Pukul 10.00 WIB
26 Agustus 2024….
Akhirnya waktu itu telah tiba. Satu pekan sebelum rutinitas akademik dimulai, Arya pamit menuju negeri kincir angin. Selama masa jeda, seluruh aspek administratif seperti visa dan passport sudah berhasil dibuat. Koper hitam dalam genggamannya, tas ransel yang menemaninya dari masa skripsi berada di punggungnya. Kedua orang tuanya, Nadia, juga ditambah sang nenek yang menggunakan kursi roda ikut melihat keberangkatan sang calon magister.
“Bu, yah, aku pamit dulu. Mohon doanya selalu,” ucap Arya sambil memeluk mereka berdua. “Selalu nak, jaga diri baik-baik. Bila sakit jangan memaksakan aktivitas berlebih. Cari segera teman asal Indonesia, dan berkawan baik dengannya.” ucap ibu. Arya mengangguk, nasihat itu memang pondasi untuk hidupnya di masa yang akan datang.
“Kak, berkelana yang puas. Tapi kelak, jangan lupa tanggung jawab dengan pilihanmu ini. Jaga juga ibadahmu, cari komunitas yang menunjang aspek spiritual juga.” ucap sang ayah. Arya kembali mengangguk, dia paham makna nasihat itu ke arah mana.
“Siap!”
Lalu dipeluknya adik satu-satunya. Namun kali ini, dia yang memberikan nasihat. “Ayo semangat belajarnya biar masuk UI tahun depan. Nanti kakak pulang, di rumah harus udah ada almamater kuning yah!”
Nadia merespon dengan semangat, “Siap! Bantu doa dari Belanda yah!” lalu semuanya tertawa dengan ceria. Dan terakhir, Arya bersalaman dengan sang nenek. Ibu yang berinisiatif untuk membawanya.
“Nek, aku pergi lanjut kuliah dulu yah. Sehat terus ya nek,” ucapnya sambil mencium tangan kanan sang nenek. “Iya cu, ibu udah ngasih tau. Semoga berkah perjuangannya, bawa manfaat untuk masyarakat di masa depan.”
Sungguh nasihat yang tidak disangka. Neneknya memang bukan orang biasa. Sosoknya seorang yang berpendidikan dan pernah mengenyam bangku kuliah di era 70an.
“Aamiin, semoga yah.”
Waktu keberangkatan akan segera tiba. Perlahan, langkah Arya menjauh. Dia sejenak melambaikan tangan kanannya ke belakang. Lalu semuanya sama membalas dengan lambaian tangan juga.
Berjalan menuju lantai 2 bandara, Arya memegang passport dan bookingan tiket pesawat. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, koper dan seluruh barang bawaannya masuk pada mesin X-ray. Dilanjut berjalan ke tempat konter check-in Garuda Indonesia. Setelah mendapat boarding pass, Arya melakukan pemeriksaan pada barang-barang miliknya untuk masuk bagasi.
Dilanjutkan dengan melangkah ke ruangan berikutnya untuk scanning barcode boarding pass melalui security check. Disini, barang bawaannya di Screening sebelum masuk ke kabin pesawat.
Satu persatu, semua proses sudah terlewati dengan baik. “Finally, tinggal nunggu di gate akhir.”
Sambil menunggu sekitar 1,5 jam lagi, Arya menunggu di kursi kosong yang di sekitarnya terdapat orang-orang yang juga sedang menunggu. Dengan nuansa yang ramai, dia memperhatikan setiap yang lewat di hadapannya. Dari semua yang melintas di depan matanya, kehadiran anak kecil selalu jadi perhatiannya.
“Gokil yah mereka. Masih kecil udah rasain naik pesawat.” gumamnya sambil tersenyum. Hingga beberapa menit berjalan dengan banyak melamun, sebuah pengumuman yang sudah ditunggu telah tiba. Sebuah suara yang sering disebut Final Boarding Announcement telah bersuara dengan keras.
“Mohon Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-088 tujuan Amsterdam dipersilakan masuk ke pesawat melalui pintu A12."
Mendengar suara itu, Arya berdiri dan bergegas menuju pintu yang sudah disebutkan. “Okey, bismillahirrahmanirrahim. Ya allah, lancarkan perjalanan ini, Amiin…”
Arya lalu masuk. Dan pintu perlahan ditutup. Kini, langit akan melihatnya lagi saat dia tiba di Amsterdam.
===
Di dalam pesawat, tidak banyak yang Arya lakukan. Dia hanya duduk melihat-lihat sekitar di bagian depan, atau menatap para pramugari yang silih berganti lewat di samping kursinya. Adapun waktunya solat, maka dia sejenak ke toilet untuk mengambil wudhu dan melaksanakannya dengan duduk. Sesekali juga dia melihat jendela, barangkali ada hal menarik yang ditemuinya.
“Hmm, lumayan nih viewnya. Seumur-umur belum pernah ngambil foto di jendela pesawat.”
Cekrek! Cekrek! Cekrek! Foto estetik yang berkomposisikan awan dan daratan yang dipenuhi lampu tertangkap pada lensa kameranya.
“Up insta story kali ya,” gumamnya. Di tekannya aplikasi Instagram, lalu pergi ke bagian kiri atas untuk upload foto yang baru tertangkap kameranya.
Namun setelah banyak memotret pemandangan dari jendela, dia menemukan ide baru. Kumpulan foto itu nampaknya akan lebih bagus untuk dijadikan dalam bentuk kolase foto.
“Edit bentar deh,” gumamnya. Namun sial, WiFi yang di awal keberangkatan terhubung, kini sedang tidak aktif. “Lah, kemana jaringan ini?”
Beberapa kali ponselnya di refresh, namun tidak ada koneksi yang hadir. Karena pada akhirnya, sebagus apapun hasil editing, tetap harus ada koneksi internet yang menjadi peran akhir untuk mendownload hasilnya.
Mengingat beberapa menit lalu seorang pramugari berjalan ke arah dapur, Arya beranjak berdiri dan berjalan ke arah sana. Saat sampai, terlihat memang ada 2 pramugari yang sedang berbincang santai.
“Halo mba, maaf mengganggu...” ucap Arya mengawali pembicaraan. Seseorang pramugari yang sedang memegang piring sejenak mematikan keran airnya, “Halo mas, ada yang bisa saya bantu?”