hal-hal asing yang mampu memperkaya khazanah wawasan kalian agar inovasi menjadi lebih kompleks. Akhir kata, selamat berjuang. Semoga niat kalian selalu dalam bimbingan Tuhan yang maha kuasa. Wassalamualaikum….”

“Waalaikumsalam….” gemuruh tepuk tangan kembali mengudara. Pak Setyo mengembalikan mic pada Dhafa. “Baik sebelum mengakhiri pembukaan dari agenda persiapan keberangkatan ini, barangkali ada yang mau bertanya terlebih dahulu? Kami buka untuk 3 pertanyaan.”

Dari ruangan yang besar itu, terlihat beberapa acungan tangan tegak menjulang ke atas langit. Meskipun peserta yang lain antusias, Arya hanya diam. Tak ada pertanyaan apapun dalam benaknya.

“Apa yah? Gak ada sih,” gumamnya sambil melihat para penanya diberikan mic oleh Dhafa.

Namun setelah mendengar 2 pertanyaan awal, tak ada yang spesial. Hanya sekedar pertanyaan teknis lebih lanjut, juga tentang bagaimana cara melakukan koordinasi dengan kedutaan besar dan komunitas pelajar Indonesia. Semuanya dengan mudah dijawab oleh pak Syarif dan pak Setyo.

“Baik, mungkin pertanyaan terakhir.” Dhafa melihat sosok berkacamata di tengah barisan para hadirin. “Oke, silahkan mas.”

“Terima kasih untuk kesempatannya. Perkenalkan saya Afrizal dari kota Bandung.”

“Oke Afrizal, silahkan pertanyaannya…”

Lihat selengkapnya